Terungkap Tujuan Gerald Vanenburg, Malaysia Dibikin Menyesal Seumur Hidup! Tim Top Eropa Gerak Cepat Rekrut Pemain Indonesia

Terungkap Tujuan Gerald Vanenburg, Malaysia Dibikin Menyesal Seumur Hidup! Tim Top Eropa Gerak Cepat Rekrut Pemain Indonesia

Media VIetnam Sebut 'Timnas Indonesia Dalam Kutukan', Gerald Vanenburg: Silahkan Remehkan INDONESIA, Tapi Ingat..-@geraldvanenburgofficial-Instagram

JAKARTA, DISWAY.ID - Drama Timnas Indonesia U-23 singirkan Malaysia, hujan kartu kuning terjadi.

Malaysia rela tersingkir demi hindari kekalahan atas Garuda Muda. Calon penggawa Garuda gabung klub top Liga Inggris.

Belanda ubah aturan batasi program naturalisasi PSSI.

 

Drama Timnas Indonesia U-23 Singkirkan Malaysia, Hujan Kartu Kuning Terjadi

Berlangsung di Stadion Utama Gelura Bung Karno (SUGBK), skuad Garuda Muda datang dengan motivasi tinggi untuk mematahkan rekor buruk lawan skuad Harimau Malaya Muda.

Pada laga kali ini, Gerald Vanenburg menurunkan pemain yang tak jauh berbeda kala menghadapi Filipina.

Duet Kakang Rudianto dan Kadek Arel menjadi pilihan utama untuk di lini belakang.

BACA JUGA:Mauro dan Miliano Gregetan Meski Timnas Indonesia U-23 Lolos: Nathan Resmi Gabung Willem II, Hilgers Menuju Spanyol?

Keduanya menjadi benteng kokoh penjaga gawang Cahya Supriadi yang tampil menggantikan Muhammad Ardiansyah.

 

Sementara posisi wing back tetap dipercayakan kepada Alfharezzi Buffon dan Dony Tri Pamungkas.

Sedikit perubahan terjadi di lini tengah di mana Arkhan Fikri harus absen lantaran mengalami cedera.

Rayhan Hannan yang biasanya dipasang sebagai winger ditarik ke belakang untuk menjadi tandem Tony Firmansyah dan Robi Darwis.

Sebagai pengganti Rayhan Hannan, Gerald Vanenburg dengan cerdik memasang Victor Dethan yang tak kalah memiliki kecepatan.

 

Winger PSM tersebut menjadi trio tajam lini depan bersama Rahmat Arjuna dan Jens Raven yang kembali menjadi ujung tombak utama skuad Garuda Muda.

BACA JUGA:Perekrutan Pemain Diaspora di Timnas U-17 Disorot, Legenda Sebut Menghambat Talenta Lokal!

Di babak pertama drama langsung tersaji ketika Malaysia menunjukkan permainan keras.

Hujan kartu kuning pun terjadi bagi kedua tim.

Skuad Garuda Muda terlihat menguasai pertandingan. Namun, Jens Raven dan kawan-kawan kesulitan taktik bertahan Malaysia.

 

Praktis tak ada peluang berarti yang terjadi pada paru pertama. Hanya lemparan mematikan Robi Darwis yang sempat membahayakan gawang Malaysia.

Pada babak kedua, skuad Garuda Muda tampil lebih menyerang Usai Gerald Vanenburg memasukkan Achmad Maulana untuk menggantikan Alfharezzi Buffon.

Achmad Maulana beberapa kali berhasil masuk ke lini pertahanan Malaysia.

Hal yang tidak terjadi saat Malaysia hanya bisa bermain dengan backpass.

BACA JUGA:Grup Djarum Siap Kucurkan 100 Juta Euro, Demi Proyek Replika Timnas Spanyol ala Fabregas di Como 1907

Sayangnya hingga laga berakhir timnas Indonesia sudah tiga gagal mencetak gol.

 

Finishing menjadi catatan penting Gerald Vanenburg untuk menatap laga semifinal.

Terlebih lawan berat seperti Thailand dan Vietnam sudah menanti.

Malaysia adalah tersingkir demi dari kekalahan atas Garuda muda.

Rela tersingkir asal tidak kalah dari Indonesia menggambarkan performa Malaysia pada derby serumpun kali ini.

Terlepas dari permainan keras yang terjadi, skuad Harimau Malaya Muda hanya berani bertahan layaknya takik parkir bus.

 

Skuad asuhan Nafuzi Zain lebih memilih menunggu blunder Kadek Arel dan kawan-kawan serta sesekali melancarkan serangan balik.

Akan tetapi pertahanan timnas Indonesia U-23 begitu disiplin, meski kini sering lemah dalam penyelesaian akhir lini belakang Garuda Muda tampil solid dan menjaga tempo untuk menguasai pertandingan.

Memang hilangnya sosok Arkhan Fikri lantaran mengalami cedera menjadi kendala tersendiri bagi Gerald Vanenburg.

Timnas Indonesia U-23 seperti kehilangan otak serangan. Rayhan Hannan maupun Dominikus Dion yang diplot sebagai pengganti pun gagal menunjukkan kualitasnya.

Rayhan Hanan bahkan beberapa kali terlihat egois. Tak beda jauh, Hokky Caraka yang dipercayai sebagai pengganti Jens Raven juga gagal menunjukkan kontribusi.

 

Pengalamannya malang melintang membela timnas senior tampak seperti percuma.

Hanya penurunan performa yang terlihat dari pemain yang gemar melakoni laga tarkam tersebut.

Kendati begitu, hasil imbang sudah cukup membuat Malaysia terbungkam oleh kesombongannya.

Sempat sesumbar ingin meraih gelar juara, nyatanya negara tetangga harus tersingkir lebih awal.

Usai laga, para punggawa Malaysia pun tak bisa menyembunyikan kesediaannya.

Sementara Jens Raven dan kawan-kawan tak berhenti menyapa suporter yang kali ini hadir lebih ramai di Stadion Gbk.

 

Viral Benteng Kokoh Timnas Indonesia U-23 Mirip Pascal Struijk

Sebuah unggahan viral di media sosial yang menampilkan penampilan salah satu pemain skuad Garuda Muda yang mirip dengan pemain keturunan Pascal Struijk.

Penampilan kedua pemain yang juga sama berposisi bek ini dinilai netizen memiliki kemiripan sehingga pantas disebut sebagai Kakanda Nadir.

Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh perbincangan seputar kemiripan wajah antara dua pemain keturunan, Braden Sauneman dan Pascal Struijk. Unggahan dari akun Instagram @LeonFans memperlihatkan perbandingan visual keduanya yang tampak mirip, terutama dari gaya rambut, kumis, hingga janggut.

 

Komentar netizen pun bermunculan. Ada yang menyebutkan, “Muka mirip sekali, fisiknya jauh,” sementara yang lain menyatakan, “Mirip, sama-sama wajah bule, 98% identik.”

 

Apakah Brandon Scheunemann dan Pascal Struijk Punya Hubungan Darah?

Meski banyak yang berspekulasi bahwa mereka memiliki hubungan darah, faktanya tidak ada hubungan kekerabatan antara Brandon Scheunemann dan Struijk.

Keduanya memang sama-sama pemain keturunan asal Jawa Timur, namun latar belakang keluarga mereka berbeda jauh.

Brandon Scheunemann adalah putra dari pelatih asal Jerman yang menetap di Kediri, Jawa Timur.

Pascal Struijk lahir di Belgia dan memiliki darah keturunan Indonesia dari kakek-neneknya yang berasal dari Surabaya.

Dengan demikian, kesamaan penampilan hanya kebetulan belaka.

 

Perbandingan Karier: Brandon Scheunemann vs Pascal Struijk

Brandon Scheunemann dan Pascal Struijk sama-sama berposisi sebagai bek tengah. Namun, jalur karier mereka sangat kontras:

Braden Sauneman mengawali karier di Indonesia bersama SSB Putra Gemilang, lalu berlanjut ke Akademi PS Semarang, Persis Solo, Persipura Jayapura, dan kini bermain untuk Kim FC.

Pascal Struijk memulai kariernya di Belanda lewat akademi ADO Den Haag dan Ajax Amsterdam, sebelum akhirnya bermain untuk Leeds United di Liga Inggris.

Struijk telah bermain di level tertinggi sepak bola Eropa, sementara Braden masih berkarier di Liga 1 Indonesia. Meski begitu, Braden memilih untuk membela Timnas Indonesia, sedangkan Struijk hingga kini belum menunjukkan keinginan tersebut meski sempat dirumorkan.

 

Demiane Agustien Resmi Gabung Arsenal, Calon Penggawa Timnas Indonesia

Kabar gembira datang dari Demiane Agustien, pemain muda keturunan Indonesia-Belanda yang resmi bergabung dengan raksasa Liga Inggris, Arsenal. Informasi ini diumumkan langsung oleh laman resmi The Gunners.

Pemain berusia 18 tahun ini sebelumnya bermain untuk Derby County, dan kini siap berkembang bersama tim akademi Arsenal di bawah bimbingan Per Mertesacker, kepala akademi sekaligus legenda The Gunners.

Rekam Jejak Internasional dan Peluang Bela Timnas Indonesia

Demiane telah memperkuat dua timnas kelompok umur:

  • Curacao U-17 (3 caps)
  • Belanda U-18 (2 caps pada Maret 2025)

Namun demikian, sang gelandang serang menyatakan bahwa membela Timnas Indonesia tetap menjadi salah satu opsinya:

"Saya tidak tahu, semoga bisa terjadi. Bermain untuk Indonesia akan sangat indah. Saya menantikan terbang ke Indonesia dan bermain untuk timnas,” ujar Demiane.

KNVB Ubah Aturan Debut Pemain Muda, Apa Dampaknya ke Timnas Indonesia?

Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) resmi menurunkan batas usia debut profesional dari 16 tahun menjadi 15 tahun. Kebijakan ini disambut positif oleh banyak klub Eredivisie dan Eerste Divisie yang selama ini ingin mempromosikan bakat muda lebih cepat ke tim utama.

Perubahan ini juga berlaku untuk kompetisi wanita, namun tetap mematuhi hukum ketenagakerjaan Belanda, terutama aturan jam kerja bagi anak di bawah umur.

Dampak Ganda bagi Timnas Indonesia

Langkah KNVB ini bisa menjadi angin segar maupun ancaman bagi PSSI dan Timnas Indonesia, terutama dalam program naturalisasi pemain keturunan.

Keuntungan:

  • Pemain diaspora Indonesia bisa mendapat pengalaman profesional lebih cepat.
  • Kematangan pemain bisa meningkat sebelum dipanggil ke Timnas Indonesia.

Kerugian:

  • Pemain yang debut lebih awal di Belanda berisiko “dikunci” oleh federasi Belanda.
  • Potensi pindah federasi ke Indonesia menjadi lebih kecil karena mereka lebih cepat "diikat" secara regulasi FIFA.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads