Kepemimpinan Transformatif Perguruan Tinggi
Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemdikti-Saintek RI-Istimewa-
Setiap kebijakan dinilai melalui pertimbangan efisiensi yang berjalan seiring dengan perhatian terhadap martabat manusia.
Kepemimpinan Transformatif
Transformasi perguruan tinggi pada akhirnya merupakan proses peradaban yang berlangsung melalui penguatan kelembagaan.
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: Gus Yusuf Chudlori Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU
BACA JUGA:Pameran Otomotif, Merek Mobil Bertambah dan Sinyal Ekonomi 'Rojali'
Dalam kerangka tersebut, perguruan tinggi menjadi ruang reproduksi elite intelektual sekaligus moral bagi masyarakat, sehingga dinamika yang berkembang di dalamnya turut menentukan arah masa depan bangsa.
Lebih lanjut, perubahan lembaga pendidikan tinggi hanya dapat berjalan efektif apabila didorong oleh kepemimpinan yang visioner, adaptif terhadap perubahan generasi, serta mampu memberdayakan sumber daya manusia sebagai pusat kemajuan institusi.
Hal ini mengandung pesan strategis yang sangat penting bahwa kepemimpinan transformatif berkaitan dengan kemampuan manajerial yang berjalan seiring dengan kapasitas membangun visi peradaban.
Pemimpin perguruan tinggi mengelola organisasi sambil mengarahkan perkembangan masa depan intelektual masyarakat.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kepemimpinan transformatif memiliki tiga fungsi utama.
Pertama, sebagai produsen visi.
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Kafabihi Mahrus Pilihan Tepat Untuk Rais Aam PBNU
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Afifuddin Muhajir Adalah Jawaban dan Arus Utama Kepemimpinan PBNU
Pemimpin harus mampu merumuskan arah masa depan institusi dalam konteks perubahan global.
Tanpa visi yang jelas, organisasi akan terjebak dalam rutinitas administratif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: