Jalan Baru

Jalan Baru

Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyatakan perundingan Islamabad gagal, tapi jalur diplomatik tetap terbuka -Tasnim News Agency-

Di Amerika sendiri banyak yang berdoa agar perundingan Amerika-Iran itu gagal total. Apalagi di Israel: lebih banyak lagi.

Hanya Anda --dan saya-- yang berdoa agar perundingan damai itu berhasil. 

Tapi doa merekalah yang dikabulkan: perundingan di Islamabad resmi dinyatakan gagal. Total. Jalan buntu. Delegasi dari kedua negara pun meninggalkan ibu kota Pakistan tanpa saling bertemu.

Setidaknya pejabat tinggi dari kedua negara sudah berhasil menginap bersama di satu hotel yang sama. 

Bukan berarti, begitu mereka pulang, perang langsung kembali meletus. Status gencatan senjata masih berlaku --sampai 10 hari lagi.

Mungkin saja, pada pukul 00.01 tengah malam tanggal 10 hari lagi bom dan rudal kembali mengarah ke sasaran masing-masing. Hancur-hancuran. Bisa lebih seru dari sebelum gencatan senjata. Mereka sudah cukup istirahat. Tenaga sudah pulih untuk memulai perang baru.

Atau, keduanya hanya saling tunggu: siapa yang memulai serangan lebih dulu. Siapa yang memulai akan mendapat penilaian negatif dari seluruh dunia.

Pun 28 Februari lalu: dunia mencatat Amerika-Israel lah yang lebih dulu menyerang Iran. Justru di saat perundingan antara Amerika-Iran mendekati kesepakatan.

Perundingan kali ini, di Islamabad itu, memang lebih sulit: Iran telanjur babak belur. Iran menuntut ganti rugi sebagai prasyarat perundingan dimulai. Tuntutan seperti itu tidak ada di perundingan sebelum perang.

Bisa jadi pada pukul 00.01 di tanggal itu nanti tidak terjadi apa-apa. Kedua belah pihak saling menahan diri. Perang 40 hari kemarin ternyata hanya menghabiskan biaya dan kepercayaan politik. Tidak ada yang menang. Yang menang hanya para sengkuni.

Apalagi belum jelas pula siapa yang akan membayar tagihan perang 40 hari itu. Rakyat Amerika Serikat? Atau Presiden Donald Trump mengirim kuitansi biaya perang ke negara-negara Arab di Teluk Parsi? Bisa jadi perang meletus lagi bila sudah jelas siapa yang membayar tagihannya.

Kemungkinan lain: gencatan senjata diperpanjang. Bisa tambah dua minggu lagi. Itu perlu. Berhubungan lawan jenis saja perlu jeda. Apalagi perang.

Selama jeda itu Amerika bisa mengumpulkan kuitansi-kuitansi pembelian senjata. Ditambah biaya operasional kapal perang dan pesawat tempur. Plus uang makan 20.000 personel selama 40 hari. Lalu bikin surat tagihan ke negara-negara Arab. Disertai perhitungan bunga dan biaya tidak terduga. Termasuk uang duka cita meninggalnya banyak tentara Amerika.

Selama jeda yang sama Iran bisa memperbaiki senjata yang rusak. Atau mengerahkan alat berat membuka bunker yang pintu masuknya dihancurkan serangan Israel-Amerika. Lalu Iran mengeluarkan senjata yang disimpan di dalamnya. Senjata itu mestinya tidak rusak. Tinggal memindahkan ke tempat lain. 

Soal senjata ini sebuah media Amerika kemarin menyiarkan berita yang sangat menjengkelkan Menteri Pertahanan Pete HegsethThe Wall Street Journal

Koran itu mewawancarai intelijen Amerika secara rahasia. Tidak disebutkan siapa nama intelijen itu dan dari divisi apa. Intinya, kata si intelijen, Iran masih memiliki banyak sekali senjata. Terutama rudal jarak menengah --bisa menyasar sampai ke Tel Aviv di Israel.

Hegseth jengkel dengan pemberitaan itu dengan alasan yang Anda sudah tahu: ia sudah beberapa kali menegaskan seluruh armada angkatan laut Iran musnah, industri senjatanya sudah punah, persediaan senjata Iran sudah habis, dan sistem komando Iran sudah tidak berfungsi.

TWSJ sendiri mewawancarai intelijen itu karena tergelitik oleh kenyataan Iran masih mampu menembak jatuh pesawat tempur Amerika. Juga masih bisa meluncurkan rudal jarak jauh dan menerbangkan banyak sekali drone. Padahal semua itu terjadi justru setelah Hegseth menyatakan Iran sudah tidak punya kemampuan militer.

Lalu apa yang dilakukan Indonesia di masa jeda gencatan senjata itu?

Presiden Prabowo diberitakan akan kembali terbang ke luar negeri. Kali ini ke Rusia.

Di dalam negeri politisi dari Partai Nasdem banyak yang melakukan perang gerilya. Sebagian sudah melakukan operasi penyusupan ke Partai Gajah PSI. Sebagian lagi ke partai penguasa: Gerindra. Sebagian lagi masih bisik-bisik.

Perang gerilya seperti itu sampai pula ke daerah-daerah. 

Ketua-ketua Gerindra di daerah sering menerima telepon dari politisi Nasdem di tingkat lokal: mereka menyatakan sudah siap untuk bedol desa.

Perundingan damai di Islamabad menemui jalan buntu. Di dalam negeri politisi Nasdem mencari dan menemukan jalan baru.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 12 April 2026: Hotel Syiah

Muh Nursalim

Iran menang. Sepuluh tuntutan yg disampaikan tak perlu dinego. Langsung saja acc. Pememang berhak menentukan arah. Pecundang tinggal ngikut. Ndak setuju ya ndak pa pa. Tinggal kirim rudal saja. Ke berbagai kepentingan Amerika n Israel.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

AMERIKA MASIH FOKUS KE IRAN DAN UKRAINA, 

TAIWAN DAN TIONGKOK SALING SAPA..

Dunia hari ini seperti menulis dua cerita dalam satu halaman. 

Amerika Serikat masih menatap jauh ke Iran dan Ukraina. Satu tentang kecemasan. Satu tentang luka yang belum kering. Kalimatnya tegas. Nadanya tinggi. Seperti percakapan yang terlalu lama ditunda.

Sementara itu, di timur sana, Tiongkok dan Taiwan memilih cara lain. 

Tidak selalu sejalan. 

Tidak juga sepenuhnya berjarak. 

Tapi ada isyarat. Ada sapaan. Tipis, namun terasa. Seperti dua hati yang pernah dekat, lalu belajar berbicara pelan-pelan agar tidak saling melukai.

Barangkali dunia memang butuh kontras. Agar kita tahu, tidak semua ketegangan harus meledak. Ada yang cukup disimpan dalam jeda. Dalam diam yang saling mengerti.

Dan di antara hiruk politik global, momen-momen seperti itu terasa hampir romantis. Bukan karena tanpa masalah. Tapi karena masih ada pilihan untuk tidak memperbesar jarak.

Sadewa 19

Saya pernah diminta mendamaikan 2 orang warga yg sedang berselisih. Ternyata begitu sulit. Level sulit berikutnya mungkin mendamaikan suami istri, level berikutnya lagi mendamaikan OPM, level sulit lainnya mendamaikan Gajah dan Banteng.

Mungkin itu yg dilihat oleh IRAN dan ISAM, ketika mereka sama sama perang. Mereka hanya ingin didamaikan oleh Negara dan pemimpin yg berpengalaman. 

mario handoko

selamat siang bp sadewa.

next time jika bp sadewa ingin mendamaikan 2 orang. tidak perlu jauh2 berunding ke serena hotel pakistan.

cukup berunding di vasa hotel surabaya.

bayangkan. abah dan pak gm. yang sudah tidak bertemu selama 10 tahun. bisa berpelukan dan berdamai di meja makan resto xiang fu hai, vasa hotel.

Fajar Wisnu Wijayanta

Jadi ingat Agha Khan award yang diberikan untuk pemukiman pinggiran kali code Jogja . Pemukiman yang ditata oleh Bapak Mangunwijaya

Juve Zhang

F15 Milik A konvoi masuk daratan Iran tak disangka Manpad Made in Tiongkok nyasar kena satu F15 Rontok lah F15 ....konvoi langsing balik badan belok kembali....gimana sebuah Manpad yg dipanggul di bahu bisa merontokan F15???....ini kehebatan teknologi Tiongkok....mereka mencari panas mesin pesawat militer....dan Hebat nya mampu mengejar kecepatan tinggi dan boom !!!...dalam masa jeda ini Iran pesan lagi Manpad entah via negara mana ....terendus oleh intelijen A....akan ada pengiriman Manpad lagi...tentu saja Jubir T menyangkal kirim ke Iran tetapi pasti lewat negara ketiga....namanya Sohib harus dibantu supaya menang perang.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

ALIRAN-ALIRAN SYIAH 

DAN CABANG-CABANGNYA...

Kita sering menyebut Syiah seperti satu wajah. Padahal ia lebih mirip keluarga besar. 

Ada tiga “rumah utama”. 

1) Pertama, Syiah Dua Belas Imam. Ini yang paling besar. Banyak di Iran dan Irak. 

2) Kedua, Ismailiyah. Di dalamnya ada cabang-cabang lagi. Seperti Nizari yang dipimpin Aga Khan. 

3) Ketiga, Zaidiyah. Lebih sederhana. Banyak di Yaman.

##

Menariknya, justru di cabang-cabang itu cerita menjadi kaya. 

Ismailiyah punya jalur sejarah yang berliku. 

Zaidiyah punya pendekatan yang lebih dekat ke Sunni. 

Sementara Dua Belas Imam membangun tradisi teologi yang sangat kuat. 

Perbedaan itu bukan retak. Lebih seperti variasi nada dalam satu lagu panjang.

Kita mungkin tidak perlu menghafal semua cabangnya. Cukup memahami bahwa di balik satu nama, ada banyak perjalanan. Dan setiap perjalanan punya alasan sejarahnya sendiri.

Di situlah letak pelajarannya. Bahwa perbedaan tidak selalu harus disederhanakan. Kadang justru perlu dirawat. Agar kita tidak mudah merasa paling benar sendirian.

Juve Zhang

Suhu Xi kepada Cheng li Wun:" kemajuan bangsa T tidak bisa dibendung oleh kekuatan manapun" .... ngomong nya ke Cheng li Wun maksudnya ke Trumpet....wkwk ini permainan politik tingkat Suhu.... Jensen Huang kembali memuji ilmuwan T....kemajuan teknologi robotika T jauh melampaui A.....lagi lagi menohok penggemar A ke jurang dalam....Jensen Huang Warga negara Taiwan dan A tetapi selalu memuji setinggi langit kemajuan teknologi Tiongkok.... Jensen Huang manusia 3700 triliunan yang otaknya Masih NORMAL.....wkwk

Taufik Hidayat

Maaf sebelumnya. Terus terang saya koq gak mantap membaca judul artikel abah kali ini. Walau masih konsisten dua kata tapi koq miris .  Hotel dihubungkan dengan kepercayaan pemiliknya ? Apakah kalau intecibyebatak hotel , Hyatt hotel , serathin hotel jadi hotel kafir? He he . Lagi pula walau bukan syiah khan tetap bisa menginap di sana.  Ini juga membuktikan bahka yang dibanding bukan termasuk grup Serena yang milik Aga Khan.. lau mengapa penghargaan arsitektur untuk bandara Soekarno Hatta terminal 1 dan 2 tidak disebut penghargaan Syiah he he he..  apakah yang menginap mesti syiah ?  Masih beda khan sama hotel syariah yang menginap harus suami istri dan menunjukan akta nikah atau KTP dengan alamat yang sama?  Maaf  sekali lagi nyuwun pangapunten… 

Taufik Hidayat

Waduh .  Kembali saya suka sedih kalau membaca tulisan Anda Sudah Tahu, karena saat pertama membaca saya belum tahu siapa pemilik Serena Hotel.   Saya sendiri pertama kali mengetahui Serena Hotel itu di Kenya , yaitu di Nairobi dan juga ketika safari di Maasai Mara ada Mara Safari Serena lodge.  Juga ketika safari di Lake Manyara dan Ngorongoro  di Tanzania. bahkan di Stone Town di Zanzibar.  Kenapa mudah diketahui sewaktu safari ? Karena banya papan petunjuk dan iklannya .. Tapi saya baru tahu siapa engkong melarat yang punya setelah baca artikel abah DI.   Aga Khan dan Isnaili , wah jadi ingat perjalanan bersama penulis buku Garis Batas , Agustinus Wibowo di Atap Dunia yang bukan Tibet yaitu ke Jalan Raya M41 yang membentang di pegunungan Pamir di Tajikistan di dekat sungai Panj.  Di sana kami sempat mampir ke desa desa orang Pamit yang menganut aliran Ismaili dan juga banyak sekali yayasan bantuan Aga Khan.  Sekolah dan juga madrasah, bahkan sempat mampir ke rumah salah seorang pininpiannay di desa Langar , di lembah Wakhan perbatasan Tajikistan dan Afghanistan.  Bahkan sempat juga mampir ke kompleks kuburan mereka.   Dan Serena hotel pun ternyata ada di Tajikistan, yaitu di Khorog , ibu kota propinsi GBAO.  Karena hanya kota kecil hotelnya pun kecil saja. Tapi yang lumayan mewah dan besar ada di Dushanbe , IbukotaTajikistan yang artinya Monday.   Lucunya jaringan hotel Monday malah ada di Jepang, khususnya di Tokyo ..  kadang semua yang ada di dunia ini saling terkait.

Mada Suradi

Wah saya mau tulis juga niac mitra pernah juara piala Aga khan.... Niac sdh bubar pemiliknya sdh gak ngurusi sepak bola , lapangan sepakbola miliknya ygbdi raya prapen yg jadi home base klub anggota Persebaya, Mitra Untag... Sdhjadi lahan jualan tanaman hias, sesekali buat even pameran, entah lukisan , bonsai... Barangkali sdh kapok ngurusi sepakbola, untungnya jika menang taruhan judi para mafia bola.... Wkwkwk

Jo Neka

Maaf Bapak Dahlan..Biarkan dia Syiah.Atau atheis sekalipun.Bagi saya tidak masalah.Sebab biasanya pemikiran Sapiens.Tidak menjadi jernih.Karena membawa² agama.Padahal baik buruk Sapiens tidak.bergantung dia punya agama.

MZ ARIFIN UMAR ZAIN

Syiah Ismailiyyah, 1000 tahun yl pernah mengambil hajar aswad selama 20 tahun. Memerangi orang yg sedang berchajji dg semboyan: bunuh orang kafir, penyembah batu.

Kelompok nya bernama Qoromithoh.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

HOTEL, IMAM, DAN 

DIPLOMASI YANG MENGINAP..

Hotel kadang lebih jujur dari ruang sidang. Ia tidak berdebat, tapi mencatat siapa datang, kapan, dan dengan agenda apa. Serena Islamabad itu tampak seperti museum. Empat lantai saja. Bata merah. Gaya Mughal. Tapi isinya: percakapan yang bisa mengubah arah dunia. Ironi yang elegan.

Pemiliknya bukan sekadar konglomerat. Ia imam. Shah Karim al-Hussaini. Nama yang lebih sering terdengar di ruang spiritual, bukan di meja bisnis. Tapi justru di situlah menariknya. Hotel ini bukan hanya properti. Ia semacam perpanjangan selera, jaringan, dan mungkin—sedikit—pengaruh.

Serena bukan hotel yang ingin terlihat tinggi. Ia memilih berwibawa. Tidak menjulang, tapi mengendap. Seperti diplomasi yang baik: tidak selalu keras, tapi efektif. Bahwa Iran dan Amerika “bertemu” di bawah atap milik seorang imam Syiah, terasa seperti plot yang ditulis terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Di luar, rakyat tetap berebut bus. Di dalam, negara berebut posisi. Hotel ini diam. Tapi mungkin ia tersenyum kecil: semua tamu penting, tapi checkout tetap jam 12.

Kujang Amburadul

Saya malah senang, biar saja tulisan Abah apa adanya. Justru ini membiasakan perusuh tetap terjaga kewaspadaan membacanya, sehingga untuk memberi komentar harus berfikir banyak2.

Salam perusuh.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DIPLOMASI 

DI BALIK DINDING MERAH..

Perundingan ini seperti catur kelas dunia. Tidak ada yang benar-benar ingin skakmat cepat. Semua ingin menang, tapi tetap tampak santun.

Iran datang membawa agenda jelas: uangnya kembali dulu, baru bicara lain. Amerika datang dengan wajah lebih halus: kirim wapres yang sejak awal tidak doyan perang. Ini bukan kebetulan. Ini sinyal.

Hotel mewah itu hanya panggung. Negosiasi sesungguhnya terjadi di balik kalimat-kalimat yang tidak selesai. Senyum yang ditahan. Dan jeda yang sengaja dipanjangkan.

Menariknya, kedua pihak sama-sama “mengirim harapan”. Iran kirim figur yang relatif bisa diterima Barat. Amerika kirim orang yang relatif bisa diterima Iran. Seperti dua orang keras kepala yang sepakat meminjam nada lembut.

Di sini, yang mahal bukan kopi hotel. Tapi setiap kata yang diucapkan. Salah sedikit, bisa jadi misil. Benar sedikit, bisa jadi jalan pulang.

Negosiasi bukan soal siapa paling kuat. Tapi siapa paling sabar menunda emosi.

Dan seperti biasa, dunia menonton. Sambil berharap, semoga yang pulang bukan hanya delegasi. Tapi juga akal sehat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 148

  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Wilwa
      Wilwa
  • andi setiawan
    andi setiawan
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Mada Suradi
      Mada Suradi
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • andi setiawan
    andi setiawan
  • pak tani
    pak tani
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • pak tani
    pak tani
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Runner
    Runner
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • pak tani
      pak tani
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Nusantara Hijau
    Nusantara Hijau
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Liáng - βιολί ζήτα
      Liáng - βιολί ζήτα
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Wilwa
    Wilwa
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
  • Wilwa
    Wilwa
  • yea aina
    yea aina
    • yea aina
      yea aina
    • Wilwa
      Wilwa
    • yea aina
      yea aina
  • Wilwa
    Wilwa
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • alasroban
      alasroban
    • Wilwa
      Wilwa
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • doni wj
    doni wj
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Kurniawan Roziq
    Kurniawan Roziq
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Runner
    Runner
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Mada Suradi
      Mada Suradi
  • doni wj
    doni wj
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Someone Random
      Someone Random
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • pak tani
      pak tani
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Laksana DedeS
    Laksana DedeS
    • alasroban
      alasroban
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Tivibox
    Tivibox
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Andrea X
      Andrea X
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Vikagora Prayogi
    Vikagora Prayogi
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • milomilomo
    milomilomo
  • Lutfi ꦱꦸꦩꦶꦠ꧀ꦫꦺꦴ
    Lutfi ꦱꦸꦩꦶꦠ꧀ꦫꦺꦴ
  • Captain Bejo
    Captain Bejo
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Anwar Hamid
    Anwar Hamid
  • alasroban
    alasroban
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Muhammad Juwat Sandri
    Muhammad Juwat Sandri
  • Clay Ton
    Clay Ton
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • ZULKIFLI MTK
    ZULKIFLI MTK
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Mundir Ansori Al Fauroni
    Mundir Ansori Al Fauroni
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus
  • DeniK
    DeniK
  • DeniK
    DeniK
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Sugi
    Sugi
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Wiranto 46
    Wiranto 46
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus