Pasbata Soroti Narasi Publik yang Dinilai Mengarah pada Delegitimasi Pemerintah
Ketua Umum Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo David Febrian mengkritik narasi delegitimasi pemerintah oleh seorang tokoh-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Ketua Umum Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo David Febrian angkat bicara terkait berkembangnya narasi yang dinilai tidak lagi sebatas kritik, melainkan mengarah pada upaya delegitimasi terhadap pemerintahan yang sah.
Ia menyinggung pernyataan yang beredar di ruang publik, termasuk yang dikaitkan dengan pengamat seperti Saiful Mujani dan Islah Bahrawi.
BACA JUGA:Medsos dan Game Online Anak Dibatasi Komdigi, Pemilik Rental PS Senangnya Bukan Main
BACA JUGA:Perkuat Pengawasan Aduan JAKI, Pemprov DKI Jakarta Apresiasi Peran Warga
Menurut David, pola komunikasi yang dibangun telah melewati batas kewajaran kritik dan cenderung mendorong opini publik untuk meragukan legitimasi negara.
"Kalau kritik itu berbasis data dan solusi, itu sehat. Tapi kalau yang dibangun adalah narasi seolah pemerintah tidak bekerja, seolah rakyat diabaikan, itu bukan lagi kritikitu provokasi yang berbahaya," tegasnya.
Ia bahkan menyebut pendekatan tersebut sebagai cara-cara yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi merusak tatanan demokrasi.
"Ini cara pengecut. Ingin menjatuhkan kepercayaan publik tanpa berhadapan secara terbuka melalui mekanisme demokrasi," ujarnya.
BACA JUGA:Dibuka Menguat, IHSG Akhiri Sesi I dengan Terpuruk 0,29 Persen
Ketua Umum Pasbata menegaskan bahwa berbagai program prioritas pemerintah, seperti makan bergizi gratis (MBG) dan penguatan pendidikan melalui sekolah rakyat, merupakan bukti konkret kerja negara yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam narasi publik.
"Program nyata ada, kerja nyata berjalan. Tapi itu sengaja tidak dibahas. Yang diangkat justru narasi negatif. Ini tidak objektif," lanjutnya.
Lebih jauh, ia menilai serangan yang terus diarahkan kepada pemerintah, TNI, Polri, hingga Presiden menunjukkan pola yang tidak sporadis.
"Kita melihat ada pola. Serangan ini masif, berulang, dan terarah. Publik tidak boleh lengah membaca situasi ini," katanya.
Di tengah meningkatnya tensi global, ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh terpecah oleh narasi yang memperkeruh keadaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: