Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama
Moh Purwadi: Suara kiai menggema di antara dinding masjid yang tua. Jemaah mengangguk-angguk, kadang menangis, kadang tersenyum. Itulah dakwah, pertemuan langsung antara penceramah dan pendengar, antara hati dan hati.-dok disway-
Apakah ini kemunduran? Saya tidak yakin. Mungkin ini justru kesempatan. Kesempatan untuk menjangkau mereka yang tidak pernah datang ke masjid.
Kesempatan untuk berbicara dengan mereka yang tidak pernah mendengar ceramah. Kesempatan untuk membawa pesan kebaikan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi.
Tapi satu hal yang pasti: dakwah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Seperti yang diingatkan MUI, para juru dakwah tak bisa lagi mengandalkan pola konvensional. Dunia telah berubah. Audiens telah berubah. Sekarang giliran dakwah yang berubah tanpa kehilangan ruhnya.
Kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Pemuda di caffee itu membuka ponselnya setiap pagi.
Mungkin mereka sedang mencari hal yang sama: petunjuk, ketenangan, makna. Hanya jalannya yang berbeda.
Dan tugas kita, para dai, para ulama, para penulis, siapa pun yang merasa terpanggil adalah memastikan bahwa di jalan yang baru itu, cahaya kebenaran tetap menyala. Bahwa di tengah derasnya algoritma, pesan ilahi tetap sampai.
Bahwa di antara jutaan konten yang bersaing, ada satu yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.
Dari mimbar ke layar. Dari jemaah ke pengikut. Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan kita semua penceramah maupun pendengar, imigran digital maupun native, adalah para perantau di dalamnya, mencari jalan pulang bersama.
by: Moh Purwadi - Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: