Ahok Jadi Saksi di Sidang Tata Kelola Minyak, Ungkap Kondisi Pertamina 'Berdarah-darah'

Ahok Jadi Saksi di Sidang Tata Kelola Minyak, Ungkap Kondisi Pertamina 'Berdarah-darah'

Menurut Ahok, sistem pengadaan di Pertamina bermasalah. Hal ini membuat Indonesia tidak bisa memiliki cadangan lebih dari 30 hari. -Istimewa-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Eks Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkapkan bahwa Pertamina sering merugi walaupun menguasai pasar minyak dan gas di Indonesia. 

Hal itu disampaikan Ahok saat menjadi saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah PT Pertamina di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Selasa, 27 Januari 2026.

BACA JUGA:Tak Sekadar Medali, Ini Makna Besar Prestasi Indonesia di ASEAN Para Games 2025

BACA JUGA:Ketua DPD Partai Golkar NTB Mohan Roliskana Bangga Sari Yuliati Jadi Wakil Ketua DPR RI

Awalnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menanyakan soal cara komisaris untuk mengawasi agar Pertamina selalu mendapatkan keuntungan. 

Dari pertanyaan itu, Ahok pun menyatakan bahwa pergerakan uang PT Pertamina tetap menunjukan tidak mendapatkan keuntungan, meski menguasai minyak dan gas.

"Justru Pertamina itu berdarah-darah sebetulnya di tata niaga itu, cash flow-nya itu merah rugi. Beberapa kali rugi," ujar Ahok.  

Kerugian itu didasati oleh kebijakan pemerintah yang menyatakan barang subsidi tidak boleh dinaikan. Oleh karenanya, Pertamina sering meminjam dana untuk menutupo kerugian perusahan. 

BACA JUGA:Rekam Jejak Sari Yuliati Maju dari Dapil NTB 2, Resmi Jabat Wakil Ketua DPR RI

BACA JUGA:Nestapa Guru SD Pamulang Dipolisikan Wali Murid, Perkara Menasihati saat Lomba 17-an

"Di situlah kami terpaksa minjam uang dengan jangka pendek. Direksi pinjam, kami setuju," tyturnya. 

Saat masih menjadi komisaris utama, Ahok sempat membawa permasalahan tersebut ke Presiden. Bahkan, ia menyarankan agar sistem subsidi bisa diubah ke per-individu melalui aplikasi myPertamina. 

Apesnya, usulan itu tidak disetujui oleh Presiden. Padahal, kata Ahok, bila sistem itu dijalankan maka Pertamina setidaknya bisa mendapatkan keuntungan USD6 miliar per tahun. 

"Padahal kalau saya bilang, saya bisa untung USD6 miliar, kalau subsidi dalam bentuk barang tapi dengan sistem voucher digital," urainya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads