Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z
Deva Rachman, Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi & Praktisi Public Affairs Global: Gerakan koperasi menawarkan Pemberdayaan dan Kepemilikan di mana anggota secara langsung bisa mengontrol perusahaan secara demokratis atas usaha mereka, ini memungkinkan-dok disway-
Salah satu yang menarik adalah pembiayaan dari LPDB Koperasi (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) Koperasi. Dengan rate yang menarik sebesar 6,5% untuk bisnis konvensional non – shariah dan 3.5% untuk bisnis syariah tanpa biaya provisi dan administrasi tentu amat menarik bagi mereka.
Dari ke 35 pengusaha muda tersebut, banyak dari mereka yang berminat untuk bergabung ke Koperasi. Bayangkan jika mereka bisa bergabung dan sama-sama membangun Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih.
Relevansi Gerakan Koperasi dengan Generasi Muda
Indonesia sudah saatnya membangun angkatan muda Koperasi ke depan. Dengan bonus 15 tahun dan 140 juta angkatan kerja di mana 60% adalah di sektor informal, diperlukan social engineering program yang dapat membalikan suasana dan keadaan dengan pemahaman dan program-program yang menarik bagi anak muda.
Saat ini, rata-rata umur dari anggota koperasi berumur 55 tahun, kebanyakan dari mereka adalah pensiunan dari pekerja tradisional yang ingin menginvestasikan uangnya secara aman dan mendapatkan sisa hasil usaha lebih dari sekedar deposito belaka. Hal ini harus dapat kita ubah segera dengan pendekatan koperasi bagi angkatan muda.
Koperasi Start-Up dan Digital Creative adalah salah satu yang dapat digarap untuk meningkatkan minat anak muda selain memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka selain menyediakan sisa hasil usaha akhir tahun.
BACA JUGA:20 Diskon Kuliner Spesial Valentine 14 Februari 2026, Ada Tomoro, Kimukatsu hingga Tous Les Jours!
BACA JUGA:Prabowo Jawab Kritik MBG: Program Ini Dibutuhkan Rakyat, Bukan Orang Berada
Koperasi amat menarik bagi anak muda dengan berbagai keunikannya, yaitu pertama anak muda saat ini lebih tertarik pada bisnis yang fokus ada alternatif etis di luar perusahaan tradisional yang hanya mengejar profit semata.
Gerakan koperasi menawarkan Pemberdayaan dan Kepemilikan di mana anggota secara langsung bisa mengontrol perusahaan secara demokratis atas usaha mereka, ini memungkinkan para generasi muda jadi pemilik bukan hanya sebagai buruh atau objek penderita suatu usaha.
Yang kedua adalah keselarasan nilai, dengan prinsip koperasi yang peduli terhadap komunitas dan keanggotaan sukarela, amat cocok dengan DNA anak muda Gen Z dan prioritas sosial mereka.
Yang ketiga adalah kewirausahaan dan kebebasan dalam berusaha, koperasi yang dipimpin pemuda seperti mobil berbasis layanan anak muda, services industry memberikan pemahaman dan pengalaman langsung dalam manajemen sinis dn liberasi keuangan.
Terakhir adalah peluang ekonomi di mana koperasi dapat menciptakan lapangan kerja di wilayah yang tersulit seperti mencari pekerjaan yang layak, bahkan seringkali dapat meningkatan pendapatan anak-anak muda secara signifikan.
Dalam studi CICOPA (Young Entrepreneurship in Cooperative), lebih dari 60% pesertanya mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan dengan proteksi pekerjaan yang lebih baik daripada sektor perusahaan tradisional.
Apa yang harus Indonesia lakukan?
Indonesia baru-baru ini menggagas 83 ribu koperasi desa dan kelurahan merah putih di mana 30 ribu ditargetkan beroperasi pada bulan Maret ini.
Apakah target ini terlalu besar? Tidak ada yang terlalu besar dalam mimpi yang besar. Dengan kekuatan dan senjata rahasia angkatan pemuda Indonesia sebesar 140 juta orang, Indonesia memiliki segala kekuatan untuk membalikan keadaan asalkan didukung oleh strategi yang mumpuni untuk menggerakkan para pemuda ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: