Waspada Banjir, Hujan Ekstrem Berpotensi Guyur Jakarta hingga Awal Ramadan 2026
Pasalnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi huja dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur wilayah Jakarta pada periode 15-18 Februari 2026-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Warga Jakarta mesti meningkatkan kewaspadaan adanya potensi banjir akibat cuaca ekstrem hingga awal Ramadan.
Pasalnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi huja dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur wilayah Jakarta pada periode 15-18 Februari 2026.
BACA JUGA:Kompol Seala Raih Gelar Doktor UI, Bukti Polwan Bisa Berprestasi Berkat Program Beasiswa
Hujan ekstrem pada periode tersebut tidak cuma berpotensi mengguyur wilayah Ibu Kota, tapi juga sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
Fenomena ini dipengaruhi dinamika atmosfer yang bergerak dinamis memicu pertumbuhan awan hujan.
Pada periode 15-16 Februari, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.
Kemudian memasuki tangga 17-18 Februari, potensi tersebut masih membayangi wilayah Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara.
BACA JUGA:BYD Sealion 7 Extended dan BYD Atto 3 Advanced Plus Pilihan Baru dengan Jarak Tempuh Lebih Jauh
BACA JUGA:Panduan Niat Mandi Wajib sebelum Puasa Ramadhan 2026 dan Bacaan Doanya, Umat Muslim Cek!
Potensi hujan lebat masih akan nerlangsung di sejumlah wilayah Indonesia pada 19 Februari yakni Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Pegunungan.
Berlanjut pada tanggal 20-21 Februari potensi masih berlanjut utamanya di wilayah Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan hasil analisis terkini bahwa terjadi penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan cukup dominan sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Kondisi ini diperkuat oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase Indian Ocean, serta dukungan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang memicu terbentuknya perlambatan dan belokan angin (konvergensi), khususnya di pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: