Intelejen dan Teritorial Pangan
Dari rahim pasukan seperti itulah lahir Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani ditempa dgn berbagai penugasan & tantangan alam namun tetap bersahaja--Istimewa
Berbekal dengan pengalaman tugas & pendidikan yg beraneka ragam serta tingkat tanggung jawab yg tinggi membentuk karakter Rizal lebih matang hadapi berbagai tantangan penugasan yg Multi dimensi & komplek namun tetap humble.
Dapat kita ibaratkan Bila infanteri adalah ujung tombak, maka zeni adalah tangan yang membuka jalan. Mereka membentang jembatan ketika sungai menghalangi.
Mereka mengais reruntuhan ketika bencana datang. Mereka menata kembali kehidupan setelah luluhlantak.
Karena itu, perjalanan Rizal tidak pernah jauh dari pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan fisil yg prima, kesabaran dan ketahanan mental.
BACA JUGA:Polda Metro Terbitkan SP3 Kasus Haksono Santoso dan Pensiunan TNI, Status Tersangka Gugur!
Ketika bertugas sebagai Pasi Intel Kodim 0201/BS Medan hingga kemudian dipercaya menjadi Dandeninteldam I/Bukit Barisan, ia belajar Intelijen Teritorial bagaiamana membaca manusia dan wilayah dalam menyikapi dinamika di lapangan. Dalam dunia intelijen, ancaman tidak selalu tampak di permukaan.
Ia seperti api kecil di bawah sekam: diam, tetapi dapat membesar sewaktu-waktu.
Namun watak zeni tetap melekat dalam dirinya. Ia dikenal sebagai sosok yang lebih suka membangun dibanding memperuncing konflik.
Bahkan ketika menjabat Dandim Batam, pendekatan teritorial yang digunakannya sering digambarkan lebih mengedepankan kolaborasi sosial dibanding sekadar pendekatan formal kekuasaan.
Jejak pengabdiannya semakin menonjol ketika menjadi Danrem 162/Wira Bhakti di Lombok. Tak lama setelah ia menjabat, gempa besar tahun 2018 mengguncang 8 Kab/ Kota Prov Nusa Tenggara Barat.
BACA JUGA:Peran TNI Kendalikan Inflasi dan Stabilitas Nasional, Ini Penjelasan Tito Karnavian
Lombok berubah menjadi lanskap luka: rumah runtuh, masjid retak, anak-anak kehilangan tempat tidur, dan ribuan keluarga hidup di tenda-tenda pengungsian.
Di tengah kekacauan itu, Rizal yang bertubuh tinggi tegap hadir bukan hanya sebagai komandan militer. Tetapi sebagai pemimpin kemanusiaan.
Ia bahu-membahu bersama Kepala BNPB saat itu, Letjen TNI Doni Monardo—seniornya dari Akademi Militer 1985—membangun kembali harapan masyarakat Lombok.
Doni Monardo (Alm) sendiri dikenal luas sebagai figur militer yang memiliki filosofi “menanam pohon sama dengan menanam harapan.” Dan semangat itu menemukan resonansinya pada diri Ahmad Rizal Ramdhani.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: