BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen, Ini Alasannya

Selasa 09-06-2026,16:47 WIB
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen, Ini Alasannya

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei 2026-Disway.id/Bianca Khairunnisa-

JAKARTA, DISWAY.ID - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) di tengah eskalasi global yang masih tak menentu.

Kenaikan itu yakni sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen di luar Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei 2026.

BACA JUGA:Muncul Desas-Desus Pemain Pengganti Purbaya, Ujug-Ujug Chatib Basri Menghadap Prabowo Bareng Luhut

Alhasil, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility juga naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan alasan Bank Sentral itu menaikkan BI rate untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah yang melemah. Faktor lainnya adalah dampak gejolak global perang Timur Tengah yang masih berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dunia 

"RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Juni 2026. 

Alasan lain BI menaikkan BI rate yakni menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027. BI menargetkan inflasi di kisaran 1,5-3,5 persen.

Kenaikan suku bunga acuan juga bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia.

BACA JUGA:Pengrajin Tahu Tempe Terdampak, Purbaya Punya Cara Jitu Rupiah Kembali Menguat

Untuk diketahui, kenaikan BI rate ini dilakukan BI di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI. Sedianya, RDG Bulanan BI bulan ini diselenggarakan pada 17-18 Juni 2026.

Atas hal tersebut, Perry menjelaskan, sesuai undang-undang yang berlaku, BI setiap hari Selasa mengadakan RDG Mingguan untuk evaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan.

Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan pada Mei 2026, BI melihat nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan.

Di samping disebabkan gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing (valas) dalam negeri, pelemahan juga didorong aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia.

BACA JUGA:YLKI Minta Kepala BGN Baru Wujudkan Nol Kasus Keracunan MBG di 100 Hari Pertama

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: