Dirjen Komdigi Ingatkan: Teknologi Tak Otomatis Melahirkan Kepercayaan Publik
Kepercayaan dibangun melalui pesan yang jujur, keberanian mengakui keterbatasan, serta niat tulus melayani publik, bukan sekadar mengelola persepsi.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menyampaikan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membangun kepercayaan publik.
Menurutnya, kepercayaan lahir dari konsistensi, kejujuran, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat, bukan dari kecanggihan algoritma maupun kecerdasan buatan.
BACA JUGA:BNI Perkuat Peran Agen46 lewat Program Apresiasi SPEKTA 2025
BACA JUGA:Tak Keramas Tapi Bebas Ketombe? Ini Pembuktian di Head & Shoulders Scalpvengers
"Teknologi bisa memproses data dengan cepat, Al bisa memprediksi perilaku, tetapi ada satu hal yang tidak bisa diciptakan oleh teknologi, yaitu kepercayaan," ujar Fifi dalam keterangannya, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia menekankan bahwa kepercayaan dibangun melalui pesan yang jujur, keberanian mengakui keterbatasan, serta niat tulus melayani publik, bukan sekadar mengelola persepsi.
Fifi menyebut kerja-kerja humas kerap bersifat "sunyi" karena dilakukan di balik layar, namun memiliki peran krusial dalam meniaga reputasi, merawat kepercayaan, dan menenangkan situasi di tengah ruang publik vang semakin bising.
BACA JUGA:BRI Insurance Kembali Meraih Penghargaan Best Public Relation Era Digital di IPRA 2026
BACA JUGA:Industri Furnitur Indonesia Bersatu! Pameran Raksasa IMMF 2026 Siap Gaet Pasar Dunia
Karena itu, ia menilai kehadiran IPRA (Indonesia Public Relations Awards) bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan atas kontribusi strategis insan public relations.
Dalam konteks pemerintahan, Fifi menegaskan komunikasi publik tidak lagi bisa bersifat satu arah.
Pemerintah, kata dia, tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi harus hadir untuk mendengar, berdialog, dan berinteraksi aktif di ruang publik, termasuk ruang digital yang dinamis dan kritis.
"Komunikasi publik adalah jembatan kepercayaan antara negara dan masyarakat," kata Fifi.
la menambahkan bahwa meskipun transformasi digital telah mengubah wajah public relations, esensi profesi tersebut tetap sama, yakni menjunjung nilai, etika, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relation Indonesia (APPRI), Sar Soegondo mengungkapkan bahwa kepercayaan publik telah menjadi aset bisnis paling berharga di era ekonomi digital, di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat dan risiko krisis reputasi yang bisa muncul sewaktu-waktu.
BACA JUGA:Penutupan IHSG Anjlok 1,06%, Pengumuman MSCI Dinilai Bukan Alasan Saling Menyalahkan
BACA JUGA:Hasil Tes Shakedown Sepang Hari Pertama, Aleix Espargaro Tercepat
Peran Public Relations (PR) pun dinilai semakin strategis, tidak lagi sekadar sebagai penyampai pesan, melainkan penjaga integritas dan reputasi organisasi.
"Kita hidup di zaman ketika informas tidak lagi bergerak, ia melaju. Dalam hitungan detik sebuah pesan bisa menjangkau jutaan orang. Dalam hitungan jam, reputasi yang dïbangun bertahun-tahun bisa menguap begitu saja," jelas Sari.
Menurut Sari, perubahan lanskap komunikasi akibat media sosial, portal berita daring, dan berbagai platform digital telah mengubah cara publik menilai informasi dan menjadïkannya rujukan dalam pengambilan keputusan.
BACA JUGA:Siap-siap! BGN Bakal Tes Dampak Program MBG ke Siswa, Ukur Tinggi Badan Hingga Kepintaran
BACA JUGA:Buatan Indonesia, Yamaha YZF-R3/R25 Sabet Penghargaan Internasional Bergengsi di Jepang
Kondisi ini berdampak langsung pada dunia usaha, karena persepsi publik kini dapat memengaruhi keberlanjutan bisnis, nilai merek, hingga kepercayaan investor.
"Fungsi Public Relations di organisasi memegang peran yang sangat strategis di masa kini. PR tidak lagi bekerja secara searah. PR tidak lagi berbicara kepada massa yang besar dan homogen," ujarnya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: