Shrinkflation Mengintai, Kenaikan Harga Plastik Picu Inflasi Tersembunyi yang Gerus Daya Beli
Fenomena ini dikenal sebagai shrinkflation, imbas kenaikan harga plastik yang memicu inflasi tersembunyi dan diam-diam menggerus daya beli masyarakat.--Bianca Khairunnisa
Dipo mengungkapkan fakta bahwa sampah laut di Indonesia masih didominasi oleh material plastik yang sangat sulit terurai.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK tahun 2023, Indonesia menghasilkan 56,6 juta ton sampah per tahun, di mana hampir 10 juta ton atau 18 persen di antaranya adalah sampah plastik.
Dipo memperingatkan bahwa jika pola konsumsi tidak segera diubah, timbunan plastik akan menjadi bom waktu ekologis yang membebani keuangan negara di masa depan melalui tingginya biaya pemulihan lingkungan.
“Kita harus jujur bahwa sampah plastik adalah ancaman serius. Plastik mencemari laut, membunuh biota, hingga menyumbat saluran air yang memicu banjir. Upaya pengurangan harus dilakukan secara sistematis sekarang juga, jangan menunggu kondisi lingkungan semakin memburuk,” tegas legislator PKB tersebut.
Legislator asal NTT ini mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan pelarangan plastik sekali pakai secara nasional dan memperluas program daur ulang.
Ia juga menantang sektor industri untuk segera beralih ke kemasan ramah lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab produsen terhadap limbah yang mereka hasilkan.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik, Pedagang Akui Stok Pasokan Mulai Langka di Pasaran
“Kenaikan harga ini harus dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku di tingkat industri dan masyarakat. Ini saatnya kita beralih ke pola konsumsi yang lebih berkelanjutan demi melindungi generasi mendatang,” pungkasnya.
Kenaikan harga plastik dan maraknya praktik shrinkflation pada akhirnya menunjukkan satu hal: tekanan ekonomi tidak selalu datang secara terang-terangan, tetapi bisa hadir secara halus dan perlahan menggerus daya beli masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, respons pemerintah, transparansi pelaku usaha, serta kecermatan konsumen menjadi kunci untuk menahan dampak yang lebih luas.
Jika tidak diantisipasi, fenomena ini berpotensi terus menekan masyarakat secara diam-diam. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk mendorong sistem ekonomi yang lebih transparan, efisien, dan berkelanjutan.
REPORTER: Anisha Aprilia, Bianca Chairunnisa, Dimas Rafi
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: