'Pilgrim’s Progress' Peziarah di Padang Arafah

'Pilgrim’s Progress' Peziarah di Padang Arafah

Di dalam lagu “Pilgrim’s Progress” dari album A Salty Dog karya Procol Harum, terdapat satu kesadaran yang sunyi namun dalam: manusia sesungguhnya adalah peziarah-dok disway-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Di dalam lagu “Pilgrim’s Progress” dari album A Salty Dog karya Procol Harum, terdapat satu kesadaran yang sunyi namun dalam: manusia sesungguhnya adalah peziarah.

Ia berjalan bukan sekadar untuk mencapai tempat tertentu, melainkan untuk memahami dirinya sendiri di hadapan sesuatu yang lebih agung daripada dirinya.

Lagu itu berbicara tentang pencarian, penyesalan, kelelahan jiwa, dan harapan untuk menemukan “rumah” spiritual yang selama ini terasa jauh.

BACA JUGA:Kesehatan Mental Menjadi Pondasi Penting dalam Uncertainty Era

Spirit itu terasa begitu dekat dengan perjalanan jutaan jemaah haji Indonesia yang setiap tahun memenuhi panggilan menuju Masjidil Haram.

Mereka datang bukan sebagai wisatawan religius, melainkan sebagai peziarah batin.

Mereka meninggalkan rumah, keluarga, jabatan, bahkan identitas sosial mereka demi memenuhi undangan suci dari Yang Maha Kuasa menuju Baitullah.

Sebagaimana tokoh dalam lagu itu yang berkata, “In vain I looked to find the promised turning”, banyak manusia menjalani hidup dengan perasaan tersesat di tengah dunia modern: mengejar kekayaan, status, dan ambisi, tetapi diam-diam merasa jauh dari “rumah” spiritualnya sendiri.

Haji menjadi titik balik dari kegelisahan tersebut. Ia bukan sekadar perjalanan geografis dari Indonesia menuju Mekkah Almukarromah, melainkan perjalanan eksistensial dari ego menuju pada ketundukan.

BACA JUGA:Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan

Puncak dari seluruh perjalanan itu adalah wukuf di Padang Arafah. Dalam tradisi Islam, wukuf bukan hanya ritual utama haji, tetapi momentum simbolik ketika manusia berdiri telanjang secara spiritual di hadapan Tuhan.

Tidak ada lagi perbedaan kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa.

Semua mengenakan kain ihram putih yang menyerupai kain kafan, seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi pengadilan terakhir.

Padang Arafah adalah metafora terbesar tentang kesetaraan manusia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait