Guru Besar dan Tanggung Jawab Peradaban

Guru Besar dan Tanggung Jawab Peradaban

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi kompetisi ekonomi, disrupsi teknologi, dan fragmentasi sosial, ada satu peristiwa akademik yang sering luput dari perhatian publik, pa-dok disway-

BACA JUGA:’Haram’ Ada Kata Gagal, Menhaj Gus Irfan Semangati Petugas Haji 2026: Pionir Sejarah!

BACA JUGA:Cara Rawat Wajah dari Dalam Minum Kolagen, Tampilan Fresh tanpa Filter

Tujuh Guru Besar, Satu Visi Keilmuan

Pengukuhan tujuh Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencerminkan lanskap keilmuan yang luas dan saling terhubung.

Dari komunikasi politik digital, ekologi terapan, kecerdasan artifisial, sejarah dan peradaban Islam, hukum tata negara Islam, manajemen SDM pendidikan, hingga filsafat Islam—semuanya berangkat dari satu kesadaran yang sama: ilmu harus menjawab tantangan nyata zaman.

Komunikasi politik digital, misalnya, tidak lagi sekadar soal pesan dan media, tetapi tentang kualitas ruang publik di era cyberdemocracy.

Ketika algoritma media sosial cenderung memecah belah, ilmu komunikasi dituntut merumuskan strategi etik untuk menjaga dialog publik tetap rasional dan inklusif.

Ekologi terapan berbicara langsung dengan krisis lingkungan dan ketimpangan wilayah. Restorasi ekologi di daerah perbatasan dan wilayah 3T bukan sekadar proyek teknis, tetapi juga soal keadilan ekologis—siapa yang menanggung dampak kerusakan, dan siapa yang menikmati hasil pembangunan.

Kecerdasan artifisial, yang kini menjadi tulang punggung banyak sektor, menantang kita untuk berpikir ulang tentang kedaulatan, privasi, dan relasi manusia–mesin.

Tanpa kerangka etik yang kuat, AI berpotensi memperdalam ketimpangan dan menciptakan bentuk baru ketidakadilan.

BACA JUGA:API Laporkan Komika Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Banten Soal Mens Rea!

BACA JUGA:Update Klasemen Sementara Proliga 2026 Sektor Putri dan Putra di Putaran ke-3, Jakarta LavAni dan Gresik Phonska di Posisi Puncak

Sementara itu, kajian sejarah, hukum, manajemen pendidikan, dan filsafat Islam mengingatkan kita bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi.

Justru dari dialog kritis antara warisan intelektual Islam dan tantangan kontemporer, lahir perspektif yang lebih utuh tentang manusia, negara, dan kemanusiaan.

Integrasi Ilmu sebagai Jalan Tengah

UIN Jakarta sejak awal menegaskan diri sebagai perguruan tinggi integratif—menghubungkan Islam, sains, teknologi, sosial-humaniora, dan kebangsaan. Integrasi ini bukan jargon, melainkan kebutuhan epistemik. Dunia yang terfragmentasi oleh spesialisasi ekstrem memerlukan jembatan antarilmu.

Albert Einstein pernah menyatakan bahwa sains tanpa nilai akan pincang, sementara agama tanpa nalar akan buta. Pernyataan ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan implikasinya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads