Revitalisasi SMK Genjot Ekonomi Daerah dan Lulusan Siap Kerja

Rabu 13-05-2026,06:15 WIB
Revitalisasi SMK Genjot Ekonomi Daerah dan Lulusan Siap Kerja

Dirjen Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, bahwa revitalisasi kini tidak lagi sekadar memperbaiki bangunan sekolah, tapi bagaimana ekosistem pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri-disway.id/Dody Suryawan-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Program revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terbukti membawa dampak nyata, tidak hanya bagi kualitas pendidikan vokasi, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Jenderal Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa revitalisasi kini tidak lagi sekadar memperbaiki bangunan sekolah.

Pemerintah fokus membangun ekosistem pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri.

BACA JUGA:Kuasa Hukum Harap Hakim PT Jakarta Beri Keadilan untuk Kerry Riza

Menurutnya, tantangan terbesar SMK selama ini adalah keterbatasan ruang praktik.

Sekitar 60 persen SMK di Indonesia sebelumnya mengalami kekurangan fasilitas praktik, sehingga proses pembelajaran harus dibagi hingga sore hari.

Melalui program revitalisasi, pemerintah membangun ruang praktik baru agar pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dapat berjalan optimal.

Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghasilkan produk nyata yang bisa dievaluasi dan dikembangkan.

“Pendidikan vokasi harus melahirkan lulusan yang adaptif dan siap kerja,” ujar Tatang, saat bincang Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman, di Perpustakaan Nasional, Jakarta,Selasa, 12 Mei 2026.

BACA JUGA:Purbaya Tegaskan Tak Ada Lagi Tax Amnesty Tanpa Perintah Presiden

Selanjutnya, selain meningkatkan kualitas lulusan, revitalisasi SMK juga berdampak langsung pada ekonomi lokal.

Pembangunan sekolah dilakukan dengan pola swakelola yang melibatkan masyarakat sekitar. Dalam satu proyek, dapat menyerap hingga 34 tenaga kerja lokal.

Tak hanya itu, material pembangunan juga dipasok dari wilayah sekitar sekolah, sehingga mendorong perputaran ekonomi di daerah.

Saat ini, pemerintah memprioritaskan revitalisasi di wilayah tertinggal, terluar, dan terdampak bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi sekolah dengan kondisi rusak berat yang menghambat proses belajar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: