Bertahun-Tahun Kerja Keras, Kini Pengalaman Bisa Jadi Jalan Naik Level Karier Lewat Program RPL

Selasa 05-05-2026,20:00 WIB
Bertahun-Tahun Kerja Keras, Kini Pengalaman Bisa Jadi Jalan Naik Level Karier Lewat Program RPL

Melalui RPL, pengalaman yang relevan dapat dikonversi menjadi satuan kredit semester. Dengan begitu, mahasiswa tidak perlu memulai dari nol dan masa studi dapat ditempuh lebih efisien.--Universitas Esa Unggul

JAKARTA, DISWAY.ID - Bertahun-tahun bekerja, menambah pengalaman, dan membuktikan kemampuan di tempat kerja, namun saat ingin melanjutkan pendidikan demi membuka peluang karier yang lebih tinggi, banyak pekerja justru menghadapi kendala yang sama: harus memulai lagi dari awal.

Kondisi ini masih dialami banyak profesional di Indonesia. Pengalaman kerja yang dibangun selama bertahun-tahun sering kali belum sepenuhnya terakomodasi dalam sistem pendidikan formal.

Akibatnya, pekerja membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh kualifikasi akademik yang dibutuhkan di jenjang berikutnya.

BACA JUGA:1,9 Juta Lapangan Kerja Baru Tumbuh, Per Februari 2026 Ada 147,57 Juta Orang Produktif

Di tengah dinamika dunia kerja saat ini, tantangan tersebut semakin terasa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi ketenagakerjaan 2025, rata-rata jam kerja pekerja Indonesia mencapai sekitar 41 jam per minggu.

Untuk kategori buruh, karyawan, dan pegawai, angkanya dapat mencapai sekitar 43 jam per minggu. Sekitar 25 persen pekerja bahkan bekerja lebih dari 49 jam per minggu, yang masuk kategori jam kerja berlebih.

Artinya, banyak pekerja sudah menghabiskan waktu dan tenaga untuk belajar langsung di lapangan, tetapi masih membutuhkan pengakuan formal agar bisa naik ke level karier yang lebih tinggi.

BACA JUGA:Sudah Kerja Keras Bertahun-tahun, Tapi Tak Kunjung Naik Jabatan? Ini Dilema Pekerja yang Kini Mulai Terjawab

Arif (35), operator di perusahaan manufaktur, merasakan situasi tersebut. Selama lebih dari 10 tahun bekerja keras, ia menguasai proses produksi, pengendalian kualitas, hingga membantu koordinasi tim di lapangan.

Namun ketika peluang naik ke posisi administratif terbuka, ia terkendala syarat pendidikan formal.

“Secara pekerjaan saya sudah paham alurnya. Tapi kalau mau lanjut, rasanya harus mulai lagi dari awal. Itu yang bikin saya sempat ragu,” ujarnya.

Kini Arif memilih melanjutkan pendidikan di bidang Teknik Industri agar pengalaman kerjanya dapat diakui sekaligus memperkuat kompetensi manajerial.

Cerita serupa dialami Sari (30), staf administrasi yang telah bekerja keras hampir tujuh tahun.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait