Bandit Sosial

Bandit Sosial

Husni Kasdut (tengah) saat diamankan petugas.--

Saya ke Universitas Indonesia pagi ini –setelah kemarin sore ke Universitas Paramadina.

Di UI ada rekan wartawan meraih gelar doktor: disertasinya mengenai Kusni Kasdut.

Di Paramadina, yang tahun ini mulai membuka program doktor, ada diskusi tentang krisis dan manajemen krisis.

Fajar Kurniawan, wartawan itu, mencari saya sampai ke tempat senam dansa: minta saya jadi salah satu penguji dari luar universitas.

Pada awalnya saya menolak: saya tidak ahli di bidang ilmu yang jadi objek penelitian: ilmu sejarah. Tapi Fajar mengajukan alasan: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr Untung Yuwono memutuskan nama saya yang disetujui. Demikian juga promotor Fajar, Prof Dr R. Tuty Nur Mutia.

Alasan mereka: sayalah wartawan yang pernah mewawancarai Kusni Kasdut. Yakni saat tokoh itu tinggal di penjara Kalisosok Surabaya –menunggu hukuman matinya dilaksanakan.

Itu sudah lama sekali. Tahun 1979-an. Saya masih jadi wartawan junior di Majalah Tempo –untuk daerah liputan Jatim. Sebagai wartawan yang baru pindah dari Samarinda saya tidak tahu siapa Kusni Kasdut. Yusril Jalinus, koordinator liputan Tempo di Jakarta yang menugasi.

Saya begitu takut tidak berhasil masuk penjara. Apalagi harus menemui Kusni Kasdut yang dijaga ekstra ketat. Ia terkenal sebagai narapidana yang sering kabur dan lolos dari penjagaan.

Saya sudah lupa teknik apa yang saya gunakan saat itu. Intinya: saya berhasil masuk ke sel Kusni Kasdut. Wawancara. Memotretnya.


--

Beberapa bulan kemudian Kusni Kasdut dieksekusi. Di pagi menjelang subuh tanggal 16 Februari 1980, Kusni menghadapi regu tembak. Lokasi eksekusinya di pepohonan di daerah tambak antara Surabaya-Gresik.

Yang diteliti oleh Fajar adalah: Apakah Kusni Kasdut bisa dikategorikan sebagai bandit sosial –sebagaimana citra yang berhasil disandang oleh Robin Hood. Atau kalau untuk ukuran lokal bisa disejajarkan dengan bandit sosial Betawi: si Pitung.

Kesan Fajar: Kusni Kasdut memang sempat berhasil dicitrakan sebagai Robin Hood-nya Indonesia. Tetapi sebagai wartawan militan, Fajar curiga kesan bandit sosial untuk Kusni Kasdut itu lebih banyak karena framing media. Itulah yang lantas diteliti Fajar sampai berhasil menyusun disertasi untuk gelar doktornya pagi ini.

Fajar sangat lama menjadi wartawan ANTV. Tugas liputannya di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung. Di situ Fajar, putra Muara Enim itu, punya partner Agus Muttaqin, anak buah saya kala itu. Setiap kali selesai konferensi pers, dua orang ini membuntuti pejabat Kejagung: wawancara khusus. Keduanya tidak mau hanya menulis berita dari apa yang diucapkan di konferensi pers. Mereka harus cari informasi tambahan yang eksklusif.

Dengan kebiasaan menjadi wartawan yang gigih, Fajar tidak merasa lelah menelusuri jejak Kusni Kasdut. Padahal ketika Kusni mengakhiri hidupnya di depan regu tembak, Fajar baru berusia enam tahun.

Fajar berhasil menemukan tetangga Kusni di Blitar: sudah berusia 76 tahun. Fajar juga menelusuri Gang Jangkrik di kota Malang. Di situlah masa anak-anak Kusni. Ikut ibunya yang sudah janda ditinggal mati suami. Dulunya di gang itulah pusat penjualan binatang jangkrik.

Tapi Gang Jangkrik sangat terkenal karena ada Depot Jangkrik –dengan bakmi babinya yang kondang di kalangan Tionghoa. Ada dua lagi depot masakan Tionghoa di gang itu –salah satunya halal. Sampai sekarang tiga-tiganya masih ada.


Gang jangkrik di Kota Malang.-Imawan Mashuri-

Ketika Kusni memasuki masa remaja, Jepang menjajah Indonesia. Kusni masuk Heiho –tentara bantu Jepang.

Setelah Jepang kalah, Kusni bergabung ke kelompok pejuang anti penjajahan Belanda. Ia berpindah-pindah. Ketika di Madiun masuk ke brigade Teratai.

Di Surabaya ia pernah mendapat tugas merampok orang kaya di Surabaya. Hasilnya untuk dana perjuangan. Ia juga mengaku sempat tergabung ke dalam Tentara Rakyat Indonesia Pelajar, TRIP, di bawah komando Mas Isman –ayah Hayono Isman, mantan menpora.

Ketika Indonesia merdeka nasib Kusni termasuk yang kurang baik. Ia tidak memenuhi syarat tergabung ke pasukan resmi Tentara Nasional Indonesia. Tidak semua tentara rakyat memenuhi syarat tergabung ke TNI. Salah satunya: Kusni –karea punya sedikit cacat di kaki.

Tidak hanya Kusni. Banyak sekali bekas pejuang yang tersisih. Termasuk yang mengaku-ngaku pejuang –tidak ada yang kenal di medan tempur mana mereka melawan Belanda. Kekecewaan meluas. Menimbulkan ketegangan di mana-mana. Termasuk seperti yang tergambar dalam film Jenderal Nagabonar.

Kusni berkomplot dengan sesama teman yang kecewa. Mereka tidak punya sumber penghasilan. Kusni pun pernah merampok salah satu orang terkaya Jakarta: Ali Badjened. Keturunan Arab. Yang dirampok tewas. Bersimbah darah di Jalan Wahid Hasyim, Kebon Sirih.

Komplotan Kusni berhasil ditangkap tapi Kusni sendiri lolos. Hasil rampokan itu, katanya, dibagi-bagikan ke sesama mantan pejuang yang tidak punya penghasilan.

Yang paling menghebohkan, Anda sudah tahu: Kusni Kasdut merampok 11 berlian di Museum Nasional/Museum Gajah di dekat Monas.

Hari itu Kusni dan komplotannya menyaru dengan berseragam polisi. Dua penjaga museum tidak curiga. Ketika temannya ''memeriksa'' penjaga, Kusni masuk museum. Naik ke atas. Ia congkel kotak kaca tempat 11 berlian dipajang. Berlian ia ambil.

Akhirnya penjaga museum curiga dan ingin mencegah perampokan. Mereka ditikam komplotan Kusni Kasdut. Kusni sendiri kabur.

Sekali lagi mereka mengaku hasil rampokan untuk dibagikan ke teman-teman pejuang senasib. Teman-teman Kusni tertangkap. Akhirnya Kusni juga tertangkap. Dijatuhi hukuman mati.

Untuk mengejar semua jejak itu, Fajar berminggu-minggu di Jatim. Di Malang ia berkenalan dengan tukang ojek sepeda motor. Ke mana-mana Fajar diantar dengan naik motor. Ke Blitar, ke Surabaya, ke Probolinggo. Berhari-hari. Panas. Hujan. Kehausan. Kelaparan.


--

Di Probolinggo Fajar beruntung: menemukan makam Kusni Kasdut. Dari situ ditemukan juga rumah anak kedua Kusni: Bambang. Berjam-jam Fajar mewawancarai Bambang. Sampai tukang ojek curiga kok penumpangnya tidak muncul-muncul.

Dari Probolinggo Fajar kembali naik motor ke arah Malang. Di tengah jalan minta istirahat. Ia pun pinsan. Rasanya badan Fajar terlalu gemuk untuk kuat diajak naik motor ke berbagai kota seperti itu.

Waktu disertasinya selesai ditulis, Fajar ingin membagi kebahagiaan dengan sopir ojek di Malang itu. Ia WA si Ojek. Tapi hanya centang satu terus. Ia curiga. Ia tanyakan ke kenalan lain di Malang. Jawab kenalan itu: si tukang ojek sudah meninggal dunia.

Di saat dunia media tidak bisa diandalkan belakangan, Fajar kuliah S-2. Lalu S-3. Semuanya di UI.

Masa depan Fajar adalah di kampus: mengajar. Itulah dunia yang paling dekat dengan jurnalisme: dunia intelektual. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 5 Mei 2026: Kelapa Gading

Er Gham 2

Buat para developer property, saat membangun rumah tapak yang berderet sweet, bisakah buat bentuk rumah yang berbeda satu sama lain. Minimal berbeda tampak depannya, baik dari warna cat rumah, pagar, desain teras, kanopi garasi, dan lainnya. Supaya tidak seragam desain depannya. Namun dibangun dengan biaya yang sama, hanya berbeda desain saja. Terserah nanti konsumen pilih yang mana. Sepertinya saya belum pernah lihat desain depan perumahan yang berbeda antar rumah bersebelahan.

Liam Then

Kuala Tanjung itu 600 km , di depan Singapura. Jumlah kapal hilir mudik Selat Malaka Tahun 2024: Sekitar 94.300 unit kapal. Tahun 2025: Menembus angka psikologis 102.500 unit kapal. Berikut info yang saya dapat dari AI Kapal kontainer pakai ukuran bahan bakar per ton, marine fuel namanya. Perkiraannya $600 USD/ton. Satu kapal kontainer ukuran sedang 4000-5000 TEUS Biaya per 100 KM: 12 ton x $600 = $7.200 USD (sekitar Rp115 Juta). Jadi jika sandar lebih awal di depan. 600km x 12 ton = 72 ton penghematan. 72 ton X $600 = 43.200 USD atau (690jt) Sekarang bayangkan begini, jika SDA di Sumatera ekspor tak perlu berangkat ke Singapura lagi. Berapa banyak untungnya bagi pengekspor dalam negeri? Berapa banyak penghematannya? Dan satu lagi, berapa banyak penghematan devisa? Belum lagi multiplier kegiatan kawasan yang pasti bakal hiruk pikuk, pergudangan, trucking, kenaikan harga tanah, properti. Itu belum hitung kapal-kapal internasional yang mau sandar karena iming-iming lebih hemat BBM. Diatas itu hitungan untuk kapal kontainer sedang. Kalo kapal kontainer besar, saya malas itung. Pelabuhannya masih tak ada kwkwkwkwk. Itu juga duit orang semua, bukan duit saya. Hahaha.... Sungguh terlalu jika pemerintah tak berani habis banyak di sini. Puluhan tahun sejak merdeka ,punya property super premium. Tidak dikembangkan. Padahal modal kurang apa? Perusahaan mungkin susah dapat dana pinjaman jika tak punya uang. Danantara Asetnya berapa?

Bahtiar HS

Pahoa sempat mati panjang karena peristiwa 1966. Mati panjang 40 tahun. Baru alumninya menghidupkan kembali tahun 2008 di Summarecon Serpong. 1966 mati 40 tahun. Berarti hidup lagi mestinya 2006. Kalau baru 2008 artinya matinya 42 tahun, Bah. Lama-lama saya jadi percaya sama olok-olokan Cak Mul. Abah itu nilai Matematika di raportnya jangan-jangan memang MERAH. Ambyar...

Achmad Faisol

lagi ramai di MK masalah kuota internet hangus... pelanggan mengaku rugi, operator mengaku ga untung... sebenarnya ini masalah pandangan terhadap internet sebagai apa... operator memandang ini bisnis... ya harus untung, meskipun dalihnya demi kelancaran, kapasitas jaringan, dll... saat ini internet sudah bisa dikategorikan kebutuhan pokok seperti listrik... oleh karena itu, pemerintah harus intervensi... bisa saja ada skema internet bisnis dan umum... atau ada penggolongan, kalau listrik berdasarkan VA, sedangkan internet berdasarkan kuota (G)...

Jo Neka

Bukan saja merah mas Bahtiar..Saat jam pelajaran berhitung..Abah ngilangg

Liam Then

Sebenarnya sukses yang diceritakan Pak DI hari ini apakah termasuk survivor bias? Dari banyak pengembang di Indonesia, berapa banyak yang gagal besar, berapa banyak tabg yang malah terbelit utang? Dunia usaha itu kayak hutan rimba, selalu ada raja rimbanya, predator kelas teratas. Jadi museum dalam cerita, itu mungkin monumen keberhasilan perjuangan, di ganasnya industri properti di sekitaran Jakarta. Jika ada yang merasa aneh, kenapa ini didominasi oleh pengusaha keturunan Tionghoa. Jangan. Itu hal natural, sudah berapa lama Tionghoa ada di Jakarta? Dari dulu profesinya bontot, ultimatenya selalu pedagang, businessman. Mengalami tempaan, refinement kurun waktu ratusan tahun, wajar jika ada banyak yang tampil dipuncak. Karena generasi kehidupan sosial mereka , selalu berkubang dengan yang namanya dagang, usaha. Dari kecil sudah liat papa mamanya usaha, kakek buyutnya usaha, makanya ujungnya usaha juga. Tapi jangan lupa, namanya piramida itu ada. Dari banyak yang berhasil di puncak, lebih ramai lagi yang biasa saja di bawah. Yang banyak keturunannya banting setir kerja sama orang,karena tak punya modal usaha. Sekarang semuanya sama. Gen pengusaha itu ternyata menular asal dibukakan kesempatannya. Asal mau masuk, yang pintar tetap bakal pintar, ndak ada masalah suku. Contohnya yang mantan wartawan itu (kwkwkwkkw) , Bocah Tua Nakal itu saya berani bilang, lebih Tionghoa daripada banyak orang Tionghoa di bidang usaha. Asal wani, manis ada peluang keicip.

mario handoko

selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp jo, bp jokosp, sobat yea, bp udin, bp em ha dan teman2 rusuhwan. "kemenkeu ubah aturan restitusi pajak. wajib pajak patuh dapat prioritas." demikian berita di kontan.co.id. jika celengan kita di bca sudah gendut, otomatis bca menghadiahi status prioritas. mau setor tarik celengan? dipermudah dan dipernyaman. dilayani sambil duduk dan ngopi di ruangan vvip. lain lagi dengan prioritas versi kantor pak pur. jumlah celengan kita di kantor pak pur, tidak menjamin status prioritas. mengapa? yaaa memang berat jika sedang bokek. seseorang yg menitipkan uangnya ke kita. meminta balik uang tersebut. apalagi jika ternyata uangnya sudah dipakai buat nraktir2 makan teman2, keponakan2. itulah yg terjadi pada pak pur. ada banyak pengusaha yang meminta kembali setoran pajaknya. mungkin karena realisasi cuan di bawah target, sehingga pajaknya lebih bayar. namanya bokek, mau tak mau yaa harus dicicil ngembalikannya. supaya tidak kehilangan "mian zi". dibikinlah istilah "prioritas". kalau menurut rusuhwan pak je ka. prioritas bca menghadiahi gratis masuk lounge bandara. prioritas pak pur tentu tidak. lha memang maksudnya prioritas pak pur, adalah nyicil cara elegan.

Liam Then

Jadi saya harap, pemerintah yang sudah kadung habis banyak, di program MBG, IKN, fighter Jet. Mau habis banyak di Kuala Tanjung atau Sabang. Jangan nanggung, bangun bagus sekalian dengan teknologi paling muktahir. Tak mampu makan sendiri, kongsi orang pun tak apa-apa. Sudah berapa puluh tahun, SDA kita mampir bayar tol ke pelabuhan Port Klang dan Singapura? Padahal kita punya lokasi lebih premium di depan. Ini habis banyak yang bakal cepat/potensi berikan hasil. Dibanding dengan MBG misalnya yang butuh 40 tahun untuk berikan hasil. Biaya per tahun MBG itu, katanya ratusan triliun per tahun, angka dari AI setara 20+ miliar USD. Pembangunan kawasan pelabuhan modern, sekelas Shanghai dan Rotterdam, anggaplah kita pakai biaya 2 tahun MBG, itu 40 miliar USD. Dan itupun kita bisa Go Publickan lewat Danantara, atau Joint Venture. Pihak mana yang tak ngiler,liat potensi ekonomi Kuala Tanjung dengan backing potensi SDA dan populasi 60jt orang di Sumatera? Pembanding lain. Perluasan terusan Suez di Mesir, makan anggaran 8 miliar USD. Sungguh, sayang sekali kalo ndak dimanfaatkan secara maksimal lokasi premium ini.

Wilwa

Setelah melihat website pahoa.sch.id , lalu melihat tulisan di logo sekolah, ternyata Pahoa = Ba Hua 八華 (dibaca: Pahoa). Ba八 = delapan. Hua 華= Bunga mekar. 華 (Taiwan/Hongkong) disederhanakan menjadi 华 (Tiongkok). Terdiri dari simbol 化 (hua = changes, perubahan) di atas dan simbol + << 艸 (cao = grass, rumput) di bawah.

Liáng - βιολί ζήτα

iseng-iseng saja Terlepas dari berbagai isu terkait per-real-estate-an di Indonesia, yang seringkali dituding menjadi semacam penyebab terganggunya lingkungan, seperti : terhambatnya penyerapan air dan berdampak terhadap kemungkinan aliran air yang tidak terkendali, sehingga menjadi penyebab genangan air (banjir) di daerah lain. Juga menyangkut perizinan yang seringkali tidak proporsional, serta kucuran kredit perbankan yang lebih memperioritaskan para pengembang. Saya pikir, itu semua terkait kebijakan lintas sektoral yang semestinya lebih transparan. By the way, saya hanya ingin membahas mengenai Marga 梁 (Liáng)..... Kalau tidak salah..... Pak Soetjipto Nagaria, bermarga 梁 (Liáng), terlahir dengan nama keluarga 梁世坚 (Liáng Shì Jiān). Dan..... salah seorang perusuh yang suka iseng..... secara tradisi, sebenarnya diperbolehkan memanggil Beliau : 叔公 (shū gōng), meski tidak saling kenal..... [1/2]

Liáng - βιολί ζήτα

Bagaimana asal-usul Marga Liáng (梁) ?? Tersebutlah nama 秦仲 (Qín zhòng) keturunan Kaisar Legendaris 炎帝 (Yándì), pada masa pemerintahan 周宣王 (Zhōu xuānwáng) dari Dinasti Zhou (周朝 Zhōu cháo). 秦仲 (Qín zhòng) adalah komandan perang melawan 西戎 (Xīróng), sebuah suku di bagian barat. Dalam peperangan tersebut, 秦仲 (Qín zhòng) tewas. Di-kemudian hari, 5 orang anak 秦仲 (Qín zhòng) bersumpah untuk membalas dendam dan memohon kepada 周宣王 (Zhōu xuānwáng) agar mereka diijinkan bertempur melawan 西戎 (Xīróng). 周宣王 (Zhōu xuānwáng) setuju, dan memberikan 7.000 tentara terlatih. Singkat cerita, kelima bersaudara tersebut berhasil membalas dendam. 周宣王 (Zhōu xuānwáng) lalu memberikan anugerah negara-negara feodal kepada mereka berlima..... Anak kedua 秦仲 (Qín zhòng) yang bernama 康 (Kāng) diangkat sebagai penguasa 梁山 (Liángshān), sehingga dia kemudian dikenal sebagai 梁康侯 (Liángkānghóu), dan 梁 (Liáng) kemudian menjadi nama marga keturunannya. [2/2].

Wilwa

@Liang. Saya kira tadinya bermarga Lung 龍 alias Liong dalam logat Hokkien ternyata Liang 梁. Anda memang harus panggil “kakek paman” 叔公 karena masih satu marga. :)

Jokosp Sp

Saya angkat jempol buat pendiri Sumarecon yang sepi dari kasus dengan rakyat pemilik tanah. Saya akan angkat jempol keduanya kalau Abah berani tulis kunjungan ke PIK-2. Mega proyek ambisius yang banyak melakukan penggusuran paksa tanah rakyat pemilik syahnya. Akan angkat jempol ke empatnya kalau Abah bisa tulis pertemuan dengan Manusia Merdeka "Said Didu". Tapi saya yakin, seyakin-yakinnya "tidak mungkin" itu dilakukan. Ini proyek di muka mata pemimpin negeri ini. Ini di Jakarta, bukan tanah H.Yuyuf Kalla yang jauh di Sulawesi sana. Itupun masih diserobot. Padahal jika ada keberanian, maka tangan itu bisa menampar langsung muka pengusahanya dengan sangat keras dan kuat sampai babak belur, saking dekatnya. KKN selalu ada antara pemimpin dengan pengusahanya, karena ini di KanoHa.

Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)

Awal 2000, saya pernah membaca buku sejarah Mandarin di perpustakaan univ saya di Taiwan tentang Indonesia. Penasaran apa yang digambarkan orang negeri jauh tentang negara kita. Mungkin lebih fair. Muncul penjelasan tentang sekolah-sekolah Tionghua yang ada di Indonesia sebelum Orba. Dijelaskan Pahoa berasal dari kata "巴 (ba)" dan "華 (hua)", dan bernama asli 巴城中華學堂 (Sekolah Tionghua Batavia). Tahun 1901 saat Pahoa berdiri, Jakarta masih disebut Batavia. Namanya pun dalam kalangan Tionghua Hokkien (lingua franca Chindo zaman itu) disebut Basia. Dalam Mandarin Basia ditulis 巴城. Hingga sekarang pun, di kalangan Tionghua Hokkien Indonesia masih menyebut "Basia" untuk Jakarta. Jadi, saya rasa ada missing link yang menjelaskan kalau Pahoa berasal dari Jalan Patekoan. Bisa jadi pendirinya sekarang tidak menggunakan Hokkien lagi. Apalagi sekarang nama resmi Pahoa diubah jadi 八华 (ba = angka 8). Berubah total dari nama aslinya. Ya, terserah pendirinya, sih. Sejarah begitu mudah dibelokkan oleh generasi now.

mario handoko

selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp jo, bp jokosp, sobat yea, bp udin, bp em ha dan teman2 rusuhwan. "kemenkeu ubah aturan restitusi pajak. wajib pajak patuh dapat prioritas." demikian berita di kontan.co.id. jika celengan kita di bca sudah gendut, otomatis bca menghadiahi status prioritas. mau setor tarik celengan? dipermudah dan dipernyaman. dilayani sambil duduk dan ngopi di ruangan vvip. lain lagi dengan prioritas versi kantor pak pur. jumlah celengan kita di kantor pak pur, tidak menjamin status prioritas. mengapa? yaaa memang berat jika sedang bokek. seseorang yg menitipkan uangnya ke kita. meminta balik uang tersebut. apalagi jika ternyata uangnya sudah dipakai buat nraktir2 makan teman2, keponakan2. itulah yg terjadi pada pak pur. ada banyak pengusaha yang meminta kembali setoran pajaknya. mungkin karena realisasi cuan di bawah target, sehingga pajaknya lebih bayar. namanya bokek, mau tak mau yaa harus dicicil ngembalikannya. supaya tidak kehilangan "mian zi". dibikinlah istilah "prioritas". kalau menurut rusuhwan pak je ka. prioritas bca menghadiahi gratis masuk lounge bandara. prioritas pak pur tentu tidak. lha memang maksudnya prioritas pak pur, adalah nyicil cara elegan.

Liáng - βιολί ζήτα

Oom Liam Then, Konon, ada dua garis asal usul Marga Dèng (邓)..... 1. Pada masa Dinasti Xia 夏朝 (Xià cháo), ada sebuah negara bernama Dèng (邓). Di kemudian hari, negara Dèng (邓) dihancurkan oleh negara Chu (楚国 Chǔ guó). Sejak saat itu, rakyat dari negara Dèng (邓), mulai mempergunakan Dèng (邓) sebagai nama Marga. 2. Pada masa Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (五代十国), Raja 李煜 (Lǐyù), yang dikenal juga sebagai 李後主 (Lǐ hòu zhǔ) dari Tang Selatan (南唐 Nán táng) memberikan anugerah negara Dèng (邓) kepada anaknya. Setelah Tang Selatan (南唐 Nán táng) runtuh, generasi penerusnya melarikan diri ke daerah lain, dan mulai menggunakan Dèng (邓) sebagai nama Marga. Bagi berminat untuk mengetahui asal-usul berbagai Marga Chinese, silakan ditelusuri saja link : www.tionghoa.com

Juve Zhang

Walikota New York tidak hadir di peresmian Casino besar milik Genting Malaysia....photo Mamdani tak ada karena beliau mungkin tidak menganjurkan bisnis casino....sesuai ajaran agama Islam yng sejalan dengan ajaran suhu Xi Jin Ping tidak ada Casino di Da Lu....itu bukan usaha produktif....ajaran Islam sejalan dengan ajaran Suhu Xi Jin Ping buatlah usaha yang produktif misal buat mobil listrik Tiongkok hebat lalu ekspor ke mancanegara....kalau casino ajang tukaran duit....wkwkq

Juve Zhang

Anda masih ingat bandara hebat yg dibangun dari urugan pasir di jepang namanya kalau gak salah Bandara Kansai.... sekarang mulai penurunan tanah yg tak bisa diobati lagi....dalam dekade ke depan sungguh pasti tenggelam.... kegagalan ilmu teknik sipil di terapkan di bandara ini.... penurunan kemungkinan diluar perhitungan para ahli struktur tanah....melebihi hitungan ilmu tanah....harga mahal yg harus dibayar...ada bandara yg bagus tanah nya tapi sepi penumpang namanya Kert@[email protected] tahun makan duit pemeliharaan sekitar 35 ember Pertamax....wkwk

Muh Nursalim

Apik itu visi hidupnya. Nomor satu. Selalu memberi contoh yang baik. Tinggal masyarakat mencari sebaliknya. Adakah yang tidak baik dari ybs ? tinggal konfirmasi kepada yang punya visi. Cukup dengan sinyal tertentu. Itu ada yng tidak bisa dicontoh. Nomor satu ini kayaknya boleh dipaksakan kepada para pejabat. Biar kontrol masyarakat lebih mudah. sehingga negeri ini menjadi sangat baik. Karena semua pemimpin dan pejabatnya menjadi teladan.

Irary Sadar

Bicara tentang gen petempur, apa jadinya perpaduan Gen Jawa bertemu dengan Gen Melayu, seperti saya ini??? Hahaha..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BERAPA JUMLAH MITRA DRIVER APLIKATOR? Angkanya memang besar. 1) Gojek sekitar 3,1 juta. 2) Grab bahkan 3,7 juta. 3) Maxim menyusul, meski lebih senyap. 4) Dan lain-lain.. Sekilas, ini seperti pasukan raksasa. Siap digerakkan kapan saja. Tapi angka itu seperti foto keluarga. Lengkap, rapi, semua hadir. Kenyataannya? Yang benar-benar turun ke jalan tiap hari mungkin jauh lebih sedikit. Mungkin hanya sepertiganya. Aplikator sendiri yang lebih tahu. Kita hanya bisa menduga. Dan memperkirakan. Sisanya bagsaimana? Lainnya bagaimana? 1) Ada yang sambilan. 2) Ada yang rehat. 3) Ada yang sudah “pensiun diam-diam”. Non aktif. Di sinilah sering terjadi salah paham. Kita melihat jutaan, lalu merasa semua sejahtera atau semua bermasalah. Padahal realitasnya mungkin lebih tipis. Lebih rapuh. Lebih manusiawi. Atau mungkin tidak begitu. Ekosistem ini ibarat pasar malam. Ramai saat lampu menyala. Sepi saat hujan turun. Fleksibel, tapi juga rentan. Maka setiap kebijakan—termasuk soal bagi hasil—tidak bisa hanya melihat angka besar di atas kertas. Harus dilihat denyut aslinya. Berapa yang benar-benar hidup dari situ. Berapa yang menggantungkan dapur di sana. Karena di balik jutaan angka itu, ada satu-satu cerita. Dan cerita tidak pernah sesederhana statistik.

Taufik Hidayat

Wah saya baru tahu kalu di Kelapa Gading ada discovery yang mirip museum tapi bukan. Dan saya juga kurang gaul jadi tidak tahu kalau kelapa gading termasuk grup summarecon. Tapi kenapa yah wali kelapa gading ini termasuk perumahan kelas atas tapi kesannya koq banjir . Ternyata yah lokasi nya memang dulu rawa rawa wali kata orang Tionghoa termasuk jalur naga yang membawa hoki. Jadi ingat rumah bos saya dulu di Kemang yang tiap tahun tenggelam bahkan kolam renang dan piano ngambang tapi tetap hobi tidak pindah karena membawa hoki. Mau cerita lagi pengalaman saya di SMS Serpong ikut kuis yang adu kuat terus menerus hingga lebih 24 jam dan hadiahnya mobil ! Tapi terus terang bayak pembangunan perumahan di negeri ini yang sesungguhnya tidak tepat lokasi nya . Dulu rawa jadi perumahan , gak heran kalau kemudian banjir ? Apa lagi kalau hg nanya par rawa ! Banyak kan yg pake rawa di bekasi aja ada rawa lumbu rawa tembaga di jakarta ada rawa Lele yg dekat bandara ! tapi naa summarecon belakangan ini kalau bangun perumahan pasti bagus. yang bikin penasaran adalah nama Nagaria ? Apa dari kata Naga yang dari Liong?

Udin Salemo

Ketika Pak Azwar Anas (asli), -sebagai gubernur Sumatera Barat tahun 80-an- meresmikan sekolah SMA negeri di kampung inyong, inyong kagum dan terpesona. Kata bapak, Pak Azwar Anas itu tamatan ITB. Sejak saat itu inyong punya cita-cita pengen kuliah disana. Setelah berpuluh tahun, akhirnya inyong bisa masuk ITB lewat jalan Tamansari. Itulah kejadian sewaktu mengantar anak wisata ke kebun binatang Bandung. Dalam hati inyong bergumam, "akhirnya cita-cita waktu bocah kesampaian juga." Banyak orang hebat dilahirkan kampus terkenal itu. Ada juga dosen teladan dari sana yang hijau matanya melihat duit ton-tonan ketika jadi ketua skk migas. Akhirnya diberi ganjaran oleh majelis hakim "nyatri" tujuh tahun di Sukamiskin. Amsiong bagi beliau.

siti asiyah

Di kota kecil saya, Kediri.PT GG juga sukses membangun rawa - rawa menjadi deretan bangunan - bangunan kokoh dan megah.Menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Namun kemegahan itu ditebus teramat mahal. Kami tak bisa lagi melihat ribuan burung bangau jawa ( dulu kami menyebutnya manuk blekok ) dihabitatnya, tak ada lagi pemandangan burung jalak yang mengerubuti kerbau yang sedang ``njerum`` di rawa, tak ada lagi kura - kura atau buaya bahkan ``nyambik`` ( biawak sungai ) musnah juga tanaman `` mendong `` dan juga pandan berduri yang daunnya dahulu bisa dianyam sebagai alas atau tikar ( kami menyebutnya `` kloso`` ) dan banyak lagi kehilangan - kehilangan yang ``kemewahannya`` tak pernah akan bisa dibarter dengan kemegahan dan besarnya perputaran uang dan kekayaan. Dulu mendapatkan ikan dari mancing dan pasang bubu , nikmatnya luar biasa. Senikmat para pekerja ditanggal satu terima gaji dari perusahaannya, bedanya dulu kami semua pemilik rawa rawa-nya, sekarang sebagian dari kami mengais remah remah dari bekas rawa rawa-nya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DISCOVERY: MESIN PEMICU MIMPI DAN AMBISI PRESTASI. Sering kita lupa, inspirasi tidak jatuh dari langit. Ia harus dirancang. Di situlah pentingnya ruang seperti Summarecon Discovery. Bukan sekadar pajangan. Tapi tempat orang berhenti sejenak, lalu berpikir lebih jauh. Di sana, sejarah tidak hanya diceritakan. Ia “dihidupkan”. Perjalanan Summarecon dipadatkan jadi energi. Orang masuk biasa saja. Keluar bisa membawa kegelisahan baru: Kenapa "kita" belum mulai? Discovery itu seperti cermin. Generasi muda melihat ke depan, tapi lewat kaca masa lalu. 1) Ada peluh. 2) Ada gagal. 3) Ada bangkit lagi. Dari situ lahir perenungan. Lalu pelan-pelan berubah jadi "ambisi". Ambisi berprestasi. Yang menarik, emosi juga ikut “dipancing”. 1) Bangga. 2) Iri. 3) Tertantang. Campur jadi satu. Ini bukan museum yang membuat kaki pegal. Ini ruang yang membuat pikiran gelisah. Dan kegelisahan itulah bahan bakar prestasi. Kita butuh lebih banyak ruang seperti ini. 1) Di kampus. 2) Di BUMN. 3) Di perusahaan keluarga. Agar sukses tidak hanya diceritakan, tapi dirasakan. ### Karena mimpi besar sering tidak lahir dari ceramah. Tapi dari pengalaman yang menampar halus: “Kalau mereka bisa, kenapa kita belum?”

Taufik Hidayat

Yang menarik dari artikel ini adalah pernyataan bahwa pendiri Summarecon merupakan generasi ke 22 di Indonesia . Wah jarang sekali etnis Tionghoa yang bisa merunut silsilah atau nasab sampai puluhan generasi. Kalau satu keerasi sekita dua pilih atau tiga puluh tahun maka 22 generasi bisa 500 ata 600 tahun. Bisa jadi silsilahnya sejak kedatangan laksamana Chengdu sejak zaman dinasti Ming .. sangat menarik untuk dipelajari ..

djokoLodang

-o-- Ruang Pajang. ... Discovery terdiri dari 12 ruang pajang. Belum termasuk cafe dan toko suvenir. Salah satu ruangan penting bagi saya adalah: dipajangnya prestasi-prestasi Summareconers di situ. ... *) Bravo, p DI. Ruang-Pajang, Layak diusulkan menjadi lema baru di KBBI. Padanan kata show-room. Tapi, ruang-pajang jauh lebih tepat maknanya. (show room bisa berkonotasi lain). --0-

Sugi

Regenerasi terbaik memang harus dipersiapkan dengan terbaik pula. Reminder juga untuk diri saya pribadi sih Bah sebagai orang tua yang ikut merasa cemas dengan masa depan anak nantinya bagaimana. Regenerasi tidak pernah bisa berjalan alamiah. Dari proses 'dipersiapkan' itulah dapat dievaluasi apakah ada masalah atau tidak. Kalo ada akselerasi, seperti regenerasi kedua keluarga besar Pak Soetjipto Nagaria, malah lebih baik. Kalo tidak ya gpp berarti perlu tindakan lebih lanjut. Entah mengamanahkan kekayaan perusahan kepada anggota keluarga lain atau bahkan bisa juga mitra bisnis yang dapat dipercaya. Maka eksistensi kekayaan keluarga tetap terjaga, anak pun mendapat kebebasan memilih jalan hidupnya sendiri. Tentu dengan segala konsekuensinya yang telah disepakati sejak awal. Tapi ini hanya dugaan saya semata lho. Tidak tahu kenyataan riilnya bagaimana, apakah ada. Soalnya Abah sepertinya belum pernah cerita kisah anak yang tetap sukses karena memilih 'melenceng' dari kodrat 'kekayaan' keluarganya. Atau saya yang belum tahu saja atu mungkin lupa bahwa Abah sudah pernah cerita juga, hehe.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 155

  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Yos Os Nursal
    Yos Os Nursal
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Runner
    Runner
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • WIRA
    WIRA
  • WIRA
    WIRA
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Runner
    Runner
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Wilwa
      Wilwa
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Wilwa
      Wilwa
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Wilwa
      Wilwa
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • yea aina
    yea aina
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • mario handoko
    mario handoko
    • Wilwa
      Wilwa
    • yea aina
      yea aina
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Eksan Susanto
    Eksan Susanto
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Dacoll Bns
    Dacoll Bns
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Kalender Bagus
    Kalender Bagus
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • kambing hitam
    kambing hitam
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Dacoll Bns
      Dacoll Bns
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • mario handoko
      mario handoko
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • ahmad Tajudin umar
    ahmad Tajudin umar
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Miftakhi Zakaria
    Miftakhi Zakaria
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Prieyanto
      Prieyanto
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • WASITH channel
    WASITH channel
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Sugi
    Sugi
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • alasroban
      alasroban
  • alasroban
    alasroban
  • alasroban
    alasroban
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Kalender Bagus
      Kalender Bagus
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • nur cahyono
    nur cahyono
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Lagarenze 1301
      Lagarenze 1301
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺