Adu Cepat

Adu Cepat

--

Kalau benar Febrie Adriansyah akan mengajukan praperadilan, saran saya: ajukan cepat-cepat. Kalau bisa satu jam lagi. Mantan jaksa agung muda tindak pidana khusus itu sudah menyatakan ke aktivis Said Didu akan melawan habis-habisan (Baca Disway kemarin). Salah satu bentuk perlawanannya lewat praperadilan.

Kalau betul begitu Febrie (atau pengacaranya) harus balapan dengan pengacara seperti Boyamin Saiman atau aktivis seperti Ronald Loblobly. Mereka bisa lebih cepat mengajukan praperadilan.

Kalau sampai keduluan ketua MAKI dan ketua MOSAK itu, Febrie bisa tidak punya peluang mengajukan praperadilan.

Anda pun bisa ikut balapan. Anda juga punya legal standing untuk mengajukan praperadilan. Ayo cepat. Bergerak. Jangan hanya omon-omon. Siapa yang tercepat mengajukan praperadilan akan dapat hadiah khusus dari saya: gelas istimewa Piala Dunia.

Awalnya gelas itu saya niatkan sebagai hadiah untuk ''Perusuh" Disway. Tapi saya bisa alihkan ''atas nama perusuh'' memberikannya sebagai hadiah untuk Anda.

Gelas itu mahal sekali. Saya membelinya sampai dengan mengorbankan akidah. Itu gelas untuk minum bir. Indah sekali. Jadi rebutan selama Piala Dunia di Amerika-Kanada-Meksiko.

Begitu banyak orang membeli itu. Saya lihat sendiri waktu menonton Piala Dunia di stadion New York New Jersey. Bahkan ketika ada orang meninggalkan gelas itu setelah menghabiskan birnya banyak orang yang memperebutkannya. Sampai saya melongok: apa yang mereka rebutkan. Setelah tahu: saya pun beli bir –hanya untuk mengincar gelasnya. Saya bawa pulang.

Lebih mahal lagi: gelas itu saya ajak jalan-jalan ke Niagara, ke Toronto, ke Montreal, ke Quebec City, ke Seoul, ke Beijing, dan ke Vladivostok-nya Russia.

Tak apalah itu untuk Anda yang berhasil menjadi yang pertama mengajukan praperadilan dalam kasus Febrie Adriansyah.

Menurut Boyamin, siapa pun Anda, pastilah punya legal standing. Memang dalam KUHAP yang baru –pun menurut KUHAP yang lama– praperadilan hanya bisa diajukan oleh korban atau pengacara korban. Tapi dalam sebuah kasus korupsi Anda bisa ikut mengaku sebagai korban. Apalagi kalau Anda seorang pembayar pajak. Pajak apa pun: PBB, PPN, BPKB kendaraan, pajak ke salon kecantikan, pajak makan di restoran bahkan pajak ke panti pijat sekali pun.

Topik yang paling hot pastilah soal sah tidaknya pelimpahan perkara itu dari polisi ke kejaksaan agung. Anda bisa berdalih itu tidak sah.

Banyak alasan bisa Anda gunakan: berkas itu pasti belum lengkap. Syarat pelimpahan, menurut KUHAP, berkasnya harus sudah lengkap. Termasuk hasil pemeriksaan terhadap saksi utama: Febrie Adriansyah. Anda bisa berasumsi Febrie belum pernah diperiksa sebagai saksi. Tidak mungkin. Kecuali ada BAP (berita acara pemeriksaan) afdruk kilat.

Anda bisa minta tokoh-tokoh terkenal sebagai saksi ahli. Misalnya guru besar yang mantan Menko Polhukam Mahfud M.D. Calon Wapres dari PDI-Perjuangan di Pilpres 2024 itu jelas menyatakan pelimpahan itu tidak sah.

Anda juga bisa minta kesaksian guru besar hukum plus aktivis hebat dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Zaenur Rohman. Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat-UGM) itu juga satu pendapat dengan Mahfud.

Target Anda sebaiknya sederhana saja: agar hakim menyatakan pelimpahan perkara tersebut tidak sah.

Kalau sampai hakim mengabulkan berarti Febrie harus kembali diperiksa oleh Mabes Polri. Rasanya meski Anda mempraperadilankan Koprs Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Mabes Polri lembaga yang dipimpin Irjen Pol Totok Suharyanto itu akan senang-senang saja.

Misalkan Anda kalah Mabes Polri akan senang.

Misalkan Anda menang pun Mabes Polri akan senang.

Maka tidak perlu sungkan-sungkan. Anda justru membantu Mabes Polri.

Bagaimana kalau Febrie yang lebih cepat mengajukan praperadilan? Tentu saya yang kecewa: kok hadiah saya tidak laku. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 15 Juli 2026Febrie Loblobly

Edi Sampana

Febrie Adriansyah atau Febrie Ardiansyah ? Kalau yg terakhir, nanti orang menyangka mantan Jampidsus itu urang Banjar, Kal Sel he he he. Padahal Sidin orang Riau ?

Rikki Sitorus

Untuk menganalisa apakah ini sudah tipping pointnya korupsi, sebenarnya bisa dilihat dari sumber penyebab terjadinya korupsi. Di Indonesia korupsi byk jadi modal untuk biaya politik. Jadi selama sistem demokrasi/pemilunya seperti ini, korupsinya bakal jalan terus utk modal politik. Yang muncul hanya korupsi tumpangannya aja. Korupsi yang numpang di korupsi yang lebih besar. Tipping point yg sesungguhnya perlu di tunggu itu di sistem pemilunya. Rakyat bisa memilih yang benar-benar bersih. Calon yang tersedia juga benar-benar bersih. Pemimpin itu gambaran org-org yang dipimpin.

Wilwa

@Hendri. Walaupun tak ada revolusi namun transisi kekuasaan di sini bisa mengorbankan ratusan ribu bahkan konon jutaan korban jiwa. Contoh terkenal adalah balas dendam atas terbunuhnya Ahmad Yani oleh SEW. Padahal belum tentu PKI yang membunuhnya, bisa jadi justru yang kelak berkuasa yang membunuhnya melalui proxy. Tapi SEW gelap mata oleh kebencian dan kemarahan serta dendam membara atas terbunuhnya orang yang sangat berjasa dalam karirnya lalu tampil di depan memimpin pembantaian ratusan ribu orang yang diduga PKI. SEW populer di kalangan mahasiswa kala itu karena SEW melindungi mahasiswa berdemo untuk melengserkan Presiden yang SEW anggap bertanggungjawab atas terbunuhnya AY. SEW juga populer di kalangan ormas keagamaan terbesar yang ikut membantu SEW dalam “pemberantasan” PKI. Saking populernya SEW di mata rakyat kala itu maka menimbulkan ketakutan tersendiri bagi calon Presiden berikutnya bahwa kelak SEW yang akan menggantikan Sang Presiden yang hendak “dilengserkan”. Karena itulah kemudian SEW ditarik dari lapangan dan akhirnya “dibuang” untuk menjadi pemimpin akademi militer di Magelang. Dan dari Akmil Magelang kelak lahir 2 Presiden berikutnya yang Anda semua sudah tahu. Yang masih menjadi misteri adalah apakah SEW akhirnya sadar bahwa dia telah dimanfaatkan untuk memuluskan seseorang berkuasa? ☕️

Hendri Ma'ruf

Tipping Point yang dimaksudkan dalam tulisan edisi pagi ini yang memperteguh tulisan Sabtu 11 Juli 2026 belum akan terjadi karena: ada asumsi dasar yang tidak kita sadari yang bakal menjadi penghambatnya. Asumsi dasar yang tidak disadari itu, karena implisitnya, adalah: Hal yang menghambat terwujudnya tipping point adalah karena pada dasarnya orang Indonesia tidak bisa melakukan tindakan serentak (secara sosial) yang frontal atau drastis atau revolusioner. Kemerdekaan RI yang diproklamasikan itu bukan Revolusi. Bahwa perjuangannya ada jelas ada. Tapi lebih bersifat perang di lapangan yang terjadi di banyak garis depan. Itu adalah perjuangan kemerdekaan. Proklamasi terjadi karena memanfaatkan momentum kekosongan kekuasaan penjajah. Sedangkan pemberontakakan G30S tahun 1965 adalah gerakan pemberontakan yang sebagian orang bilang itu kudeta. Tahun 1998, bukan gerakan revolusi karena digerakkan awalnya oleh para mahasiswa yang disusul kerusuhan di sana sini (ada upaya merekayasa kerusuhan) sampai Presiden kala itu menyatakan mundur. Budaya bangsa Indonesia yang sangat dipengaruhi budaya Jawa tidak mengenal gerakan massal masyarakat yang berjenis revolusi. Sedangkan tipping point itu menandakan adanya gerakan arah balik atau putar haluan yang sifatnya adalah revolusioner. Jadi, karena itu, menurut saya tipping point yang dimaksudkan dalam tulisan pagi ini, menurut saya belum akan terjadi.

Kujang Amburadul

Tipping point, adalah suatu titik waktu, dimana terjadi perubahan sebagai awal perbaikan seperti yang kita harapkan, dari keburukan akibat adanya korupsi. Pada sistem operasi komputer (windows), ada yang namanya "Restore Point". Dimana kalau operasi komputer kita kacau, kita bisa kembalikan ke salah satu titik yg kita buat saat sistem operasi sedang bagus2nya dan lancar. Nah dalam perjalanan bangsa ini, adakah presiden kita yang pernah membuat satu titik Restore Point, untuk kita kembali ke jaman itu pas "sistem operasi" bangsa ini sedang bagus2nya dan lancar? Ada. Itulah beliau, Bapak Pembangunan kita dengan senyum misterinya. Pak Harto. Restore Point-nya adalah - Enak jamanku tokh?- Namun, setujukah kita semua, kalau kita kembalikan sistem operasi negara ini ke titik (tipping point) yang dibuat oleh eyang ini? Saya kembalikan ke Abah dan para Perusuh.

Zakaria Chen fu

sebutkan satu sektor saja yang tidak ada korupsinya jika bisa saya kasih hadiah.baju disway yang di sponsori pak dahlan

Thamrin Dahlan YPTD

"Saya akan lawan" . Ya, lawanlah Pak Febri. Anda orang hukum pasti paham bin khatam seluk beluk proses dijadikan tersangka sampai perizinan rumah dan asset di geledah aparat hukum. .Pra Peradilan itulah ruang hak warga negara membela diri. Awak tertawa terbahak setengah geli pun ada rasa sedih membaca curhat Abah. Kenapa Said Didu bukan saya yang di telpon Febri. Perusuh pasti punya tanggapan spesial perihal banding bandingke dengan Abah kita dengan kiprah Said Didu . Spanyol maju ke Final , cara mainnya persis "persebaya" passing bola tidak ada yang lepas dan semangat boneknya ada disana. Calon Juara peluang 60 % mengalahkan Argentina atau Inggris. Salamam Salamun

Herry Isnurdono

Abah DI ini naif atau polos, sedikit kecewa kenapa Said Didu yg ditelp. Febrie, mantan Jampidsus. Kenapa bukan Abah DI yg mantan Menteri BUMN era SBY. Jelas2 ini rangkaian cerita gang Makassar. Said Didu ini operator JK (Mantan Wapres), salah satu dari gang Mks, ada Menhan SS, yg menjagokan Febrie, calon Jaksa Agung. Wakil Ketua DPR Dasco punya calon Jaksa Agung, salah satu petinggi di Kejagung, iparnya Dasco. Menhan SS penanggung jawab Tim Penertiban Kawasan Lingkungan Hutan dan Tambang. Febrie sebagai Jampidsus jadi Ketua Pelaksana. Said Didu ngaku orang merdeka. Jadi oposisi. Di panggil Prabowo bertemu dan berbicara. Ge eR lah si Didu, dikira mau dikasih jabatan. Terakhir diajak Kantor Staf Presiden (KSP) ke Papua. Beberapa bulan lalu diajak Mentri Pertanian ke lapangan (sama2 dari Mks). Jika Febrie mau ajukan Pra Peradilan, itu hak TSK. Kortas Tipikor tidak gegabah dan bodoh. Begitu banyak saksi dan barang bukti. Febrie dijadikan TSK, ibarat dikunci oleh Polri, karena kasus dilimpahkan ke Kejagung. Biar tidak diotak atik statusnya.Yg terang Febrie belum ditahan. TSK lainnya sudah ditahan. Febrie ada dimana ? Masih misterius....jelas sudah dicekal pihak Imigrasi. Kita tunggu Kejaksaan Agung utk mentutaskan kasus ini. Polri & Kejagung sudah periksa kadar emas dari barbuk kiloan emas yg disita. Sepertinya cerita Abah DI utk kasus Febrie ini masih bersambung. Abah DI masih sibuk cari nomer HP Febrie, mau diajak ngobrol di Podcast Abah DI. Biar perusuh Disway puas dan senang.

Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)

Tak apalah Mabes Polri typo -walau dari pengalaman mendampingi client WNA BAP di Mabes Polri, mereka cukup sering typo tentang nama WNA. Tahun 2014, seorang news anchor di salah satu TV India, dipecat karena salah baca berita dengan menganggap presiden China adalah kaisar ke-11. Xi Jinping dibaca sebagai Eleven Jinping. XI = 11, angka Romawi, pelajaran math zaman SD. Tidak salah sih dgn cara pikir India, tapi murni tidak dibenarkan, bagi Partai Komunis China.mungkin karena saat itu Xi baru 1 tahun jadi presiden China, masih kurang viral namanya.

TM

ini ngeri, ngeri banget.. karena dibuat seperti cerita sinetron.. seperti ada pahlawan, ada kambing hitam, ada yang dikorbankan.. padahal semuanya garong uang rakyat, milyaran, trilyunan.. dan kita hanya bisa menonton, baca berita, mungkin bahkan kasihan pada satu pihak.. kalaupun gemes ya hanya sampe gemes.. padahal klo kita ktemu maling sendal, salah2 bisa digebukin sampai masuk ICU, mo bilang sampai mati gak tega.. ini abah malah bikin ini kayak cerita novel "fredy s" (pasti banyak yang tahu siapa).

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PENGAWAL TAK BOLEH LELAH... Saya akan kawal terus penanganan kasus ini," ujar Loblobly. Loblobly tidak pernah takut. Ia sudah sering diancam di soal laporan korupsi yang lain. "Saya yang justru takut: jangan-jangan telepon saya berdering. Tapi aman. Telepon saya selalu silent mode. (Begitu tulis pak Dahlan di CHDI hari ini). ## Kalimat terakhir itulah yang paling mengena. 1) Ada yang memilih mengawal. 2) Ada yang memilih melawan. 3) Ada pula yang memilih mengamati. Semuanya sah, selama tetap berada di koridor hukum. Keberanian melaporkan dugaan korupsi patut dihargai. Keberanian membela diri juga merupakan hak setiap warga negara. Keduanya justru memperkuat prinsip negara hukum. Yang tidak boleh adalah rasa takut mengalahkan kebenaran. Humor khas Pak DI tentang silent mode menjadi penutup yang cerdas. Telepon boleh dibisukan. Hati nurani jangan. Sebab pemberantasan korupsi memerlukan banyak "pengawal". Bukan pengawal orang, melainkan pengawal integritas. Jika semua tetap konsisten, transparan, dan taat hukum, publiklah yang akhirnya menjadi pemenang.

Irary Sadar

Sama, dong. FA mau ke praperadilan, hari ini pun khabarnya Boyamin Saiman akan mempradilankan pelimpahan FA ke kepolisian. Ini karena belum-belum di proses, tiba-tiba FA sudah di antar ke kejkasaan oleh Polisi. Kan aneh. Itu barang bukti dan penamgkapan bagaimana kelanjutannya..?

Irary Sadar

Beda dong konsep pengacara dengan Jaksa. Lagipulan Si pengacara tidak mau di bayar, tapi hanya minta tanah. Hahaha. Ini kan dibayar juga. Nah si FA sudah makan gaji terus mau minta bonus..? Wkwkwkwk. Lha itu kan kerjaan dia. Sekarang ini banyak yang merasa harus dapat lebih, padahal itu sudah kewajibannya. Contohnya Pholisi, lapor kehilangan di tindaklanjuti dong, kan kerjaan dia. Tapi sekarang kalau tidak ada 'bonus' itu laporan masuk ke tong sampah. Contoh lain. Korban Lakalantas, motor atau mobilnya di selamatkan di Kantor Pholisi. Selesai perkara mau ngambil itu barang, pasti bayar 'bonus' dulu... Masalah pemberian bonus, gak semudah itu. PNS gak bisa bonus seenaknya. Jika ikutkan itu, nanti semua PNS yang sudah bekerja Hebat ( padahal itu memang kerjaannya), sudah dapat gaji eh, minta bonus lagi... Kita boleh simpati dengan hasil kerja FA, tapi tentu tidak juga menyetujui sifatnya yang tamak haloba. Memakai semua cara untuk mengumpul pundi-pundi harta Qorun nya...

Muin TV

Tentang Febri Ardiansah Banyak orang menganggap Febri Ardansah adalah koruptor besar. Tapi mereka lupa, bahwa jasa Febri juga besar. bahkan boleh dibilang besar sekali. Kata orang, kejaksaan adalah pengacaranya negara. Jadi, kalau negara ini berkasus dengan seseorang, maka yang membela negara adalah kejaksaan. Teman saya, anaknya jadi pengacara, menangani kasus sengketa tanah, luasnya kurang lebih 10 ha. Kata bapaknya, "anak saya kalau menangani kasus tanah, gak minta bayaran. Mintanya tanah aja, untuk kerja bapaknya." Rupanya menang dia. Dia pun minta 1 ha tanah dan dikasih sama kliennya. Terus, apa hubungannya dengan Febri? Mantan Jampidsus ini, berhasil mengembalikan 3 juta hektar kebun sawit ke negara eh ke Agrinas. Apa balasannya? 1 ha kebun pun gak ada. 1 ha kebun sawit, menghasilkan 2 juta rupiah per bulan. Kalikan 3 juta hektar, 6 trilyun per bulan yang dikasihkan Febri untuk Agtinas itu. Kalau fair, minimal Febri dapat 1000 ha kebun sawit. Belum lagi uang cash 11 trilyun yang diberikan Febri untuk negara ini. Dulu, waktu aku kerja jadi agen properti. Gaji pokok Rp. 1,5 juta. Bonus 2,5% dari penjualan rumah. Kalau Febri dapat bonus 2,5% dari 11 trilyun, setidaknya dia mengantongi 275 milyar rupiah. Jadi, dia tak perlu lagi menyimpan uang di brankas, cukup di rekening bank saja. Karena itu duit halal. Tapi memang negara ini tak pernah menghargai orang-orang yang berjasa. Jadi, ya... begitulah. Prabowo yang diserahi uang 11 trilyun pun, cuma cengengesan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TANIMBAR, TIGA KALI SEHARI.. Saya ikut tersenyum membaca kalimat Pak Dahlan, "Perusuh Disway belum ada yang ke Tanimbar." Saya perusuh. Bedanya, saya sudah sering "ke Tanimbar" tiga kali sehari. Selama 8 tahun. Pagi. Siang. Sore. Bukan naik kapal. Bukan pula naik pesawat. Melainkan menumpang gelombang radio HF dengan ketukan morse: Titik dan garis. Dengan kecepatan 270 huruf per menit. ## Pada era 1970-an hingga awal 1980-an, saat menjadi operator morse Telkom Ambon, salah satu kantor morse yang rutin saya hubungi adalah Saumlaki, pintu gerbang Kepulauan Tanimbar. Berita datang. Berita dikirim. Hampir setiap hari saya ke Tanimbar melalui morse, meski kaki saya belum pernah menapak tanahnya. Kini jasa telegran yang memanfaatkan teknologo morse itu telah menjadi bagian dari sejarah. Teknologi morse dan radio HF pun sudah digantikan serat optik, satelit, dan internet. Cepat, canggih, nyaris tanpa jeda. Namun ada yang tidak tergantikan. Kenangan. Dulu Tanimbar saya jangkau lewat bunyi "tit... ta... tit...". Sekarang orang menjangkaunya dengan sentuhan jari di layar. Teknologi berubah. (Saya juga sudah berubah "ding"..)

Siswanto Elha

Manusia bertahan bukan karena KUAT tapi karena nalurinya tak mengenal kata menyerah. Apalagi dibelakangnya ada keluarga yg dilindungi harkat martabatnya, emas 74KG yg menerangi masa depannya, berkoper-koper vulus yg menyemai kekuasaan. 1 kata LAWAN

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 113

  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • yea aina
    yea aina
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • yea aina
      yea aina
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Liam Then
      Liam Then
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • yea aina
      yea aina
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Eksan Susanto
    Eksan Susanto
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • yea aina
      yea aina
  • Tivibox
    Tivibox
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • TM
    TM
  • Runner
    Runner
    • Runner
      Runner
  • pak tani
    pak tani
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Tivibox
      Tivibox
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Surja Wahjudianto
    Surja Wahjudianto
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Thamrin Dahlan YPTD
      Thamrin Dahlan YPTD
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Eka Handoko
    Eka Handoko
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • kambing hitam
      kambing hitam
  • Prieyanto
    Prieyanto
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Rikki Sitorus
    Rikki Sitorus
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Grahaland
    Grahaland
  • Grahaland
    Grahaland
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • sigit
    sigit
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • sigit
    sigit
  • yohanes endrawan
    yohanes endrawan
  • heru santoso
    heru santoso
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • riansyah harun
    riansyah harun
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Ulil Abshor
    Ulil Abshor
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Sulaspin
    Sulaspin
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • alasroban
    alasroban
  • rid kc
    rid kc
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Sugi
    Sugi
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
    • ra tepak pol
      ra tepak pol
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi

Berita Terkait