Terjebak Arsip: 'Negarawan di Cermin Retak'
Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-
BACA JUGA:'Pilgrim’s Progress' Peziarah di Padang Arafah
Di sini, bayangan filusuf Hannah Arendt terasa relevan. Ia pernah mengingatkan tentang “banalitas”, bagaimana sesuatu yang besar bisa tereduksi menjadi hal remeh ketika kehilangan kedalaman berpikir.
Politik, yang seharusnya menjadi ruang kebajikan publik, bisa berubah menjadi arena kecil ketika aktornya terjebak pada detail yang tak proporsional.
Sang mantan, dalam segala kebesarannya dahulu, kini seperti terperangkap dalam detail yang menggerus wibawa itu sendiri.
Lebih jauh lagi, kita juga bisa meminjam kacamata Jürgen Habermas tentang ruang publik. Ia membayangkan ruang diskursus sebagai tempat rasionalitas diuji, argumen dipertukarkan dengan itikad baik.
Namun apa yang terjadi ketika ruang itu diisi oleh klaim sepihak yang berulang? Ia berubah menjadi gema, bukan dialog. Suara dipantulkan, bukan dipertemukan.
BACA JUGA:Kesehatan Mental Menjadi Pondasi Penting dalam Uncertainty Era
Sang mantan, yang seharusnya menjadi teladan dalam etika komunikasi, kini justru tampak larut dalam performativitas: berbicara bukan untuk menjernihkan, tetapi untuk memastikan dirinya tetap terdengar.
Ia seperti seorang aktor yang lupa bahwa lakon telah selesai, tetapi masih terus melafalkan dialog di panggung yang lampunya sudah redup.
Padahal, dalam tradisi klasik, seorang negarawan diukur bukan dari seberapa lama ia berbicara, tetapi dari seberapa anggun ia berhenti. Confucius pernah menekankan pentingnya li kepantasan dalam bertindak.
Termasuk kepantasan untuk tahu kapan mundur, kapan memberi ruang. Sebab dalam mundur yang tepat, terdapat kehormatan yang tidak bisa dibeli oleh sorotan kamera.
Namun mungkin, persoalannya bukan sekadar soal lupa mundur. Bisa jadi ini tentang kegelisahan yang lebih dalam: ketakutan untuk tidak lagi relevan.
BACA JUGA:Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan
Dalam dunia yang bergerak cepat, dilupakan terasa lebih menakutkan daripada disalahpahami. Maka dipilihlah jalan yang paling mudah: tetap muncul, tetap bersuara, meski yang dibicarakan semakin jauh dari kebesaran yang dulu melekat.
Kita pun melihat paradoks yang menarik. Dulu, ia berada di pusat kekuasaan, tempat keputusan besar diambil. Kini, ia berada di pinggiran percakapan, tetapi dengan volume yang tetap tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: