Soal Pro Kontra Tempo dan Agrinas yang Jadi Sorotan, Pengamat Media Massa Bilang Begini
Pengamat media massa dari Budi Luhur University, Prof. Dr. Umaimah Wahid---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Masih soal polemik yang melibatkan Tempo Media Group dan PT Agrinas Pangan Nusantara yang hingga kini menjadi perhatian publik.
Semula perdebatan mencuat setelah beredarnya surat penawaran kerja sama komunikasi strategis atau advertorial dari divisi bisnis Tempo di tengah pemberitaan kritis redaksi mengenai tata kelola program Koperasi Desa Merah Putih yang dijalankan Agrinas.
Situasi tersebut memunculkan diskusi mengenai batas yang jelas antara aktivitas bisnis perusahaan pers dengan independensi ruang redaksi dalam menjalankan fungsi jurnalistik.
Pengamat media massa dari Budi Luhur University, Prof. Dr. Umaimah Wahid, menilai polemik ini menjadi pengingat penting bagi industri media agar tetap menjaga prinsip objektivitas di tengah tuntutan bisnis.
"Ya menurut saya, ya ini mengkhawatirkan ya. Ya kalau dalam pemahaman saya, media itu susah netral sebenarnya. Apalagi ketika sudah punya relasi dengan kekuasaan dan juga dengan pengusaha," kata Umay, sapaan akrabnya, saat di Jakarta, Minggu 26 Juli 2026.
Ia mengingatkan bahwa hubungan media dengan berbagai pihak, termasuk kalangan bisnis maupun kekuasaan, harus dikelola secara profesional agar tidak menimbulkan persepsi adanya konflik kepentingan.
"Jangan sampai kepentingan komersial atau nilai kepentingan ekonomi itu menghancurkan netralitas media atau setidaknya objektivitas media untuk memenuhi hak-hak publik, informasi terhadap publik," imbuhnya.
Kepentingan Komersial Tidak Boleh Mengalahkan Objektivitas
Umaimah menegaskan bahwa kepentingan ekonomi perusahaan media tidak seharusnya mengorbankan kualitas pemberitaan maupun hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang objektif.
Menurutnya, etika jurnalistik harus tetap menjadi pedoman utama dalam setiap proses produksi berita sehingga kepercayaan publik terhadap media tetap terjaga.
Ia juga menyoroti citra Tempo yang selama ini dikenal sebagai media dengan karakter pemberitaan kritis dan independen.
Karena itu, munculnya polemik tersebut dinilai memunculkan ekspektasi tinggi dari masyarakat terhadap konsistensi penerapan prinsip independensi.
"Ironinya adalah selama ini Tempo mem-branding diri mereka sebagai media yang kritis, yang independen dan lain sebagainya. Ternyata ketika ada seperti ini kan ada kepentingan juga di balik itu yang cukup mengejutkan. Dan ini sangat disayangkan," terangnya.
Meski demikian, Umaimah mengakui bahwa perusahaan pers saat ini juga dituntut mampu menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tantangan industri media yang semakin kompetitif.
Namun, menurutnya, kebutuhan memperoleh keuntungan ekonomi tetap harus berjalan beriringan dengan penerapan etika jurnalistik dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: