Edi Julianto dan Cahaya Aceh yang Harus Tetap Menyala
Kisah Edi Julianto berjibaku memulihkan aliran listrik pascabencana banjir di Aceh menuai kisah haru dan heroik-Dok. PLN-
ACEH, DISWAY.ID - Kisah Edi Julianto berjibaku memulihkan aliran listrik pascabencana banjir di Aceh menuai kisah haru dan heroik
Pukul 16.00 WITA, 11 Desember 2025, Edi Julianto, 53 tahun, menerima kabar tugas menjadi bagian dari tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) PLN Nusa Daya di Banda Aceh. Dan itu mengubah harinya.
BACA JUGA:KLH Serahkan Nasib Karyawan 28 Perusahaan ke Kemnaker Usai Perizinan Dicabut Prabowo
BACA JUGA:PLN Salurkan 1.000 Genset Kementerian ESDM, Bangkitkan Semangat Warga Aceh Pascabencana
Tanpa banyak waktu untuk bersiap, ia diminta berangkat karena wilayah itu baru saja dilanda bencana yang melumpuhkan sistem kelistrikan. Lantas, pemulihan pembangkit listrik harus dilakukan secepat mungkin.
Edi adalah tim pemeliharaan dari Pontianak, di bawah PLN Nusa Daya. Aceh bukan wilayah kerjanya. Jaraknya jauh. Medannya tak mudah. Namun bagi Edi, tugas adalah panggilan. Ia tak banyak bertanya. Ia tahu, cahaya harus kembali dinyalakan.
Pagi itu, 12 Desenber 2025 ia meninggalkan rumah. Tanpa janji kapan bisa kembali. Tanpa kepastian apa yang akan dihadapi di lapangan. Yang ia tahu, Aceh membutuhkan tenaga. Dan ia harus berangkat.
Aceh menjadi penugasan di pembangkit terlama Edi di luar Pontianak. Hampir dua pekan, ia berada jauh dari rumah. Hari-harinya diisi dengan kerja tanpa jeda. Memeriksa jaringan yang rusak. Memulihkan sistem kelistrikan. Berpindah dari satu titik ke titik pembangkit lain, mengikuti kebutuhan pemulihan listrik.
BACA JUGA:Polda Metro Atensi Kasus Pegawai Dapur MBG yang Dibegal saat Hendak Bertugas di Bekasi!
Di lapangan, bencana menyisakan banyak keterbatasan. Akses kian sulit karena banyak jembatan putus. Cuaca tak menentu, hujan tak berhenti. Listrik bukan satu-satunya yang hilang. Harapan masyarakat pun sempat padam. Di situlah Edi dan rekan-rekannya bekerja. Dalam diam. Tanpa sorotan.
Di saat banyak orang menanti libur akhir tahun, Edi justru menghabiskan malam di lokasi kerja. Di bawah lampu darurat. Di antara kabel, tiang, dan suara genset. Baginya, libur bisa menunggu. Listrik tak bisa.
Di sela tugas berat itu, Edi selalu menyempatkan diri menghubungi rumah. Telepon singkat. Pesan sederhana. Sekadar memastikan keluarga baik-baik saja. Terutama putri bungsunya. Usianya baru sembilan tahun.
Suara perempuan bungsunya menjadi penguat langkah. Sekaligus sumber rindu yang tak bisa dihindari. Setiap kali panggilan berakhir, Edi kembali fokus pada pekerjaannya. Menyimpan perasaan. Menguatkan diri.
BACA JUGA:Penampakan Black Box Pesawat ATR 42-500 PK-THT yang Ditemukan di Dasar Jurang Bulusaraung
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: