WA ke Anak

WA ke Anak

 

Banyak sekali pertanyaan seperti ini: mengapa angka kematian akibat Covid-19 begitu tinggi di Indonesia? Sampai 8 persen? 

Bahkan ada yang menyebut prosentase kematian itu tertinggi kedua di dunia? Bahkan yang pertama?

Saya tidak setuju dengan cara menghitung seperti itu. Prosentase itu terlihat tinggi karena diperbandingkan antara jumlah penderita dengan yang meninggal dunia.

Di Italia prosentasenya memang tinggi tapi ada penjelasan ilmiahnya. Demografi di Italia menunjukkan jumlah orang tua sangat besar. Terbanyak kedua setelah Jepang.

Sedang di Indonesia? Semua orang tahu: demografi kita didominasi anak muda. Sampai muncul istilah Indonesia itu mendapat bonus demografi.

Saya memilih, logikanya yang dibalik.

Begini: prosentase yang meninggal dunia akibat Covid-19 sudah disepakati antara 2 sampai 3 persen.

Maka kalau di Indonesia yang meninggal 25 orang, dan 25 orang itu adalah 3 persen, berapa 100 persennya?

Kira-kira 800 orang bukan?

Berarti yang sudah mengidap Covid-19 di Indonesia kira-kira 800 orang. Bukan 300 orang seperti data yang ada.

Berarti ada sekitar 500 penderita yang tidak diketahui siapa mereka, di mana mereka, sudah menularkan pada siapa saja. 

Tapi perhitungan saya ini juga hanya sebuah spekulasi. Jangan terlalu dipegang. Anggap saja ini sebuah kewaspadaan: bahwa kemungkinan besar banyak penderita yang masih beredar ke mana-mana.

Sebagai pendatang baru di grup Covid-19 sebenarnya kita punya keuntungan lebih:

  1. Tiongkok sudah berhasil mengatasinya. Tiongkok sudah tidak ”rakus” lagi akan peralatan pencegah Covid-19. Kamis kemarin adalah hari pertama tidak ada lagi pasien baru di Wuhan. Sudah 0. Memang ditemukan penderita baru di tempat lain, tapi semuanya berasal dari luar negeri.
  2. Tiongkok punya kapasitas besar dalam memproduksi masker, baju pengaman, dan alat tes Covid-19. Dulu, begitu wabah ini muncul, Tiongkok mendorong banyak pabrik untuk menambah kapasitas. Saat ini ada 7 pabrik pembuat alat tes virus Covid-19 di sana.

Dalam situasi menguntungkan seperti itu mestinya kita bisa meningkatkan angka penduduk yang dites. Agar semakin banyak diketahui siapa yang sebenarnya sudah tertular. Untuk segera dilakukan tindakan.

Informasi yang saya peroleh dari Tiongkok: kapasitas produksi peralatan tes di sana, sekarang ini, mencapai 1,6 juta set sehari. 

Sekali lagi, sehari. 

Kapasitas seperti itu yang tidak ada ketika awal-awal Tiongkok diserang wabah. Kini mereka sendiri sudah tidak perlu jumlah yang banyak. Mereka bisa sepenuhnya ekspor. Termasuk ekspor masker dan baju pelindung bagi dokter/perawat secara besar-besaran.

Dari segi ketersediaan fasilitas di pasar internasional kita diuntungkan.

Saya sendiri sangat ingin melakukan tes Covid. Saya adalah orang yang rawan terkena virus. Saya berada di kategori semua golongan yang rawan: saya tua, saya banyak di kerumunan, tiap hari saya minum obat justru untuk menurunkan kekebalan tubuh saya.

Tapi saya tahu kemampuan tes di RS kita sangat terbatas. Saya juga belum termasuk yang mendesak untuk tes: tidak ada tanda-tanda terkena Covid-19.

Biarlah peralatan tes itu lebih diprioritaskan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Yakni mereka yang sudah jelas ada tanda yang kuat --meski pun banyak juga yang terkena Covid-19 tanpa ada tanda-tanda. 

Yang tanpa tanda itulah yang merasa aman. Beredar ke mana-mana. Menjadi penular.

Maka saya pribadi memutuskan untuk mengirim WA ke anak saya. Bunyinya begini:

”Abah akan lakukan tes hematologi darah lengkap untuk melihat leukosit dan limfosit. Jika leukosit tinggi atau di bawah normal,  dan limfosit Abah tinggi, berarti Abah harus mulai curiga.

Kalau normal, ok. 

Kalau tinggi atau tidak normal Abah akan lanjut CT scan paru-paru. Untuk melihat apakah ada bercak atau tidak.

Kalau tidak, ok.

Kalau ada bercak barulah berusaha lanjut ke tes Covid.

Itu untuk kehati-hatian.

Baiknya banyak orang melakukan itu agar tidak semua antre tes Covid yang akan tidak terlayani.

Rasanya cukup Abah sendiri saja dulu yang tes, kalau ada kecurigaan barulah anggota keluarga kita yang lain.

Ok?”.

Anak Wedok saya pun mengirimkan petugas pengambil darah dari lab langganan saya.

Hasilnya?

Bukan soal keterbukaan informasi tapi Anda sudah bisa menduga sendiri. (dahlan iskan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber:

Komentar: 157

  • Rony Joe
    Rony Joe
  • Fotopedia
    Fotopedia
    • Habibie
      Habibie
  • Damar
    Damar
  • Rudiansyah JA
    Rudiansyah JA
  • Bam'shary
    Bam'shary
  • Abby
    Abby
    • Abx
      Abx
    • Babaravi
      Babaravi
  • bram
    bram
  • Maccamadinah
    Maccamadinah
  • Djalu
    Djalu
  • J-bubble
    J-bubble
  • Abu
    Abu
    • Attar
      Attar
  • DN. andi
    DN. andi
  • JK
    JK
  • Joyo
    Joyo
  • kalista
    kalista
  • Biasa
    Biasa
  • Plonga plongo
    Plonga plongo
  • Harisantoso
    Harisantoso
  • Ayuwa
    Ayuwa
  • Bektos
    Bektos
  • minji
    minji
  • pungkas nurrohman
    pungkas nurrohman
  • Iwed
    Iwed
  • anthony
    anthony
  • Man Su.
    Man Su.
  • Ttm
    Ttm
  • rahmadi heru
    rahmadi heru
  • Zuber Qomaruddin
    Zuber Qomaruddin
  • Jimo
    Jimo
    • Jimo
      Jimo
    • Irwanto Ali
      Irwanto Ali
    • Dadi Jabar
      Dadi Jabar
  • Henie
    Henie
  • maspri.id
    maspri.id
  • Baby
    Baby
    • pakwind
      pakwind
  • labsg
    labsg
  • kined
    kined
    • Nyimak
      Nyimak
    • Liam
      Liam
  • Khentut
    Khentut
  • kined
    kined
  • kined
    kined
    • DN. andi
      DN. andi
  • Ibun Unie
    Ibun Unie
  • Obat HIV untuk covid19
    Obat HIV untuk covid19
    • DN. andi
      DN. andi
  • Ali Nurdin
    Ali Nurdin
  • Denik
    Denik
  • cak mbm
    cak mbm
    • kined
      kined
  • munawir syadzali
    munawir syadzali
  • Sugiri
    Sugiri
  • Rusbianto
    Rusbianto
  • Jembret
    Jembret
  • wiriyadhika
    wiriyadhika
  • Ahmad karni
    Ahmad karni
  • sri wedari
    sri wedari
  • Meri Wardana
    Meri Wardana
  • sri wedari
    sri wedari
    • DN. andi
      DN. andi
  • djoko heru
    djoko heru
  • petjoet
    petjoet
    • DN. andi
      DN. andi
    • Ibnu Shonnan
      Ibnu Shonnan
    • Alat tes covid19
      Alat tes covid19
  • Nurkolis
    Nurkolis
    • petjoet
      petjoet
  • DN. andi
    DN. andi
  • Sok tau
    Sok tau
    • petjoet
      petjoet
    • Zuber qomaruddin
      Zuber qomaruddin
  • Ficky
    Ficky
  • Rizky Soejono
    Rizky Soejono
  • Djoke
    Djoke
  • Arief
    Arief
  • Raaaya
    Raaaya
  • Musa
    Musa
  • Wawa
    Wawa
    • unname
      unname
    • Nurkolis
      Nurkolis
  • Sapapua
    Sapapua
  • Dokter
    Dokter
    • Dokter Juga
      Dokter Juga
  • Biasa
    Biasa
  • Riansyah Harun
    Riansyah Harun
  • Tetangga Kota
    Tetangga Kota
  • Aminah Cendrakasih
    Aminah Cendrakasih
  • Denik
    Denik
  • Watik
    Watik
  • Yusuf Ridho
    Yusuf Ridho
    • Idub
      Idub
  • Asep Ma'mun Muhaemin
    Asep Ma'mun Muhaemin
  • iChal.Net
    iChal.Net
    • iChal.Net
      iChal.Net
    • Sapapua
      Sapapua
    • Yusuf Ridho
      Yusuf Ridho
  • lbs
    lbs
    • sri wedari
      sri wedari
  • Taufik Wida Basuki
    Taufik Wida Basuki
  • Kenyot.Susu
    Kenyot.Susu
    • Orang Indon asli
      Orang Indon asli
  • lbs
    lbs
    • Denik
      Denik
    • sri wedari
      sri wedari
    • Jeki
      Jeki
    • Denik
      Denik
    • Pembaca
      Pembaca
  • uds
    uds
  • lbs
    lbs
  • Yusuf Ridho
    Yusuf Ridho
  • Dhipa
    Dhipa
  • lbs
    lbs
  • Putra
    Putra
  • Hariyanto
    Hariyanto
  • scr jujur
    scr jujur
  • Yusuf Ridho
    Yusuf Ridho
    • Otole
      Otole
    • congor.ndobleh
      congor.ndobleh