Kepemimpinan Transformatif Perguruan Tinggi
Ahmad Tholabi Kharlie (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemdikti-Saintek RI-Istimewa-
Kepemimpinan merupakan fungsi administratif yang sekaligus hadir sebagai praksis etis, yang memadukan rasionalitas strategis dengan kesadaran transendental.
Perspektif ini menjadi sangat relevan dalam konteks kepemimpinan transformatif berbasis spiritualitas, yang menegaskan bahwa seorang pemimpin memikul tanggung jawab bukan hanya atas kinerja organisasi sekaligus dimensi kemanusiaan serta nilai-nilai yang menopang keberlangsungan institusi.
Sejatinya, spiritualitas dalam kepemimpinan merupakan kesadaran mendalam bahwa kekuasaan memiliki dimensi transendental, bukan sekadar religiusitas simbolik atau retorika moral.
BACA JUGA:Perjuangan Gagasan: Membangun Identitas Kota Jakarta dengan Kearifan Lokal
BACA JUGA:Tajdid Tata Kelola NU: Antara Modernisasi, Profesionalisme, dan Kapasitas
Seorang pemimpin mengemban tanggung jawab dalam kerangka sistem birokrasi, yang sekaligus terjalin dengan kesadaran sejarah dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks perguruan tinggi, spiritualitas kepemimpinan berfungsi sebagai kompas etis yang menjaga keseimbangan antara orientasi kompetisi global dan misi kemanusiaan pendidikan.
Tanpa dimensi spiritual ini, transformasi kelembagaan berisiko berubah menjadi proses teknokratis yang kehilangan makna.
Kepemimpinan berbasis spiritualitas menuntut integritas sebagai sumber legitimasi utama. Legitimasi tidak lagi bertumpu pada jabatan formal, melainkan pada keteladanan moral.
Pemimpin menjadi figur yang menginspirasi, bukan sekadar pengendali organisasi.
BACA JUGA:Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z
BACA JUGA:Cycle of Civilization
Paradigma ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang memberdayakan.
Pemimpin mengarahkan kekuasaan sebagai sarana untuk membangun kapasitas kolektif serta menata relasi organisasi melalui penguatan kepercayaan yang menumbuhkan partisipasi. Dalam situasi demikian, institusi bergerak melalui kerja sistem yang ditopang oleh kesadaran bersama.
Dimensi spiritualitas juga memberikan kedalaman reflektif dalam pengambilan keputusan. Kepemimpinan berkembang sebagai rasionalitas yang berpijak pada dimensi instrumental sekaligus moral.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: