Shrinkflation Mengintai, Kenaikan Harga Plastik Picu Inflasi Tersembunyi yang Gerus Daya Beli

Shrinkflation Mengintai, Kenaikan Harga Plastik Picu Inflasi Tersembunyi yang Gerus Daya Beli

Fenomena ini dikenal sebagai shrinkflation, imbas kenaikan harga plastik yang memicu inflasi tersembunyi dan diam-diam menggerus daya beli masyarakat.--Bianca Khairunnisa

Sementara, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menambahkan shrinkflation juga menjadi strategi bertahan pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ketika daya beli masyarakat melemah.

Menurutnya, pelaku usaha biasanya melakukan strategi downsizing atau mengecilkan ukuran produk agar tetap sesuai dengan kemampuan beli konsumen.

"Shrinkflation terjadi karena pelaku usaha mencoba menyesuaikan produk dengan daya beli masyarakat yang turun," kata Bhima saat dihubungi disway.id pada Sabtu, 11 April 2026.

Fenomena ini, lanjutnya, kerap terlihat pada produk makanan ringan hingga minuman berpemanis. Bahkan perubahan ukuran juga terjadi pada produk lain seperti rokok.

Ia mencontohkan, pada awal tahun 2000-an masyarakat masih banyak membeli minuman bersoda ukuran besar hingga 2 liter. Namun seiring waktu, ukuran produk tersebut semakin mengecil.

Hal serupa juga terlihat pada kemasan rokok yang kini banyak dijual dalam jumlah batang lebih sedikit dibanding sebelumnya.

BACA JUGA:Makan Soto di Blok M Jadi Lebih Mahal karena Harga Plastik Naik, Maemunah: Kertas Bungkus Nasi Juga Naik

"Dulu satu bungkus rokok bisa berisi 16 batang. Sekarang ada yang hanya 8 sampai 10 batang per kemasan," jelasnya.

Bhima menilai shrinkflation pada akhirnya merugikan baik bagi konsumen maupun pelaku usaha.

Konsumen harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan yang sama, sementara pelaku usaha tetap menghadapi tekanan biaya produksi.

Menurutnya, dampak paling berat dirasakan oleh masyarakat kelas bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pokok.

"Semakin rendah kelas konsumen, semakin besar porsi pendapatan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sementara kenaikan pendapatan mereka tidak signifikan," pungkas Bhima.

Karena itu, para ekonom menilai penting adanya transparansi informasi produk agar konsumen mengetahui jika terjadi perubahan ukuran atau isi barang.


Dengan naiknya bahan pangan dan bahan baku di pasaran, tidak sedikit pula pelaku usaha yang harus merogoh kocek lebih besar dari biasanya untuk mengakomodasi kenaikan harga plastik ini.--Anisha Aprilia

BACA JUGA:Harga Plastik Naik Akibat Konflik Global, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi Bea Masuk

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: