Pilah Sampah dari Sumbernya, Jaga Jakarta Bersih dan Sehat

Senin 18-05-2026,10:35 WIB
Reporter: Cahyono |
Pilah Sampah dari Sumbernya, Jaga Jakarta Bersih dan Sehat

Menjaga Jakarta tetap bersih dan sehat tidak bisa dilakukan oleh satu pihak-disway.id/Cahyono-

Pemilahan sampah sebenarnya bukan hal baru bagi sebagian warga ibu kota.

Di Kemayoran, Jakarta Pusat, Bank Sampah Hijau Selaras Mandiri telah membuktikan bahwa pemilahan limbah rumah tangga bukan saja sukses menekan volume sampah, tetapi juga mampu mendatangkan nilai ekonomi.

BACA JUGA:Genjot Wisatawan, Pramono Pertimbangkan Bangun Jalur LRT ke PIK 2

Berdiri sejak 2013, bank sampah itu kini mengelola 244 nasabah aktif.

Joko Sarjono, pegiat Bank Sampah Hijau Selaras Mandiri, mengungkapkan setiap bulan nasabahnya rata-rata mengantongi Rp 100.000 hingga Rp 200.000 dari hasil menabung sampah.

Limbah organik diolah menjadi pupuk kompos, pupuk cair, hingga medium budidaya maggot. Produksi kompos dari tempat ini telah mencapai 1,5 ton per bulan.

Namun, Joko mengingatkan, antusiasme warga yang tinggi bisa mengendur jika ekosistem hilirnya tidak terintegrasi.

Menurutnya, pelaksanaan Gerakan Pilah Sampah harus terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Kelurahan, RT/RW, PKK, hingga sektor swasta seperti hotel dan kafe harus terlibat. Selain itu, kami butuh pemerintah membantu pemasaran produk kami, misalnya memasukkan pupuk kompos hasil bank sampah ke sistem e-katalog agar bisa dibeli oleh dinas-dinas terkait," tutur Joko.

BACA JUGA:CFD Rasuna Said Kembali Digelar Juni, Jam Pelaksanaan Diperpendek

Mayoritas Sampah Rumah Tangga

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan hampir separuh dari total timbunan sampah harian Jakarta merupakan sampah organik yang mayoritas bersumber dari rumah tangga.

Sementara jenis sampah non-organik masih memiliki potensi untuk didaur ulang.

"Jika memilah sampah sudah menjadi kebiasaan di tingkat hulu, maka hanya sedikit sampah residu yang perlu dibuang ke fasilitas akhir. Ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk menyelamatkan Jakarta dari darurat sampah," kata Dudi.

Langkah ini sangat krusial mengingat mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: