Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Moh Purwadi: Suara kiai menggema di antara dinding masjid yang tua. Jemaah mengangguk-angguk, kadang menangis, kadang tersenyum. Itulah dakwah, pertemuan langsung antara penceramah dan pendengar, antara hati dan hati.-dok disway-

Bayangkan. Seorang anak di Sumatra bisa membentuk pemahaman keagamaannya bukan dari guru ngajinya, bukan dari kitab kuning yang diajarkan kiai, melainkan dari video viral yang muncul di beranda TikTok-nya.

Pertanyaan yang diajukan bukan lagi kepada ustaz di masjid, melainkan ke mesin pencarian.

"Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian atau media sosial. Ini fenomena baru yang berpotensi berbahaya karena algoritma itu alat yang tekstual, memotong ayat tanpa konteks," tegas Masduki.

Ketika Algoritma Jadi Guru

Inilah yang disebut sebagai algorithmic religion-orientasi keagamaan yang terbentuk oleh sistem algoritma media sosial dan kecerdasan buatan.

Sebuah realitas di mana otoritas keulamaan yang selama ini menjadi rujukan umat mulai terdesak oleh sistem digital yang mengatur arus informasi.

"Otoritas ulama itu saat ini sedang terancam. Dan yang mengancam itu adalah algoritma di dalam mesin internet, di Google, di AI, dan berbagai platform lainnya," ujar Masduki.

Sosiolog Manuel Castells, dalam bukunya The Rise of the Network Society, menjelaskan bahwa kita telah beralih ke era di mana informasi adalah sumber kekuatan utama.

Masyarakat tidak lagi terorganisasi secara hierarkis dari atas ke bawah, melainkan dalam bentuk jaringan yang fleksibel dan terdesentralisasi. 

BACA JUGA:Jalan Dakwah Sang Guru Menjaga Marwah Demokrasi

Kekuasaan tidak lagi mengalir dari atas ke bawah. Ia menyebar, terfragmentasi, dan terus berubah. Otoritas tidak lagi melekat pada jabatan atau lembaga, tetapi pada siapa yang mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang dipercaya.

Ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Algoritma bekerja dengan logika yang sangat berbeda dari logika dakwah tradisional.

Algoritma tidak menilai kebenaran. Ia membaca keterlibatan. Konten yang provokatif, kontroversial, dan emosional cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi dan karenanya lebih banyak tayangan.

Sementara itu, narasi moderat yang mengusung Islam wasathiyah seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fenomena echo chamber—ruang gaung digital di mana informasi tertentu diperkuat tanpa verifikasi.

"Begitu kita membaca satu, maka akan datang lima dengan tema yang sama. Makin masif, makin dianggap kebenaran," kata Masduki, menggambarkan situasi post-truth di mana opini yang terus diperkuat algoritma bisa menggeser posisi fakta.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: