Indonesia Terjebak dalam Lingkaran Setan Krisis Ekologis: KEHATI Desak Transformasi Tata Kelola Alam

Indonesia Terjebak dalam Lingkaran Setan Krisis Ekologis: KEHATI Desak Transformasi Tata Kelola Alam

Laporan Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 yang disusun oleh Yayasan KEHATI dan didiseminasikan dalam Diskusi Publik IEO 2026 pada Jumat, 13 Maret 2026 di Jakarta-Dok.Yayasan Kehati-

Bahkan, berdasarkan data Kementerian Kehutanan 2025, saat ini hanya tersisa hutan primer seluas 47,3 juta hektar. 

Tekanan terhadap hutan juga tercermin dari laju deforestasi yang masih tinggi. Data pemantauan menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 292.000 hektare hutan primer pada 2023 dan sekitar 175.000 hektare pada 2024.

Jika angka ini terus bertahan, maka dalam tahun 2045 Indonesia akan kehilangan lebih dari 3,3 juta hektar hutan lagi.

BACA JUGA:Prabowo Subianto Tegas Soal Kekayaan Alam: Itu Milik Negara, Bukan Pengusaha!

BACA JUGA:Sama-Sama Aktivis, Begini Kata Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto saat Andrie Yunus KontraS Disiram Air Keras

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 59 persen deforestasi justru terjadi di dalam wilayah konsesi izin usaha yang sah, menunjukkan bahwa kehilangan hutan tidak lagi didominasi oleh perambahan kecil, tetapi oleh deforestasi terencana yang difasilitasi oleh instrumen perizinan negara. 

Salah satu ancaman utama atas wilayah hutan adalah pemanfaatannya untuk proyek berskala besar.

Ekspansi food estate di Papua Selatan, pengembangan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri, serta pertambangan nikel dan proyek energi terus mendorong alih fungsi kawasan hutan.

Proyek-proyek ini membuka akses ke hutan primer, memicu fragmentasi habitat, dan merusak fungsi hidrologis lanskap.

Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya tutupan hutan, tetapi juga meningkatnya risiko banjir, longsor, kekeringan, kebakaran gambut, serta penurunan kemampuan hutan menyerap karbon.

BACA JUGA:KontraS: Ada Mens Rea di Balik Penyiraman Air Keras pada Andrie Yunus!

BACA JUGA:Wamensos Usulkan Dua Opsi untuk Lahan Sekolah Rakyat Donggala

Ketika hutan kehilangan fungsi ekologisnya, krisis air, pangan, dan energi justru semakin dalam menciptakan lingkaran setan krisis ekologis di mana kebijakan pembangunan di satu sektor memperparah masalah di sektor lainnya.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos menegaskan bahwa pola pembangunan yang masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam justru memperbesar kerentanan bangsa terhadap bencana ekologis. 

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun tanpa tata kelola yang berkelanjutan dan berkeadilan, kekayaan tersebut justru dapat berubah menjadi sumber krisis ekologis dan sosial. Kita tidak bisa terus menjalankan pendekatan pembangunan yang memisahkan sektor hutan, pangan, energi, dan air. Semua harus dikelola secara terpadu dengan menjadikan daya dukung ekosistem sebagai fondasi utama pembangunan,” ujar Riki.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait