Pesta Babi dan Krisis Dialog di Papua
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Istimewa-
Dalam perspektif hermeneutika, makna sebuah film tidak berhenti pada narasi yang disajikan pembuatnya. Penonton juga memiliki tanggung jawab kritis untuk membaca apa yang hadir dan apa yang absen dalam teks film tersebut.
Pesta Babi berhasil membuka kesadaran publik mengenai suara masyarakat adat yang selama ini sering terpinggirkan.
Film ini penting sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan manusia dan kebudayaan lokal. Namun di sisi lain, publik juga perlu menyadari bahwa dokumenter memiliki sudut pandang tertentu yang dapat membentuk emosi kolektif secara sangat kuat.
Karena itu, solusi atas konflik di Papua tidak dapat dibangun melalui narasi saling menyalahkan. Negara tidak cukup hanya berbicara atas nama pembangunan nasional, sementara kelompok penolak proyek juga tidak cukup hanya membangun narasi resistensi tanpa membuka ruang kompromi. Yang dibutuhkan adalah komunikasi emansipatoris sebagaimana ditegaskan Habermas dan Freire: dialog yang setara, transparan, dan menghormati martabat manusia.
Pembangunan di Papua seharusnya tidak dipahami semata sebagai proyek ekonomi, tetapi juga proyek kemanusiaan dan kebudayaan. Ketahanan pangan nasional memang penting, tetapi ketahanan identitas dan hak hidup masyarakat adat juga sama pentingnya.
Jika dialog dibangun secara jujur dan partisipatif, maka pembangunan tidak harus menjadi wajah kolonialisme modern. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang bersama untuk menciptakan keadilan sosial yang mempertemukan kepentingan nasional dengan hak-hak masyarakat adat Papua.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: