AI Masuk Rumah Sakit Indonesia! Kolaborasi AstraZeneca–Siloam Percepat Diagnosis Kanker

AI Masuk Rumah Sakit Indonesia! Kolaborasi AstraZeneca–Siloam Percepat Diagnosis Kanker

[Kiri ke Kanan] dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad, Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, Msi.Med, Sp.PA, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P (K), David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, Esra Erkoma--Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam momentum Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari, AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals kembali menegaskan komitmen memperkuat deteksi dini kanker di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Kolaborasi AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals ini diwujudkan melalui diskusi ilmiah bersama para pakar onkologi yang membahas optimalisasi teknologi AI untuk diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru, sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional.

Implementasi teknologi AI dalam layanan kanker ini menjadi salah satu yang pertama diterapkan secara terintegrasi di Indonesia, dengan tujuan meningkatkan akurasi diagnosis kanker, mempercepat proses skrining, serta mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat.

Kasus Kanker di Indonesia Diproyeksikan Naik 70 Persen

Berdasarkan berbagai studi epidemiologi, kasus kanker di Indonesia diproyeksikan melonjak lebih dari 70 persen pada tahun 2050 jika upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat.

Saat ini, tercatat sekitar 400 ribu kasus baru kanker di Indonesia setiap tahun dengan angka kematian mencapai 240 ribu jiwa, menjadikan kanker sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Tanah Air.

Tantangan terbesar dalam penanganan kanker di Indonesia adalah banyaknya pasien yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi terbatas, biaya pengobatan meningkat, dan peluang kesembuhan menurun.

AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Payudara dan Status HER2

Untuk kanker payudara di Indonesia, data dari GLOBOCAN mencatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada 2020, menjadikannya kanker paling umum pada perempuan.

Sebagian kanker payudara berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu protein yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker secara agresif dan membutuhkan terapi target khusus.

Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM menjelaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam diagnosis kanker payudara dapat membantu identifikasi tipe kanker, termasuk status HER2 dan subkategorinya, secara lebih cepat dan presisi.

Dari sisi patologi anatomi, integrasi AI dilakukan menggunakan teknologi dari Mindpeak yang memungkinkan analisis digital jaringan untuk mendeteksi ekspresi HER2 hingga level sangat rendah.

Dengan dukungan AI patologi digital, hasil pemeriksaan dapat diakses secara real-time di seluruh jaringan rumah sakit Siloam, sehingga mempercepat interpretasi dan pengambilan keputusan klinis.

Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, Sp.PA menambahkan bahwa studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan penggunaan AI mampu meningkatkan deteksi HER2-ultra low hingga 40 persen dibanding metode konvensional.

Pemanfaatan AI dalam penilaian HER2 juga meningkatkan akurasi hingga sekitar 92 persen serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66 persen menjadi 82 persen, khususnya pada kategori HER2-low dan HER2-ultralow.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads