Edi Julianto dan Cahaya Aceh yang Harus Tetap Menyala
Kisah Edi Julianto berjibaku memulihkan aliran listrik pascabencana banjir di Aceh menuai kisah haru dan heroik-Dok. PLN-
“Sedih rasanya,” ujar Edi, mengenang momen itu. Kalimatnya pendek. Nadanya datar. Namun maknanya dalam. “Tapi tugas untuk menyalakan Aceh lebih penting,” katanya lirih.
Bagi Edi, listrik bukan sekadar terang. “Listrik itu kehidupan. Dengan listrik, anak-anak bisa belajar kembali. Rumah sakit bisa beroperasi normal. Usaha kecil bisa berjalan. Aktivitas masyarakat bisa perlahan pulih,” katanya.
Ia tahu, setiap kabel yang tersambung adalah harapan. Setiap lampu yang menyala adalah tanda bahwa kehidupan kembali bergerak. Kesadaran itu membuatnya bertahan, meski rindu terus mengetuk.
Di lapangan, Edi berdiri di garis depan pemulihan. Tubuhnya lelah. Pikirannya penuh. Namun ia terus bekerja. Karena ada banyak rumah yang menunggu terang. Banyak keluarga yang berharap.
Edi tidak sendiri. Bersama ribuan petugas PLN lainnya, ia ikut menyalakan Aceh yang sempat gelap.
Tak lama setelah Edi dan kawan-kawan datang, mesin-mesin diesel di PLTD Nusa Daya Krueng Raya mulai berderu pada Selasa, 23 Desember 2025. Suaranya menandai lebih dari sekadar pembangkit yang beroperasi—ia menjadi simbol kembalinya harapan bagi masyarakat Aceh pascabencana.
BACA JUGA:PLN Sebut Dampak Bencana Kelistrikan di Aceh Lebih Parah dari Tsunami 2004
Dengan kapasitas 15 Megawatt (MW), pembangkit ini dioperasikan oleh PT PLN Nusa Daya, anak perusahaan PT PLN (Persero), untuk memperkuat pasokan listrik di wilayah terdampak. Momentum pengoperasiannya pun krusial, menjelang Natal dan Tahun Baru, serta sebagai antisipasi keandalan sistem menuju Bulan Ramadan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari gerak cepat PLN Nusa Daya dalam memulihkan sistem kelistrikan Aceh. Dalam kondisi darurat, kehadiran pembangkit bukan hanya soal menambah daya, tetapi memastikan roda kehidupan masyarakat kembali berputar—rumah kembali terang, aktivitas ekonomi berjalan, dan ruang publik hidup kembali.
Direktur Utama PLN Nusa Daya, Feby Joko Priharto, menyebut pengoperasian PLTD Krueng Raya sebagai wujud komitmen perusahaan untuk selalu hadir di saat krusial.
“Dalam 14 hari, PLTU tersebut berhasil beroperasi kembali,” ujarnya.
Bahkan Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Holding, Rizal Calvary Marimbo menilai pengoperasian PLTD Krueng Raya sebagai salah satu yang tercepat sejak tahap perencanaan hingga mesin beroperasi.

“Ini menunjukkan kesiapan organisasi dan kekuatan eksekusi di lapangan,” katanya.
Kini, sistem kelistrikan Banda Aceh ditopang pasokan 32 MW, berasal dari PLTD Lueng Bata berkapasitas 7 MW serta backup daya PLN Nusa Daya sebesar 25 MW. Ke depan, penguatan akan dilanjutkan melalui pengoperasian PLTD Ulee Kareng berkapasitas 25 MW, sehingga total backup daya mencapai 57 MW.
Pada 25 Desember 2025, tugas itu akhirnya selesai. Edi pulang ke Pontianak. Membawa cerita yang tak semua orang dengar. Tentang kerja di tengah bencana. Tentang pengabdian yang tak selalu terlihat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: