Kelapa Gading
Dahlan Iskan memperhatikan penjelasan Ardianto P. Adhi tentang sanitasi di perumahan Summarecon. -FOTO: HARIAN DISWAY-
Sekolah penting, tapi ke Discovery juga bisa mendapatkan inspirasi: Summarecon Discovery. Lokasinya di Kelapa Gading, Jakarta.
Saya ke sana kemarin siang. Gratis. Siapa pun boleh masuk. Summarecon Discovery dibangun untuk menandai usia 50 tahun Kota Terpadu Kelapa Gading –sekaligus 50 tahun usia perusahaan pengembang Summarecon.
Kala itu Kelapa Gading masih rawa. Soetjipto Nagaria masih muda. Tapi ia sudah berpengalaman membangun perumahan kecil-kecilan bersama teman-temannya. Lalu memiliki ide membangun perumahan yang luas. Bukan lagi perumahan, tapi satu kawasan kota yang terpadu: semua kebutuhan dasar penghuninya terpenuhi di satu lokasi. Langkah pertamanya di rawa-rawa Kelapa Gading.

Presdir Sumarecon Ardianto P. Adhi menunjukkan prinsip-prinsip kehidupan pendiri Summarecon Soetjipto Nagarai. -FOTO: HARIAN DISWAY-
Discovery semacam museum tapi bukan museum. Ini visualisasi perjalanan 50 tahun Summarecon. Semacam bentuk rasa syukur dan laporan pertanggungjawaban selama masa kerja 50 tahun.
Saya ditemani Presiden Direktur Summarecon Adrianto P. Adhi –dan sejumlah Summareconer, sebutan untuk awak perusahaan itu. Tidak terlihat pendiri dan pemilik Summarecon: Soetjipto Nagaria dan istri, Liliawati Rahardjo.
Ulang tahun ke-50 itu memang juga diwarnai dengan pergantian generasi. Dari Soetjipto ke generasi kedua: Soegianto Nagaria dan Herman Nagaria. Hanya dua orang itu anaknya. Merekalah yang kini secara penuh mengendalikan perusahaan.
Soetjipto, 86 tahun, masih sehat. Ketika ke Summarecon Bekasi kapan itu, saya ketemu Pak Soetjipto, istri, dan anak-anaknya. Soetjipto sendiri setelah regenerasi ini hanya ke kantor sekali dalam dua minggu.

Denah ruangan-ruangan di Summarecon Discovery.-FOTO: HARIAN DISWAY-
Sebenarnya ''kaderisasi kepemimpinan'' generasi kedua itu sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu: 2015. Selama 10 tahun itu kiprah sang anak dimonitor dari dekat oleh orang tua. Mulus. Lancar. Tidak ada gejolak. Bahkan terjadi akselerasi. Lebih dinamis. Begitulah anak muda –kalau diberi kepercayaan.
"Sejak tahun 1975, sampai tahun 2015, selama 40 tahun, Summarecon hanya punya tiga proyek. Kelapa Gading, Bekasi, Serpong," ujar Adhi yang alumnus SMAN 1 Solo dan Universitas Diponegoro, Semarang.
"Hanya dalam 10 tahun terakhir bertambah enam proyek. Bandung, Bogor, Bali, Karawang, Makassar, dan Crown Gading," ujar Adhi.
Rupanya Kelapa Gading, Bekasi, dan Serpong adalah fondasi yang kuat bagi perkembangan cepat selanjutnya. Berarti Summarecon cukup sabar: perkokoh dulu tiga fondasi itu. Biar benar-benar kuat. Sampai tunggu selama 40 tahun. Agar bisa dipakai lompatan tinggi oleh generasi kedua.
Discovery terdiri dari 12 ruang pajang. Belum termasuk cafe dan toko suvenir. Salah satu ruangan penting bagi saya adalah: dipajangnya prestasi-prestasi Summareconers di situ. Prestasi itu terkait dengan peningkatan kualitas hunian. Semuanya berupa teknologi terapan. Tepat guna. Sekaligus solusi bagi masalah yang dihadapi sehari-hari di lapangan.
Misalnya: alat pengecek apakah lantai rumah di Summarecon dipasang dengan benar atau tidak. Summareconers menemukan alat seperti mainan anak-anak masa lalu: tongkat beroda. Roda itu menggerakkan alat pemukul berupa bola golf. Di mainan anak-anak yang dipukul adalah gendang mini di atas roda. Di Summarecon, pemukul itu memukul keramik di lantai.

Dahlan Iskan mencoba alat pengetes keramik buatan Summareconers.--
Maka petugas cukup mendorong tongkat beroda itu keliling lantai rumah baru. Pukulan yang digerakkan roda itu menimbulkan suara. Dari suara keramik bisa diketahui apakah di bawahnya ada rongga. Rongga itu akan menyebabkan keramik pecah di masa depan.
"Kami mendapat 15 hak paten," ujar Adhi. Sertifikat patennya juga dipajang di situ.

Dahlan Iskan mengamati foto-foto perjalanan Soetjipto Nagaria, pendiri Summarecon.--
Di Summarecon rupanya bekerja pun harus sambil berpikir. Itu pula yang pernah saya sampaikan waktu berkunjung ke proyek jalan tol tersulit di Indonesia: Semarang-Sayung –arah Demak. Melihat tingkat kesulitannya rasanya lima doktor bisa lahir dari proyek itu. Juga beberapa hak paten.
Mereka harus terus melakukan penelitian atas tingkat kesulitan yang begitu tinggi: di bawah lokasi proyek itu seperti tidak ada dasar. Hanya air dan lumpur. Sedalam apa pun. Lokasi itu seperti sudah menjadi perluasan laut Jawa ke arah selatan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan fondasi bambu yang diapungkan.
Tentu penggarapannya akan sangat lama. Mungkin karena tidak sabar kemarin beredar video seolah jalan tol Semarang-Sayung-Demak sudah bisa dilewati. Di video itu terlihat mulusnya. Juga indah pinggir lautnya. Memang akan seperti itu kalau jadi. Kelak.
Di ruang lain Discovery ditampilkan perjalanan hidup sang pendiri. Tapi Soetjipto dikenal sebagai orang yang sangat low profile. Anda sudah tahu: nama Soetjipno jarang dikibar-kibarkan. Hanya sesekali muncul di daftar salah satu dari 50 orang terkaya Indonesia.
Tapi perancang Discovery tidak habis akal. Diciptakanlah sosok Soetjipto dan istri lewat artificial intelligence. Lalu dibuatkan videonya. Misalnya saat Soetjipto-AI main tenis dan berenang. Begitulah AI bisa menggambarkan perjalanan hidupnya secara lengkap.
"Apakah beliau pernah berkunjung ke sini?"
"Tentu pernah. Beberapa kali. Sering juga membawa tamu ke sini," ujar Adhi.
"Apakah setuju dengan penggambaran dirinya lewat AI itu?"
"Beliau tidak ada komentar. Hanya senyum-senyum," katanya.

Replika makanan yang ada di kawasan Kelapa Gading di ruang Sejuta Kuliner di Summarecon Discovery.--
Dari Discovery ini saya baru tahu bahwa sejarah Soetjipto sudah amat sangat panjang di republik ini. Ia sudah keturunan ke-22 yang lahir di Indonesia –sejak nama itu belum ada. Kakek buyutnya adalah salah seorang pendiri ITB.
Soetjipto sendiri alumnus teknik kimia ITB. Ia berbuat banyak untuk almamaternya itu. Satu hektare tanah di Summarecon Bandung dijadikan pusat inovasi ITB. ITN Innovation Park Bandung Technopolis.
Pun sebagai alumnus SMA Pahoa, Jakarta. Soetjipto juga menyisihkan tanah untuk menghidupkan kembali sekolahnya yang sudah lama mati –lebih tepatnya dimatikan di tahun 1966.

Dahlan Iskan memotret Presdir Summarecon Ardianto P. Adhi. -FOTO: HARIAN DISWAY-
Pahoa adalah sekolah Tionghoa yang sangat terkenal. Larisnya maupun mutunya. Kata ''Pa'' diambil dari nama jalan di depan sekolah itu: Jalan Patekoan. Kata ''Hoa'' dari Tionghoa. Lokasinya di Jakarta Kota. Jalan Patekoan kini bernama Jalan Perniagaan. Ketika Orde Baru menutup Pahoa, gedung sekolahnya untuk SMAN 19 Jakarta. Sampai sekarang.
Pahoa didirikan di tahun 1900. Pernah dimatikan oleh Jepang: saat Jepang menjajah Indonesia.
Tapi Pahoa hanya dua tahun mati. Jepang mengizinkan lagi asal ada pelajaran bahasa Jepang.
Tapi peristiwa tahun 1966 membuat Pahoa mati panjang: mati 40 tahun.
Baru di tahun 2008, para alumnus Pahoa mendirikan sekolah itu di Summarecon, Serpong. Kembali menjadi sekolah unggulan. Sekolah tiga bahasa: Indonesia, Inggris, Mandarin. Soetjipto jadi tokoh sentralnya.
Dari 12 ruang di Discovery yang paling menitikkan air liur adalah ruang terakhir. Temanya: Sejuta Kuliner di Kelapa Gading. Anda rasakan sendiri aneka menu menggiurkan di situ. Menu imitasi yang untuk merasakan senyatanya Anda tinggal ke resto di sekelilingnya.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 4 Mei 2026: VVIP Selamanya?
Johannes Kitono
Gedung KPK. Seharusnya di IKN juga harus ada Gedung KPK dan Tahanan VVIP nya. Sekedar untuk mengingatkan supaya pejabat tidak khilaf dan korupsi. Nanti kita pantau siapa pejabat yang menjadi Tahanan Perdana KPK di IKN.Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Juve Zhang
Kalau ASN yg masuk IKN semua bertobat tak akan korupsi lagi.... rasanya rakyat VVPP Very Very Poor People ikhlas ada VVIP punya rumah sendiri istana Garuda punya tol sendiri punya Bandara VVIP....tapi jika ASN yg masuk IKN malah makin semangat korupsi nya maka kutukan dan sumpah serapahnya akan membanjiri IKN.... bukan Air hujan tapi banjir kutukan dan sumpah serapah....itu saja dari pihak yg netral IKN...
Liam Then
Kalau mau pakai sentimen primordialisme. Berapa itu biaya jalan tol fondasi bambu di pesisir Jawa? Berapa banyak mega proyek di Jawa yang pakai uang negara? Berapa banyak duit hasil alam dari Kalimantan dari dulu sampai sekarang yang masuk kas negara? Sekarang sekian tahun Indonesia merdeka, baru Kalimantan Timur dapat satu IKN dan bandara bagusan dikit, sudah dibilang PEMBOROSAN. Padahal barangnya ada.
Liam Then
Tol Semarang-Demak (Tanggul Laut/Bambu): Biayanya mencapai Rp 10 triliun - Rp 15 triliun. Hanya untuk satu ruas jalan tol yang bertarung melawan rob dan penurunan tanah di Jawa Tengah. Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh): Mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) hingga totalnya mencapai sekitar Rp 108 triliun - Rp 110 triliun. MRT Jakarta Fase 2A: Anggarannya diperkirakan mencapai Rp 25 triliun. Harga 1 Bandara Internasional di Kalimantan (Rp 4,2 T) ternyata bahkan tidak sampai setengah harga dari proyek jalan tol di atas lumpur di Jawa Tengah (Rp 10 T+). Dana Rp 4,2 triliun itu setara dengan pembangunan beberapa kilometer saja jalur MRT di Jakarta. Bagaimana? Apakah rakyat di Kalimantan berhak bandara bagus tersebut?
Gregorius Indiarto
Ngantar mandor MCU. "Kenapa harus difoto?" tanya mandor ke petugas kebersihan, di RS swasta, yang sebelum nyapu dan ngepel di dokumentasikan dulu. "Untuk laporan hasil kerja pak". " Jadi Anda tidak diawasi mandor?" "Tidak selalu pak". "Mandor Anda percaya sama anak buah ya!?, sela saya, " Beda sangat dengan mandor saya, gak percoyoan sama anak buah". "Lambe mu" sergah mandor sambil seolah-olah mau nyepak. "Jadilah anak buah yang bisa dipercaya, biar tidak selalu diawasi" "Mbel gedhes!". Beda lagi dengan cerita ""Mandor" di negeri Q. Untuk mengontrol hasil kerja anak buahnya harus dibuatkan jalan, jalan VVIP. VVIP untuk mandor, luar biasa. Seandainya, laporan kerja untuk mandor cukup lewat foto, mungkin jalan VVIP itu tidak dibuat secara "VVIP" juga. Bangunan VVIP dibuat secara "VVIP" pasti.biayanya jauh lebih VVIP. Bengkak. Met sore, salam sehat, damai dan bahagia.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja CHDI : "Bandara VVIP IKN besar sekali. Terbesar di Kalimantan. Panjang landasannya 3.600 meter. Lebar: 45 meter. Pesawat komersial terbesar di dunia saat ini, Airbus 380 bisa mendarat di situ --tidak bisa mendarat di Balikpapan yang panjang landasannya 3.000 meter." Bandara dengan runway (panjang landasan pacu bandara) terpanjang di dunia, adalah : 昌都邦达机场 (chāngdū bāng dá jīchǎng) atau Changdu Bangda Airport, di Tibet, dengan runway sepanjang 5.500 meter. Padahal kota 昌都 (chāngdū) di Tibet, bukanlah kota metropolitan. Kira-kira kenapa ya ??
mario handoko
selamat siang bpk thamrin. "diam diam menteri pu lantik mayjen tni purn arnold jadi dirjen sda." demikian berita di kompas.com. apakah terdapat udang di balik bakwan. dengan berita ada dirjen yang bandel dan muncul hitungan kerugian negara. lalu beliyo terpaksa (dipaksa?) mundur. untuk kemudian digantikan mantan jenderal. alumni akmil yang konon serba bisa. kesimpulan yang pasti adalah bandara bisa jadi vvip selamanya. namun jabatan bisa hilang sewaktu waktu.
Thamrin Dahlan YPTD
Terus terang saya kehabisan kata untuk komentar IKN seri 3. Ya sudah yang penting tetao komentar dalam rangka isi absensi hadir. Ini lebih penting seperti juga absensi setelah subuh di siaran langsung dismorning. Bukan IKN tidak penting disuasana sedikit genting. Semoga disway besok - mbesok membahas topik yang lebih hangat. Memiliki nilai manfaat untuk semua. Bukankah kita menulis kemudian membaca itu pekerjaan peradaban. Nilai tambah itulah yang wajib tersirat dan tersurat pada setiap kreasi jurnalis. Salamsalaman 3 Pena. Penasehat Penaawan Penasaran untuk Pak Mario sahabat pemerhati nurani.
Jo Neka
SERIBU TAHUN lalu saat China membangun Great Canal.Ada yang menulis seraya bertanya.Untuk apa ini? Setelah seribu tahun kemudian mantan wartawan dari ribuan kilo meter jauhnya.Menulis sambil memuji².Padahal saat itu mungkin nyawa ribuan rakyat jadi taruhannya.Aneh..Iya..Itulah tipikal Homo Sapiens
Er Gham 2
Bandara atau aktivitas ekonomi dulu yang dibangun duluan. Seharusnya mempertimbangkan aktivitas ekonomi dulu. Sehingga bisa dilihat apakah dibutuhkan bandara atau tidak. Berbeda dengan infrastruktur jalan raya. Jalan raya bisa dibangun duluan, untuk memancing aktivitas ekonomi. Walau belum ada bandara, ekonomi bisa jalan dengan apa adanya. Bisa pakai mobil, motor, atau berjalan kaki. Zaman dahulu pakai kuda atau unta. Tidak perlu kendaraan khusus ---dalam hal ini: pesawat--- serta landasan udaranya. Blunder inilah yang terjadi di bandara Kertajati.
Er Gham 2
Bagaimana mungkin berharap orang utan akan melewati jembatan satwa IKN. Tidak ada pepohonan tinggi di atas jembatan tersebut. Orang utan akan bergerak dari satu pohon ke pohon lain melalui dahan dahan pohon. Bukan jalan 'lenggang kangkung' seperti rusa, musang, beruang madu, atau babi hutan.
yea aina
Bandara vvip itu hanya sebagian kecil dari proyek ikaen. Proyek besarnya: ikaen. Pindah ibukota negara. "Jangan dihitung nilai ekonominya", rasanya wajar sebagai kalimat pembuka tulisan Ayah hari ini. Proyek ikaen itu dirancang tanpa memperhitungkan nilai ekonomi sama sekali. Lebih pas disebut proyek prestisius. Demi gengsi penguasa saat itu. Mungkin segelintir penguasa itu, hanya melihat peluang satu-satunya untuk memperpanjang kekuasaan: membangun proyek mentereng. Pun tanpa mempertimbangkan nilai ekonomi, dampak lingkungan atau bagaimana pendanaannya. Biar pewaris kekuasaan dan rakyat saja yang mikir. Kok terkesan serampangan mengambil kebijakan pemerintahan? Ya begitulah pencapaian dari seseorang yang seeing berkata: Ya gak tau..., kok tanyak saya.
Runner
Pak Dahlan kan mengamati IKN sambil jalan, sambil ngobrol, sambil berkendaraan. Tentu banyak yang luput dari pengamatan. Banyak yang waktu pengamatannya kurang pas. Coba, diulangi lagi pengamatannya namun untuk waktu yang cukup lama. Sekian hari gotu. Sebelumnya mengamati sudah pegang data-data awal. Lho… kok kayak nyuruh. Eh iya maaf, kalau begitu utus saja para perusuh untuk mengamati IKN. Dibiayai tentu plus sangu perjalanan. Kayaknya banyak yang bersedia jadi pengamat. Oh iya, pak DI kan wartawan ya. Wartawan sah saja membuat tulisan yang memancing opini dan komentar.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Udin.. "Jalan tol dari IKN ke bandara VVIP sedang dikerjakan. Saya lewat jalan umum yang kecil: 40 menit. Kalau jalan tol sudah jadi mungkin hanya perlu waktu 20 menit. Jalan tol dan bandara hanya untuk VVIP?" Begitu tulis pak Dahlan.. ### Kalau menurut saya tidak boleh. "Sebentar" aja gak boleh. Apalagi "selamanya".. Nama Bandara VVIP harusnya juga diganti. Misalnya dengan nama: "Bandara Joko Widodo - Yusuf Kalla".. Ini hanya misal lho ya. Terserah "Pesuruh" yang memutuskan. Bukan "Perusuh"... Soal di dalamnya nanti ada ruang VVIP itu bisa dan boleh saja..
Waris Muljono
Belajar dari Kertajati, yg rencananya utk menggantikan bandara husein sastranegara bandung. Akhirnya dr sisi komersil dua-duanya "mati". Pemprov jabar merasa terbebani dgn perawatan kertajati. Pemkot bandung merasa dirugikan dgn ditutupnya penerbangan komersil di bandung. Tapi utk IKN mungkin ada solusinya. Bandara vvip di IKN sekaligus akan dijadikan pangkalan udara TNI AU. Sehingga bandara sepinggan tetap beroperasi seperti biasa, bandara vvip masih punya wajah dimata pihak yg kontra.
Muh Nursalim
Semakin jelas. Bandara proyek. Hla iya. Kalo ada bandara Sepingan yang dekat. Kenapa pula buat baru. Mending memaksimalkanyang ada. Kalau kurang mewah ya dimewahin sekalian yang ada itu. Ini pikiran orang ndeso. Seperti saya. Tapi bagi dunia usaha. Ndak prospek. Karena ada yang diproyekkan.
Irary Sadar
IKN di bangun bandara. Bandara VVIP. Dulu tidak percaya. Betapa Borosnya. Sekarang Saya percaya, betapa ini pemborosan. Memang begitu Abah. Si ambisius itu boros hanya untuk warisannya. Biar dikenang sepanjang masa. Iya, sih, di kenang sebagai Raja tukang boros. Sementara di kalimantan masih banyak jalan lintas yang berkubang mirip sawah. Di Kepulauan Riau masih banyak desa nelayan yang tidak ada listrik. Di daerah timur masih banyak sekolah atapnya begitu disentuh, langsung ambruk. Masih banyak kesejangan sosial dan kemiskinan di negeri tercinta. Masih banyak PR untuk membangun desa 3T. Eh dia malah memaksa membangun Ibu Kota Nokoha. Pengganti Ibukota Konoha. Sungguh tidak punya nurani dan sense of crisis...
Jokosp Sp
Datang siang hari lewat bawah jembatan satwa itu tidak terlihat satupun yang menyeberang. Ya mungkin masih pada makan siang dan istirahat, dalam pikirannya. Sore setelah sholat ashar, ketika pulang masih ada dalam pikirannya dan rasa penasarannya, "Pelanin mobil....dan STOP sebentar". Buka jendela...coba mentelengi area rumput di atas jembatan itu "tidak satupun ada yang lewat". "Ya sudah kita pulang dulu. Coba malam kamu ke sini lagi. Bawa senter yang paling terang jangan lupa. Lihat apakah ada yang lewat di atas jembatan layang itu" perintah Pak Boss ke Kang Sahidin. Kang Sahidin tahu, tapi sangat sulit bisa menolak. Tahu kalau jarak Samarinda ke IKN itu tidak dekat, cuma 113 kilo meteran dan perlu waktu tempuh 2 - 3 jam tergantung kondisi kepadatan jalannya. Apalagi malam Minggu yang jelas padat merayap ketika keluar masuk Samarinda. Ketika akhirnya syubuh datang langsung ditanya: apa ada hasilnya?. "Zong Pak Boss. Sejam dua jam ulun hadangi dari imbah maghrib sampai imbah isya' kadakda jua saekong nang lewat. Kopi satremos sudah bakarik habis, maka ulun langsung haja bulik" sambil kelelehan dan menahan kantuknya. Pak Boss: "Ya sudah, mungkin kalau ada yang lewat barangkali mahluk halus yang kangen sama rumahnya. Rumah yang hilang, yang sudah digusur alat-alat berat jadi jalan tol dan gedung-gedung". Kang Sahidinpun menimpali: "Sepertinya Pak Boss masih keingatan haja nang pernah viral: tempat jin buang anak". Pak Boss akhirnya: "sudah sana batampungas/ basuh muka ikam".
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
FEASIBILITY JANGAN JADI FORMALITAS.. Iya. Mestinya sudah ada feasibility study yang matang. Bukan sekadar map tebal di rak, lalu dilupakan. Studi itu harus jujur. Angkanya dingin. Tidak ikut-ikutan panas politik. Bandara itu bukan monumen. Ia hidup dari trafik. Dari roda pesawat yang rajin menyentuh landasan. Kalau sepi, hitungannya sederhana: biaya jalan terus, pendapatan seret. Rasio jadi cerita sedih. Kertajati sudah memberi pelajaran. Megah dulu, sibuk belakangan. Bahkan sempat seperti rumah besar tanpa tamu. Kini mulai bergerak, tapi ongkos belajarnya mahal. VVIP IKN? Fungsinya memang khusus. Bukan komersial? Tapi tetap perlu hitung-hitungan manfaat. Tidak semua bisa dibenarkan dengan kata “strategis”. Strategis juga harus efisien. Kalau tidak, jadinya strategis tapi tekor. Itu seperti beli mobil sport untuk ke sawah. Soal pajak, keluhan itu wajar. Rakyat diminta disiplin. Sistemnya kadang belum. Di situ kepercayaan diuji. Dan kepercayaan itu, sekali retak, susah ditambal. Akhirnya sederhana. Bangun boleh. Megah silakan. Tapi angka harus bicara. Bukan gengsi yang berisik.
Jokosp Sp
Yakin seyakinnya, yang ahli ngitung dan mengnalisa untung ruginya itu banyak. Cuma penguasa itu sering gag mau pakai. Malah yang dipakai itu kekuasaan dan esmosinya. Bagi bawahan yang pinter jadi pilih "mending nurut daripada mati sumber ngisi perutnya". Gitu kenyataan yang dihadapi.
Bahtiar HS
Dlm industri penerbangan, rasio biaya pemeliharaan thd pendapatan mrpkn indikator efisiensi yg sangat diperhatikan krn sifat industrinya yg memiliki margin keuntungan tipis (thin margins). Sering disebut Maintenance Cost to Revenue Ratio (Rasio Biaya Pemeliharaan thd Pendapatan). Semakin kecil persentasenya mestinya makin baik. Utk bandara aset utamanya adl infrastruktur fisik (landasan pacu, terminal, sistem navigasi) bukan armada bergerak. Biaya pemeliharaan biasanya sktr 7% dari total biaya ops. Biaya ops sktr 62% dari seluruh biaya bandara. Paling besar gaji pegawai. Bandara memiliki sumber pendapatan yg beragam (pendapatan aeronautika dari maskapai dan non-aeronautika spt ritel/parkir dll). Biasanya rasio pemeliharaan vs pendptn bandara 5-8%. Lha kalau VVIP IKN yg jarang didarati. Paling2 pas Upacara 17 Agustus. Itupun pesawat presiden yg gratis mendarat di situ. Selebihnya kosong. Mungkin lbh banyak dilewati orang hutan cari mangsa. Kan berarti boncos? Besar utang daripada tiang. Eh? Trus manfaatnya apa selain hanya utk gagah2an, coba? Itu pun pakai pajak yg kita bayarkan. Yg kemarin kita laporan SPT, tp coretax-nya yg Rp1,2T banyakan down pas digunakan. Ktn itu banyak yg terlambat submit. Yg salah situ, kita udah byr pajak, hrs laporan, kena denda pula jk terlambat. Mestinya kita yg bayar, situ yg kasih laporan, dipake apa aja. Kalau telat, situ yg kena denda? Kok kita yg bayar, kita yg laporan, kita yg kena denda. #maaf-jadi-blakrak-ke-pajak-krn-msh-kesal
Bahtiar HS
Betul sekali Pak @Joko Sp. Pas lewat waktunya makan siang, tak satu pun orang utan lewat. Demikian juga pas waktunya adzan Ashar, juga tak ada mereka yg lewat. Mungkin lagi pada shalat dan dzikir ke masjid. Kelihatannya kalau pengin ketemu orang utan mesti lewat jembatan satwa itu pas mereka lagi nyari makan siang atau malam. Siapa tahu karena makanan mereka di dlm hutan sudah habis atau harganya naik gila2an akibat perang Iran vs Amis, mereka nyari yg bs ditangkap sebagai kudapan gratis buat isi perut di jembatan satwa. Bisa dicoba mengutus Kang Sahidin pd waktu2 prime time itu ke Jembatan Satwa dan lihat esok habis Shubuh kembali utuh atau tinggal nama :))
Taufik Hidayat
Wah setelah baca artikel ini saya baru tahu bahwa bandara VVIP IKN lebih besar dan panjang (landasannya) dibandingkan bandara BPn sehingga menjadi yang terbesar dan terpanjang di Kalimantan. Bahka Indonesia . Kalau benar 3600 meter panjangnya sudah sama dengan dua landasan di CGK (punya 3 landasan). Hanya kalah dengan Zhang Nadim di Batam yang lebih 4 km. Tapi apakah a akan jadi VVIP selamanya ? Sepertinya pemborosan dong. Kalu IKN dirancang Ma jadi ibukota benaran seperti Washington DC, Canberra atau juga Islamanad dan Brasilia , maka akan ramai penduduknya dan juga akan ada penerbangan langsung ke LN seperti SIN (Singapura ) , KUL (Kuala Lumpur ), BWN ( Bandar Seri Begawan) BKI (Kota Kinabalu ) , MNL (Manila ) dll sehingga mau kesana tidak usah ke CGK dulu . Pertanyaannya apakah di IKn juga akan dibangun kedutaan besar? Kapan akan dibangun dan kapan dubes akan pindah ? Kalau gak ada kedubes yah bukan ibukota benaran .
Bahtiar HS
Pak @Taufik Hidayat, Kalau mmg Bandara VVIP IKN landasannya 3600 m shg bs didarati oleh Airbus A-380 itu, saya akan minta anak saya Muhammad (kelas 2 SD) mendaratkan pesawatnya di sana. Ia paling suka menerbangkan A-380 (karena paling besar dan megah) dan mendarat di berbagai bandara. Bandara VVIP IKN pasti belum pernah ia singgahi. Sejak usia TK dia sdh keranjingan dengan bus simulator dan flight simulator. Rute bus di Jawa sudah ia telusuri. Dari Surabaya hingga ke Merak. Kalau pesawat sy blm pernah nanya. Hanya tipe pesawat yg biasa ia ceritakan. Dan A-380 yg paling sering disampaikan. Ruang kokpitnya, besar dan jml rodanya, lebarnya dsb. Sy blm pernah naik A-380. Tp waktu diperkenalkan pertama di Singapore Airshow 2006 atau 2008 sy lihat dari dekat. Wkt itu jadi urusan perush tempat sy kerja. Wkt foto di bawah pswt itu, rodanya aja setinggi saya. Jmlnya 22. Pswt superjumbo yg pernah sy lihat. Kapasitas penumpang maks 853. Itu orang semua. Kok ya kuat mabur ya? Itu dlPak Gub Rusdi Mas'ud naik Range Rover 8.5M bersama istri dan 17 anaknya yg udah dewasa sekaligus! Ngoyo dan berisiko :))
Kalender Bagus
Pas kemaren pulkam idulfitri touring lewat darat ke Aceh, ternyata beberapa sungai besar di sumatera setali tiga uang dengan sungai mahakam. Banyak kapal tonda yang menarik tongkang berisi gunungan batu hitam. Konon kabarnya, beacukai ga bisa menyentuhnya karena terkendala peraturan. dan konon lagi, peraturan barunya lagi dibuat Pak Purbaya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TRANSAKSI BISNIS SENJATA BULAN MEI 2026 DI PASAR TIMUR TENGAH.. Langit Timur Tengah tak pernah benar-benar sepi dari deru mesin jet. Ketegangan antara Iran dan Israel yang menyeret AS bukan sekadar urusan kedaulatan. Di balik kepulan asap ledakan, di baliknya ada "promosi dan penjualan" senjata. 1) Pada 3 Mei 2026, Israel resmi memberikan persetujuan final untuk membeli dua skadron jet tempur baru, yakni F-35 dan F-15IA. Nilai transaksinya fantastis, mencapai Rp320 triliun lebih jika dikonversi. 2) Pada 1 Mei 2026, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan alutsista ke sekutu regional seperti Qatar, Kuwait, dan UEA senilai Rp141 triliun. 3) Jika ditambah dengan kontrak pertahanan Arab Saudi pada awal tahun, total pembelian alutsista sekutu Timur Tengah dari AS pada 2026 ini telah melampaui Rp200 triliun. ### Alutsiata yang laku keras antara lain adalah: Rudal Patriot. <<>>
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DUA BANDARA, SATU PERTANYAAN.. Ada satu kalimat yang “mengganggu”. Bukan salah. Tapi menggoda untuk dipikir ulang. "Kalau bandara VVIP IKN dibuka untuk umum, ia akan seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma. ### Masalahnya bukan di bandara. Tapi di “kue”. Jakarta itu kue raksasa. IKN masih adonan. Belum jadi. Bahkan ovennya pun masih dipanaskan. Di sinilah letak dramanya. Infrastruktur sudah kelas dunia. Tapi penumpangnya belum tentu kelas “ramai”. Dua bandara di kota yang belum padat, itu seperti bikin dua mal di kampung yang masih cari parkiran saja susah—bukan karena penuh, tapi karena belum ada yang datang. Pilihan akhirnya sederhana. Dibuka untuk umum, tapi siap sepi. Atau tetap VVIP, tapi siap dikritik. Yang viral justru ini: kita sering membangun dulu, berharap kehidupan menyusul. Kadang berhasil. Kadang… bangunannya lebih dulu kesepian. Dan bandara, seperti cinta, tidak cukup megah. Harus ada yang datang dan pergi. ### Kasihan Angkasa Pura.. Kalau bandaranya sepi..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PAK DAHLAN NULISNYA GAK SEPERTI BIASANYA: KURANG KONSENTRASI? "Kalau bandara VVIP itu kelak untuk umum maka akan seperti Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusumah. Tapi kue ekonomi Jakarta luar biasa besar --untuk ukuran Indonesia. IKN tidak dirancang menjadi sebesar Jakarta. Berarti punya dua bandara akan berlebihan. Atau bandara VVIP IKN akan tetap hanya untuk VVIP di masa yang panjang". Di atas adalah potongan kalimat pak Dahlan di CHDI hari ini dalam 1 alinea. Saya yakin maksud alinea itu adalah: 1) Jika bandara VVIP di IKN kelak dibuka untuk umum, fungsinya akan mirip dengan Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusumah di Jakarta. 2) Namun, skala ekonomi Jakarta sangat besar—bahkan luar biasa untuk ukuran Indonesia—sehingga wajar memiliki lebih dari satu bandara. 3) Sementara itu, IKN sejak awal tidak dirancang sebesar Jakarta. 4) Karena itu, keberadaan dua bandara di sana berpotensi berlebihan. 5) Pilihannya jadi dua: tetap membuka bandara VVIP untuk umum dengan risiko underutilized. Atau mempertahankannya khusus untuk VVIP dalam jangka panjang. 6). Sehingga ibarat buka warung di kampung kecil, tapi jumlah kursinya seperti restoran di Sudirman—rame belum tentu, sepi hampir pasti terasa. ### "Kadingaren. "Pak Dahlan bikin kalimat numpuk-numpuk. Pendek tapi agak membingungkan. "Mungkin karena tidak konsentrasi. "Kepikiran Persebaya..
Sugi
Dari dulu saya selalu ingin bertanya Bah. Apakah pernyataan saya ini b sudah benar adanya. Bahwa seluruh fasilitas terbaik untuk para pemimpin negara (istana, bandara, jalan tol, dls) yang disediakan dari uang rakyat sejatinya adalah bentuk investasi jangka panjang dari rakyat untuk para pemimpinnya, agar mereka yang kelak dengan menjabat dan memegang amanah tsb dapat mengembalikan segala privilese yang ada untuk kesejahteraan bagi seluruhnya rakyatnya. Dari, oleh, dan untuk rakyat. Pemimpin sekadar perpanjangan tangan dan kaki rakyat atau kalo pakai bahasanya Bung Karno: hanya penyambung lidah rakyat. Apakah benar begitu adanya Bah? Apakah ada cacat logika di dalamnya? Apakah ada yang salah dalam susunan kata2 saya?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 39
Silahkan login untuk berkomentar