Terjebak Arsip: 'Negarawan di Cermin Retak'
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
Seolah-olah ia ingin membuktikan bahwa jarak dari pusat tidak mengurangi pentingnya suara, meski isi suaranya semakin tipis.
Dan di sinilah satire menemukan rumahnya. Sebab tidak ada yang lebih ironis daripada kebesaran yang mengecil oleh dirinya sendiri.
Seorang yang pernah menjadi simbol stabilitas, kini tampak seperti komentator yang tak lelah mengomentari, bahkan hal-hal yang tak perlu dikomentari.
BACA JUGA:Dari Pasar Senen ke Pasar Modal
Barangkali, jika ia mau sedikit saja menengok ke dalam, ia akan menemukan bahwa warisan tidak dibangun dari klaim, melainkan dari ketenangan.
Bahwa jasa tidak perlu diteriakkan agar diingat. Bahwa sejarah, seperti sungai, akan menemukan jalannya sendiri—tanpa perlu ditarik ke arah tertentu.
Namun hingga saat itu tiba, kita hanya bisa menyaksikan. Dengan senyum tipis, dengan sedikit geleng kepala. Sebab di negeri ini, bahkan gema pun bisa terasa seperti pidato, selama ia diucapkan dengan cukup yakin.
Dan sang mantan, tampaknya masih percaya: selama ia berbicara, sejarah belum selesai. Padahal mungkin, yang belum selesai bukan sejarah, melainkan perpisahannya dengan panggung.
By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: