Trump Patok Tarif India Jadi 25 Persen Lebih Besar dari Indonesia, Main Dua Kaki
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan setelah tiba di Bandara Pelatihan dan Transisi Dade-Collier di Ochopee, Florida, pada 1 Juli 2025.-Andrew Caballero Reynolds/AFP-
WASHINGTON, DISWAY.ID-- Kebijakan dagang Donald Trump jadi sorotan. Tarif impor produk dari India dipatok hingga 25 persen, lebih tinggi dari bea masuk terhadap negara berkembang lain seperti Indonesia dan Filipina.
Selain patok tarif impor sebesar 25 persen, India dikenai denda lantaran bertransaksi dengan Rusia. Langkah ini langsung memicu reaksi dari pelaku pasar global, sekaligus menimbulkan pertanyaan. Mengapa India jadi sasaran utama kebijakan proteksionisme terbaru Trump?
Trump menuding India "main dua kaki" lantaran telah menikmati surplus dagang besar terhadap AS, namun di saat yang sama menjalin kemitraan strategis dengan musuh-musuh Washington, terutama Rusia.
BACA JUGA:Babak Baru Negosiasi Tarif Indonesia-AS, Pemerintah Akan Siapkan Ini untuk Indonesia
India, disebutnya, ingin berdagang bebas di AS, tapi juga membeli minyak murah dari Rusia dan memperluas hubungan dengan China.
"Selain itu, mereka selalu membeli sebagian besar peralatan militer mereka dari Rusia, dan merupakan pembeli energi terbesar Rusia, bersama dengan China, pada saat semua orang ingin Rusia MENGHENTIKAN PEMBUNUHAN DI UKRAINA," ujar Trump.
"KARENA ITU, INDIA AKAN MEMBAYAR TARIF 25%, DITAMBAH DENDA ATAS HAL-HAL DI ATAS, MULAI 1 AGUSTUS." kata Trump di unggahan Truth Social, Rabu 30 Juli 2024.
Menurutnya, pemberlakuan tarif tinggi adalah bentuk "keadilan dagang" dan upaya untuk "menghukum" negara-negara yang mengambil keuntungan dari pasar AS tanpa komitmen politik yang seimbang.
India tercatat sebagai salah satu mitra dagang terbesar AS di Asia Selatan dengan nilai perdagangan mencapai lebih dari US$120 miliar pada 2024. Kenaikan tarif ini akan berdampak langsung pada produk unggulan India seperti tekstil, obat generik, baja, dan komponen teknologi.
Sementara itu, Indonesia hanya dikenakan tarif sekitar 10-15 persen dalam kebijakan revisi tersebut, justru dianggap oleh Trump sebagai “negara mitra dagang yang lebih netral.”
BACA JUGA:Trump Bantah Ingin Bertemu Presiden China: Dia Harus Undang, Saya Tak Ada Niat
Hal ini mengacu pada pembelian minyak dan gas India dari Rusia dan Iran.
Meski tidak langsung dilabeli sebagai negara prioritas, Indonesia bisa saja mendapat limpahan permintaan dari perusahaan AS yang ingin mengalihkan rantai pasok dari India. Peluang ini terbuka di sektor garmen, perikanan, hingga komponen elektronik.
Washington merasa frustrasi karena meski India adalah bagian dari Quad (aliansi keamanan Indo-Pasifik yang dipimpin AS), New Delhi tetap membeli minyak dari Rusia dan bersikap hati-hati dalam mengecam konflik Moskow ke Ukraina.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: