BI Rate Naik, Analis Soroti Potensi Yield Meningkat
Bank Indonesia (BI) sendiri juga turut menjaga struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan.-Dok Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi di kisaran 5,75 persen, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Kamis (18/06) lalu kini turut menjadi sorotan banyak pihak.
Bukan tanpa alasan. Menurut Investment Analyst dan Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, sejumlah emiten kini juga turut menghadapi risiko berupa tingkat yield yang jauh lebih tinggi.
"Karena tentunya akan ada risiko repricing. Sehingga kalau misalnya nanti data ekonominya kembali berubah, ada ekspektasi kembali untuk kenaikan BI Rate atau mungkin kenaikan Fed Fund Rate," jelas Salvian kepada Disway, pada Sabtu (19/06).
Kendati begitu, Salvian juga menambahkan bahwa keputusan untuk menaikkan BI Rate ini sendiri juga diprediksi mendorong kenaikan yield di pasar modal.
BACA JUGA:Roy Suryo dan dr Tifa Siapkan Tim Pengacara, Refly Harun Ungkap Pesan Khusus dari RS Polri
"Sudah terjamin. Karena memang yield pasti bergerak duluan dibandingkan dengan pengumuman, dan bukan tidak mungkin masih mengalami kenaikan," ucap Salvian.
Diketahui, Bank Indonesia (BI) sendiri juga turut menjaga struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan.
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, keputusan ini juga sejalan dengan kenaikan BI-Rate untuk tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik.
BACA JUGA:Lirik Lagu OBH Combi Sachet Uhuk Uhuk Uhuk - Naykilla yang Viral di TikTok
Selain itu, BI juga melanjutkan pemberian insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10 persen (sepuluh persen) guna semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing, serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
"Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T)," tutup Ramdan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: