Jalan Baru
Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyatakan perundingan Islamabad gagal, tapi jalur diplomatik tetap terbuka -Tasnim News Agency-
Di Amerika sendiri banyak yang berdoa agar perundingan Amerika-Iran itu gagal total. Apalagi di Israel: lebih banyak lagi.
Hanya Anda --dan saya-- yang berdoa agar perundingan damai itu berhasil.
Tapi doa merekalah yang dikabulkan: perundingan di Islamabad resmi dinyatakan gagal. Total. Jalan buntu. Delegasi dari kedua negara pun meninggalkan ibu kota Pakistan tanpa saling bertemu.
Setidaknya pejabat tinggi dari kedua negara sudah berhasil menginap bersama di satu hotel yang sama.
Bukan berarti, begitu mereka pulang, perang langsung kembali meletus. Status gencatan senjata masih berlaku --sampai 10 hari lagi.
Mungkin saja, pada pukul 00.01 tengah malam tanggal 10 hari lagi bom dan rudal kembali mengarah ke sasaran masing-masing. Hancur-hancuran. Bisa lebih seru dari sebelum gencatan senjata. Mereka sudah cukup istirahat. Tenaga sudah pulih untuk memulai perang baru.
Atau, keduanya hanya saling tunggu: siapa yang memulai serangan lebih dulu. Siapa yang memulai akan mendapat penilaian negatif dari seluruh dunia.
Pun 28 Februari lalu: dunia mencatat Amerika-Israel lah yang lebih dulu menyerang Iran. Justru di saat perundingan antara Amerika-Iran mendekati kesepakatan.
Perundingan kali ini, di Islamabad itu, memang lebih sulit: Iran telanjur babak belur. Iran menuntut ganti rugi sebagai prasyarat perundingan dimulai. Tuntutan seperti itu tidak ada di perundingan sebelum perang.
Bisa jadi pada pukul 00.01 di tanggal itu nanti tidak terjadi apa-apa. Kedua belah pihak saling menahan diri. Perang 40 hari kemarin ternyata hanya menghabiskan biaya dan kepercayaan politik. Tidak ada yang menang. Yang menang hanya para sengkuni.
Apalagi belum jelas pula siapa yang akan membayar tagihan perang 40 hari itu. Rakyat Amerika Serikat? Atau Presiden Donald Trump mengirim kuitansi biaya perang ke negara-negara Arab di Teluk Parsi? Bisa jadi perang meletus lagi bila sudah jelas siapa yang membayar tagihannya.
Kemungkinan lain: gencatan senjata diperpanjang. Bisa tambah dua minggu lagi. Itu perlu. Berhubungan lawan jenis saja perlu jeda. Apalagi perang.
Selama jeda itu Amerika bisa mengumpulkan kuitansi-kuitansi pembelian senjata. Ditambah biaya operasional kapal perang dan pesawat tempur. Plus uang makan 20.000 personel selama 40 hari. Lalu bikin surat tagihan ke negara-negara Arab. Disertai perhitungan bunga dan biaya tidak terduga. Termasuk uang duka cita meninggalnya banyak tentara Amerika.
Selama jeda yang sama Iran bisa memperbaiki senjata yang rusak. Atau mengerahkan alat berat membuka bunker yang pintu masuknya dihancurkan serangan Israel-Amerika. Lalu Iran mengeluarkan senjata yang disimpan di dalamnya. Senjata itu mestinya tidak rusak. Tinggal memindahkan ke tempat lain.
Soal senjata ini sebuah media Amerika kemarin menyiarkan berita yang sangat menjengkelkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth: The Wall Street Journal.
Koran itu mewawancarai intelijen Amerika secara rahasia. Tidak disebutkan siapa nama intelijen itu dan dari divisi apa. Intinya, kata si intelijen, Iran masih memiliki banyak sekali senjata. Terutama rudal jarak menengah --bisa menyasar sampai ke Tel Aviv di Israel.
Hegseth jengkel dengan pemberitaan itu dengan alasan yang Anda sudah tahu: ia sudah beberapa kali menegaskan seluruh armada angkatan laut Iran musnah, industri senjatanya sudah punah, persediaan senjata Iran sudah habis, dan sistem komando Iran sudah tidak berfungsi.
TWSJ sendiri mewawancarai intelijen itu karena tergelitik oleh kenyataan Iran masih mampu menembak jatuh pesawat tempur Amerika. Juga masih bisa meluncurkan rudal jarak jauh dan menerbangkan banyak sekali drone. Padahal semua itu terjadi justru setelah Hegseth menyatakan Iran sudah tidak punya kemampuan militer.
Lalu apa yang dilakukan Indonesia di masa jeda gencatan senjata itu?
Presiden Prabowo diberitakan akan kembali terbang ke luar negeri. Kali ini ke Rusia.
Di dalam negeri politisi dari Partai Nasdem banyak yang melakukan perang gerilya. Sebagian sudah melakukan operasi penyusupan ke Partai Gajah PSI. Sebagian lagi ke partai penguasa: Gerindra. Sebagian lagi masih bisik-bisik.
Perang gerilya seperti itu sampai pula ke daerah-daerah.
Ketua-ketua Gerindra di daerah sering menerima telepon dari politisi Nasdem di tingkat lokal: mereka menyatakan sudah siap untuk bedol desa.
Perundingan damai di Islamabad menemui jalan buntu. Di dalam negeri politisi Nasdem mencari dan menemukan jalan baru.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 12 April 2026: Hotel Syiah
Muh Nursalim
Iran menang. Sepuluh tuntutan yg disampaikan tak perlu dinego. Langsung saja acc. Pememang berhak menentukan arah. Pecundang tinggal ngikut. Ndak setuju ya ndak pa pa. Tinggal kirim rudal saja. Ke berbagai kepentingan Amerika n Israel.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
AMERIKA MASIH FOKUS KE IRAN DAN UKRAINA,
TAIWAN DAN TIONGKOK SALING SAPA..
Dunia hari ini seperti menulis dua cerita dalam satu halaman.
Amerika Serikat masih menatap jauh ke Iran dan Ukraina. Satu tentang kecemasan. Satu tentang luka yang belum kering. Kalimatnya tegas. Nadanya tinggi. Seperti percakapan yang terlalu lama ditunda.
Sementara itu, di timur sana, Tiongkok dan Taiwan memilih cara lain.
Tidak selalu sejalan.
Tidak juga sepenuhnya berjarak.
Tapi ada isyarat. Ada sapaan. Tipis, namun terasa. Seperti dua hati yang pernah dekat, lalu belajar berbicara pelan-pelan agar tidak saling melukai.
Barangkali dunia memang butuh kontras. Agar kita tahu, tidak semua ketegangan harus meledak. Ada yang cukup disimpan dalam jeda. Dalam diam yang saling mengerti.
Dan di antara hiruk politik global, momen-momen seperti itu terasa hampir romantis. Bukan karena tanpa masalah. Tapi karena masih ada pilihan untuk tidak memperbesar jarak.
Sadewa 19
Saya pernah diminta mendamaikan 2 orang warga yg sedang berselisih. Ternyata begitu sulit. Level sulit berikutnya mungkin mendamaikan suami istri, level berikutnya lagi mendamaikan OPM, level sulit lainnya mendamaikan Gajah dan Banteng.
Mungkin itu yg dilihat oleh IRAN dan ISAM, ketika mereka sama sama perang. Mereka hanya ingin didamaikan oleh Negara dan pemimpin yg berpengalaman.
mario handoko
selamat siang bp sadewa.
next time jika bp sadewa ingin mendamaikan 2 orang. tidak perlu jauh2 berunding ke serena hotel pakistan.
cukup berunding di vasa hotel surabaya.
bayangkan. abah dan pak gm. yang sudah tidak bertemu selama 10 tahun. bisa berpelukan dan berdamai di meja makan resto xiang fu hai, vasa hotel.
Fajar Wisnu Wijayanta
Jadi ingat Agha Khan award yang diberikan untuk pemukiman pinggiran kali code Jogja . Pemukiman yang ditata oleh Bapak Mangunwijaya
Juve Zhang
F15 Milik A konvoi masuk daratan Iran tak disangka Manpad Made in Tiongkok nyasar kena satu F15 Rontok lah F15 ....konvoi langsing balik badan belok kembali....gimana sebuah Manpad yg dipanggul di bahu bisa merontokan F15???....ini kehebatan teknologi Tiongkok....mereka mencari panas mesin pesawat militer....dan Hebat nya mampu mengejar kecepatan tinggi dan boom !!!...dalam masa jeda ini Iran pesan lagi Manpad entah via negara mana ....terendus oleh intelijen A....akan ada pengiriman Manpad lagi...tentu saja Jubir T menyangkal kirim ke Iran tetapi pasti lewat negara ketiga....namanya Sohib harus dibantu supaya menang perang.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ALIRAN-ALIRAN SYIAH
DAN CABANG-CABANGNYA...
Kita sering menyebut Syiah seperti satu wajah. Padahal ia lebih mirip keluarga besar.
Ada tiga “rumah utama”.
1) Pertama, Syiah Dua Belas Imam. Ini yang paling besar. Banyak di Iran dan Irak.
2) Kedua, Ismailiyah. Di dalamnya ada cabang-cabang lagi. Seperti Nizari yang dipimpin Aga Khan.
3) Ketiga, Zaidiyah. Lebih sederhana. Banyak di Yaman.
##
Menariknya, justru di cabang-cabang itu cerita menjadi kaya.
Ismailiyah punya jalur sejarah yang berliku.
Zaidiyah punya pendekatan yang lebih dekat ke Sunni.
Sementara Dua Belas Imam membangun tradisi teologi yang sangat kuat.
Perbedaan itu bukan retak. Lebih seperti variasi nada dalam satu lagu panjang.
Kita mungkin tidak perlu menghafal semua cabangnya. Cukup memahami bahwa di balik satu nama, ada banyak perjalanan. Dan setiap perjalanan punya alasan sejarahnya sendiri.
Di situlah letak pelajarannya. Bahwa perbedaan tidak selalu harus disederhanakan. Kadang justru perlu dirawat. Agar kita tidak mudah merasa paling benar sendirian.
Juve Zhang
Suhu Xi kepada Cheng li Wun:" kemajuan bangsa T tidak bisa dibendung oleh kekuatan manapun" .... ngomong nya ke Cheng li Wun maksudnya ke Trumpet....wkwk ini permainan politik tingkat Suhu.... Jensen Huang kembali memuji ilmuwan T....kemajuan teknologi robotika T jauh melampaui A.....lagi lagi menohok penggemar A ke jurang dalam....Jensen Huang Warga negara Taiwan dan A tetapi selalu memuji setinggi langit kemajuan teknologi Tiongkok.... Jensen Huang manusia 3700 triliunan yang otaknya Masih NORMAL.....wkwk
Taufik Hidayat
Maaf sebelumnya. Terus terang saya koq gak mantap membaca judul artikel abah kali ini. Walau masih konsisten dua kata tapi koq miris . Hotel dihubungkan dengan kepercayaan pemiliknya ? Apakah kalau intecibyebatak hotel , Hyatt hotel , serathin hotel jadi hotel kafir? He he . Lagi pula walau bukan syiah khan tetap bisa menginap di sana. Ini juga membuktikan bahka yang dibanding bukan termasuk grup Serena yang milik Aga Khan.. lau mengapa penghargaan arsitektur untuk bandara Soekarno Hatta terminal 1 dan 2 tidak disebut penghargaan Syiah he he he.. apakah yang menginap mesti syiah ? Masih beda khan sama hotel syariah yang menginap harus suami istri dan menunjukan akta nikah atau KTP dengan alamat yang sama? Maaf sekali lagi nyuwun pangapunten…
Taufik Hidayat
Waduh . Kembali saya suka sedih kalau membaca tulisan Anda Sudah Tahu, karena saat pertama membaca saya belum tahu siapa pemilik Serena Hotel. Saya sendiri pertama kali mengetahui Serena Hotel itu di Kenya , yaitu di Nairobi dan juga ketika safari di Maasai Mara ada Mara Safari Serena lodge. Juga ketika safari di Lake Manyara dan Ngorongoro di Tanzania. bahkan di Stone Town di Zanzibar. Kenapa mudah diketahui sewaktu safari ? Karena banya papan petunjuk dan iklannya .. Tapi saya baru tahu siapa engkong melarat yang punya setelah baca artikel abah DI. Aga Khan dan Isnaili , wah jadi ingat perjalanan bersama penulis buku Garis Batas , Agustinus Wibowo di Atap Dunia yang bukan Tibet yaitu ke Jalan Raya M41 yang membentang di pegunungan Pamir di Tajikistan di dekat sungai Panj. Di sana kami sempat mampir ke desa desa orang Pamit yang menganut aliran Ismaili dan juga banyak sekali yayasan bantuan Aga Khan. Sekolah dan juga madrasah, bahkan sempat mampir ke rumah salah seorang pininpiannay di desa Langar , di lembah Wakhan perbatasan Tajikistan dan Afghanistan. Bahkan sempat juga mampir ke kompleks kuburan mereka. Dan Serena hotel pun ternyata ada di Tajikistan, yaitu di Khorog , ibu kota propinsi GBAO. Karena hanya kota kecil hotelnya pun kecil saja. Tapi yang lumayan mewah dan besar ada di Dushanbe , IbukotaTajikistan yang artinya Monday. Lucunya jaringan hotel Monday malah ada di Jepang, khususnya di Tokyo .. kadang semua yang ada di dunia ini saling terkait.
Mada Suradi
Wah saya mau tulis juga niac mitra pernah juara piala Aga khan.... Niac sdh bubar pemiliknya sdh gak ngurusi sepak bola , lapangan sepakbola miliknya ygbdi raya prapen yg jadi home base klub anggota Persebaya, Mitra Untag... Sdhjadi lahan jualan tanaman hias, sesekali buat even pameran, entah lukisan , bonsai... Barangkali sdh kapok ngurusi sepakbola, untungnya jika menang taruhan judi para mafia bola.... Wkwkwk
Jo Neka
Maaf Bapak Dahlan..Biarkan dia Syiah.Atau atheis sekalipun.Bagi saya tidak masalah.Sebab biasanya pemikiran Sapiens.Tidak menjadi jernih.Karena membawa² agama.Padahal baik buruk Sapiens tidak.bergantung dia punya agama.
MZ ARIFIN UMAR ZAIN
Syiah Ismailiyyah, 1000 tahun yl pernah mengambil hajar aswad selama 20 tahun. Memerangi orang yg sedang berchajji dg semboyan: bunuh orang kafir, penyembah batu.
Kelompok nya bernama Qoromithoh.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
HOTEL, IMAM, DAN
DIPLOMASI YANG MENGINAP..
Hotel kadang lebih jujur dari ruang sidang. Ia tidak berdebat, tapi mencatat siapa datang, kapan, dan dengan agenda apa. Serena Islamabad itu tampak seperti museum. Empat lantai saja. Bata merah. Gaya Mughal. Tapi isinya: percakapan yang bisa mengubah arah dunia. Ironi yang elegan.
Pemiliknya bukan sekadar konglomerat. Ia imam. Shah Karim al-Hussaini. Nama yang lebih sering terdengar di ruang spiritual, bukan di meja bisnis. Tapi justru di situlah menariknya. Hotel ini bukan hanya properti. Ia semacam perpanjangan selera, jaringan, dan mungkin—sedikit—pengaruh.
Serena bukan hotel yang ingin terlihat tinggi. Ia memilih berwibawa. Tidak menjulang, tapi mengendap. Seperti diplomasi yang baik: tidak selalu keras, tapi efektif. Bahwa Iran dan Amerika “bertemu” di bawah atap milik seorang imam Syiah, terasa seperti plot yang ditulis terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Di luar, rakyat tetap berebut bus. Di dalam, negara berebut posisi. Hotel ini diam. Tapi mungkin ia tersenyum kecil: semua tamu penting, tapi checkout tetap jam 12.
Kujang Amburadul
Saya malah senang, biar saja tulisan Abah apa adanya. Justru ini membiasakan perusuh tetap terjaga kewaspadaan membacanya, sehingga untuk memberi komentar harus berfikir banyak2.
Salam perusuh.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DIPLOMASI
DI BALIK DINDING MERAH..
Perundingan ini seperti catur kelas dunia. Tidak ada yang benar-benar ingin skakmat cepat. Semua ingin menang, tapi tetap tampak santun.
Iran datang membawa agenda jelas: uangnya kembali dulu, baru bicara lain. Amerika datang dengan wajah lebih halus: kirim wapres yang sejak awal tidak doyan perang. Ini bukan kebetulan. Ini sinyal.
Hotel mewah itu hanya panggung. Negosiasi sesungguhnya terjadi di balik kalimat-kalimat yang tidak selesai. Senyum yang ditahan. Dan jeda yang sengaja dipanjangkan.
Menariknya, kedua pihak sama-sama “mengirim harapan”. Iran kirim figur yang relatif bisa diterima Barat. Amerika kirim orang yang relatif bisa diterima Iran. Seperti dua orang keras kepala yang sepakat meminjam nada lembut.
Di sini, yang mahal bukan kopi hotel. Tapi setiap kata yang diucapkan. Salah sedikit, bisa jadi misil. Benar sedikit, bisa jadi jalan pulang.
Negosiasi bukan soal siapa paling kuat. Tapi siapa paling sabar menunda emosi.
Dan seperti biasa, dunia menonton. Sambil berharap, semoga yang pulang bukan hanya delegasi. Tapi juga akal sehat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 89
Silahkan login untuk berkomentar