Kepemimpinan Transformatif Perguruan Tinggi
Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemdikti-Saintek RI-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Hari ini, perguruan tinggi menghadapi tekanan transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi digital telah mengubah struktur pengetahuan dari model hierarkis menuju jaringan terbuka.
Globalisasi ekonomi pengetahuan melahirkan kompetisi lintas negara yang semakin intens.
Pada saat yang sama, perubahan karakter generasi muda menghadirkan tantangan baru terhadap otoritas akademik, pola belajar, dan legitimasi institusional.
BACA JUGA:Puasa, Solidaritas, dan Diplomasi Kemanusiaan
BACA JUGA:Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah
Mahasiswa generasi kini hidup dalam ekosistem informasi yang cair, cepat, dan plural.
Mereka tidak lagi mengandalkan otoritas tunggal dalam memperoleh pengetahuan.
Mereka terbiasa mengakses sumber belajar dari pelbagai platform digital, sekaligus mengembangkan perspektif yang lebih kritis terhadap institusi formal.
Dalam situasi demikian, relevansi perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh kemegahan infrastruktur atau kelengkapan fasilitas, tapi oleh kemampuan kepemimpinan dalam membaca perubahan sejarah.
Krisis Orientasi
Krisis utama yang dihadapi banyak perguruan tinggi hari ini berkaitan dengan orientasi kepemimpinan dalam mengarahkan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
BACA JUGA:Merevitalisasi Dakwah NU: Menuju Substansi, Meninggalkan Gebyar Seremonial
BACA JUGA:Menyelami Kedalaman Makna Puasa
Banyak institusi mengalami stagnasi bukan karena kekurangan dana atau tenaga akademik, tetapi karena kepemimpinan yang terjebak dalam rutinitas administratif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: