CELIOS Sentil Prabowo yang Bilang di Desa Gak Pakai Dolar, Ditawari Kuliah Ekonomi Gratis
Prabowo bilang kehidupan di desa gak pakai Dolar-Setpres-
“Bapak perlu dikasih kuliah ekonomi 101? Kami sediakan gratis kalau bapak mau,” tulis akun Celios di kolom komentar salah satu media online.
Sebelumnya, para pengamat di Podcast Dirty Vote dari mulai Bivitri Susanti, Dandhy Dwi Laksono, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira, hingga Feri Amsari membahas bagaimana kemungkinan krisis sudah ada di depan mata.
BACA JUGA:Tentara Amerika Menang Taruhan Ratusan Ribu Dolar AS Digeruduk FBI atas Penangkapan Maduro
Lalu kapan kira-kira krisis terjadi?
Direktur CELIOS Bhima Yudhistira menjelaskan Kalau kita mulai dari pertanyaan kapan krisis akan terjadi, salah satu jawabannya tergantung pada kondisi kas pemerintah.
“Masalah utama saat ini adalah cash yang sangat sempit. Sebagian dana pemerintah sudah dipindahkan ke bank-bank BUMN dan sudah beredar dalam bentuk kredit, jadi tidak mudah untuk ditarik kembali.
Di sisi lain, pasar sudah mulai kehilangan kepercayaan. Performa pasar keuangan Indonesia termasuk yang paling lemah di kawasan. Bahkan kalau dibandingkan dengan Malaysia, dalam beberapa bulan terakhir justru lebih menguntungkan. Ini menunjukkan ada masalah yang lebih dalam,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini tidak akan bisa ditahan lama. BBM dan LPG memang masih ditahan, tapi dengan kas yang terbatas, tekanan akan semakin besar.
“Ditambah lagi, ada faktor eksternal seperti pengumuman rating utang. Pemerintah bahkan melakukan pendekatan ke lembaga internasional untuk meyakinkan agar rating tidak diturunkan,” ucapnya.
BACA JUGA:Rupiah Anjlok ke Rp17.100 per Dolar AS, Airlangga Angkat Bicara
Menariknya, muncul juga tawaran pinjaman dari IMF.
Dalam sejarah, tawaran seperti ini biasanya muncul ketika kondisi suatu negara sedang tertekan.
Bukan sekadar bantuan, tapi biasanya disertai syarat restrukturisasi dan penyesuaian kebijakan.
“Kalau itu terjadi, maka yang akan disasar adalah program-program yang dianggap membebani anggaran. Ini menjadi tanda bahwa kondisi fiskal kita memang sedang tidak baik-baik saja. Masalahnya tidak hanya di fiskal. Karena kas pemerintah sempit, pembiayaan program mulai dialihkan ke perbankan. Bank-bank dipaksa ikut membiayai program pemerintah. Ini berisiko karena bisa menyeret sektor keuangan ke dalam masalah yang sama,” jelasnya.
BACA JUGA:Dolar Tembus Rp17 Ribu, Ekonom Sarankan Ini untuk Perbaikan Fiskal
Para pengamat mengatakan kalau dibandingkan dengan krisis 1998, dulu masalahnya berasal dari praktik perbankan itu sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: