Gempa M7,7 Guncang Flores, Pakar ITB Ingatkan Waspada Gempa Susulan dan Risikonya
Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano.-Dok/Istimewa-
"Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi," ujarnya.
Prof. Irwan menjelaskan, tingginya tsunami pada 1992 turut dipicu oleh longsoran bawah laut pascagempa.Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi pada gempa kali ini.
"Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, yang dulu 7,9 sekarang 7,7, lokasinya pun berdekatan tidak sampai 40 kilometer, tetapi tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami tahun 1992," jelasnya.
Kawasan Flores Back Arc memang memiliki riwayat gempa besar. Menurut Prof. Irwan, wilayah ini pernah mengalami gempa M6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa dahsyat di utara Lombok pada 2018."Kalau kita ingat tahun 2018 misalnya, di utara Lombok, itu pun terjadi retakan gempa besar di atas magnitudo enam," ujarnya.
Terkait potensi gempa susulan, Prof. Irwan mengingatkan bahwa magnitudo gempa susulan cenderung menurun seiring waktu, tetapi kewaspadaan tidak boleh berkurang. Ia mencontohkan pengalaman gempa Lombok 2018 yang melibatkan segmen-segmen berdekatan dan memicu rangkaian gempa besar.
"Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan," jelasnya.
Dampak kerusakan mulai terlihat di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Nagekeo, ratusan rumah warga rusak, demikian pula gedung pemerintah, tempat ibadah, dan fasilitas umum.
Kepala Pelaksana BPBD Nagekeo, Remigius Djago, mengatakan kerusakan hampir merata di seluruh desa. "Kerusakan hampir merata di semua desa, dan belum diidentifikasi tingkat kerusakannya," ujarnya.
Para pengungsi dan pasien rumah sakit dilaporkan membutuhkan tenda darurat."Karena ada potensi tsunami masyarakat langsung mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih tinggi," kata Remigius.
Dampak guncangan juga dirasakan hingga ke Nusa Tenggara Barat. Di Kota Bima, satu unit rumah mengalami rusak sedang, dinding Gudang Bulog rusak sehingga karung beras berjatuhan, dan plafon Masjid Hotel Mutmainnah mengalami kerusakan."Berdasarkan hasil pendataan awal, terdapat satu unit rumah mengalami rusak sedang di wilayah Rabangodu Selatan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Bima, A Faruk.
Prof. Irwan menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap infrastruktur strategis seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan gedung pemerintahan. Kombinasi magnitudo besar (M7,7), kedalaman dangkal (10-15 kilometer), dan lokasi yang dekat dengan pemukiman meningkatkan potensi kerusakan signifikan. Ia juga menyebut faktor amplifikasi tanah dan kualitas bangunan sebagai penentu tingkat kerusakan.
"Kalau kita melihat sekilas lokasi, magnitudonya, kemudian kedalamannya, lokasi dengan kota, kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis," ujarnya.
"Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, selain juga fasilitas pemerintahan." pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: