Guru Besar dan Tanggung Jawab Peradaban
Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi kompetisi ekonomi, disrupsi teknologi, dan fragmentasi sosial, ada satu peristiwa akademik yang sering luput dari perhatian publik, pa-dok disway-
Integrasi ilmu bukan berarti mencampuradukkan metodologi, melainkan menyadari keterbatasan masing-masing disiplin dan membuka ruang dialog.
Dalam konteks ini, Guru Besar memiliki peran ganda: sebagai pakar di bidangnya dan sebagai penjaga keseimbangan intelektual.
Mereka dituntut tidak hanya berbicara kepada komunitas akademik, tetapi juga kepada publik luas—menjembatani bahasa ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.
BACA JUGA:Vape Lewat, Ngerinya Penyalahgunaan Whip Pink Dibongkar Spesialis Paru: Ini Bukan Krim Kue Biasa!
Dari Kampus ke Peradaban
Perguruan tinggi sering disebut ivory tower, menara gading yang jauh dari realitas sosial. Kritik ini tidak sepenuhnya keliru jika ilmu berhenti di ruang seminar dan jurnal.
Namun sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari pusat-pusat ilmu: dari Baghdad dan Cordoba hingga Paris dan Berlin.
Tantangannya hari ini adalah bagaimana kampus Islam di Indonesia—termasuk UIN Jakarta—menjadi pusat produksi pengetahuan yang relevan secara global sekaligus kontekstual secara lokal.
Guru Besar adalah aktor kunci dalam proses ini. Mereka menentukan agenda riset, membimbing generasi akademisi muda, dan memberi teladan integritas keilmuan.
Dalam dunia yang mudah terjebak pada popularitas instan, Guru Besar dituntut menjaga kedalaman. Dalam dunia yang mudah tergoda polarisasi, mereka dituntut menjaga kebijaksanaan. Dan dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dari angka dan peringkat, mereka dituntut mengingatkan bahwa ukuran terakhir ilmu adalah kemaslahatan manusia.
Amanah yang Berkelanjutan
Pengukuhan Guru Besar bukan garis akhir, melainkan titik awal dari amanah yang lebih berat. Ia menuntut konsistensi, keberanian intelektual, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Dalam tradisi Islam, ilmu selalu dipasangkan dengan adab. Tanpa adab, ilmu kehilangan arah.
Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak suara akademik yang jernih, bernuansa, dan berakar pada nilai. Bukan suara yang gaduh, tetapi suara yang menuntun. Bukan ilmu yang memecah, tetapi ilmu yang merajut.
Dari kampus, kita berharap lahir bukan hanya inovasi teknologi dan kebijakan publik, tetapi juga orientasi moral yang menjaga arah bangsa.
Jika Guru Besar mampu menjalankan peran ini dengan sungguh-sungguh, maka pengukuhan hari ini tidak hanya menjadi peristiwa akademik, tetapi juga investasi jangka panjang bagi peradaban.
Ilmu yang berangkat dari iman, dikelola dengan nalar, dan diabdikan untuk kemanusiaan—itulah ilmu yang layak ditinggikan derajatnya. Dan itulah amanah terbesar seorang Guru Besar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: