Wanti-wanti SPMB 2026 di Tingkat SMP dan SMA-SMK
Program Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di tingkat sekolah dasar (SD) negeri sejauh ini masih relatif aman jika dibandigkan dengan SMP dan SMA.-Dok. Istimewa-
BACA JUGA:TKA Fleksibel di SPMB, Pemerintah Tekankan Keadilan Akses
Senada dengan Wisnu, seorang wanita paruh baya, Saqodah, sudah mempersiapkan cucunya untuk masuk ke sekolah Islam, yakni MTs Raudlatul Falah di kawasan Curug, Depok.
Pilihan ini, kata Saqodah, bukan tanpa sebab. Sekolah SMP Negeri di sekitar rumahnya sulit dijangkau. Ada SMP Negeri 18 Serua. Secara lokasi masih satu kecamatan Curug, Depok.
Hanya saja, kata dia, jaraknya masih terlalu jauh. "Nggak ada SMP negeri yang deket? Enggak ada. Kalau ada juga ya jauh," ucap Saqodah.
Lebih lanjut, Saqodah menyebut bahwa proses pendaftaran ke MTS Swasta Raudlatul Falah justru terbilang mudah dan lancar.
"Palingan dimintain berkas aja sih, paling penting Akta sama KK (Kartu Keluarga). Sekiranya keluar Rp 1.800 an lah, aslinya Rp 2 juta, duitnya dikurangi Rp 200 ribu untuk keluarga yang kurang mampu," tutur Saqodah.
Gagal Seleksi, Mental Anak Bisa Terganggu?
Kegagalan dalam seleksi masuk sekolah atau kampus tidak sekadar dimaknai sebagai “tidak lolos”. Dalam banyak kasus, hal ini menjadi pengalaman kehilangan yang kompleks bagi remaja --mulai dari hilangnya harapan, identitas diri, hingga bayangan masa depan yang telah lama dibangun.
Psikolog dari Siloam Heart Hospital, Sriana Sihombing, M.M., M.Psi, mengatakan bahwa secara klinis remaja sangat rentan mengalami tekanan psikologis setelah penolakan akademik.
“Pada fase ini, identitas diri masih berkembang, sehingga kegagalan dapat memicu krisis emosional yang signifikan,” ujar Sriana, saat dihubungi pada Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menambahkan respons awal yang umum muncul adalah stres akut. Gejalanya meliputi syok emosional, tangisan berlebih, sulit tidur, jantung berdebar, hingga kehilangan nafsu makan.
Bahkan, sebagian remaja mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala, mual, dan kelelahan ekstrem akibat tekanan psikologis.
BACA JUGA:Kabar Baik! Anak di Bawah 7 Tahun Bisa Masuk SD, Cek Syarat SPMB 2026
Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika berkembang menjadi depresi atau gangguan penyesuaian. Tanda-tandanya antara lain perasaan putus asa berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat beraktivitas, serta munculnya pikiran negatif seperti merasa tidak berguna atau mengecewakan orang tua.
“Yang sering terlewat, remaja terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan tekanan besar karena merasa harus kuat di depan keluarga,” kata Sriana.
Konflik juga kerap muncul akibat ekspektasi orang tua yang tinggi. Anak bisa merasa hanya dihargai jika berhasil, sehingga kegagalan memicu rasa bersalah dan tekanan batin. Dalam kondisi ini, komunikasi empatik menjadi kunci.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: