Semester I 2026, UCID Cetak Laba Rp158,62 Miliar dan Pendapatan Rp4,44 Triliun
Pada semester dua tahun 2026, UCID bertujuan untuk ekspansi berkelanjutan tanpa menghentikan momentum pertumbuhan. -Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Kode Saham BEI: UCID), produsen terkemuka produk perawatan bayi, pembalut wanita, perawatan kesehatan/popok dewasa, serta makanan dan toiletries hewan peliharaan, mengumumkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode Semester I-2026.
Perseroan berhasil mencatatkan pemulihan operasional dan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun 2026.
BACA JUGA:2 Kali Operasi Katarak Ditanggung JKN, Penglihatan Arbai Kembali Jelas
Pemulihan Kinerja Keuangan yang Solid
Selama semester I-2026, Perseroan membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp4,44 triliun, tumbuh 4,1% dibandingkan Rp4,27 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Kenaikan ini juga ditopang oleh pertumbuhan penjualan domestik yang mencapai Rp4,02 triliun dan penjualan ekspor Rp423,45 miliar.
Melalui efisiensi operasional yang optimal, Perseroan berhasil mencatatkan laba operasi sebesar Rp116,362 miliar, berbalik positif dari posisi rugi operasi sebesar Rp2,293 miliar pada semester I-2025.
BACA JUGA:Sekretariat DPRD Jabar Matangkan Persiapan Rapat Paripurna HUT ke-81 Provinsi Jawa Barat
Secara keseluruhan, UCID sukses mencatatkan pemulihan kinerja (turnaround) yang signifikan dengan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp158,62 miliar pada semester I-2026, berbalik positif dari posisi rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,15 miliar.
Pemulihan fundamental ini turut mendapat respons positif dari pasar modal. Harga saham UCID menguat sekitar 11,8%, bergerak naik dari Rp372,00 per saham pada akhir Juni 2026 menjadi di atas Rp410,00 per saham pada awal Agustus 2026.
Penguatan harga saham tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kinerja fundamental Perseroan mendukung pemulihan profitabilitas Perseroan dan telah memperoleh respons positif dari pasar.
Tren tersebut berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap keberlanjutan pemulihan kinerja Perseroan ke depan.
BACA JUGA:Tak Hanya Indonesia, Ini Daftar Negara Hadapi Ancaman Karhutla di Musim Kemarau
Namun demikian, pergerakan harga saham juga tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar modal secara keseluruhan, sentimen sektor, serta faktor eksternal lainnya, sehingga perkembangan kinerja saham perlu terus dipantau sejalan dengan konsistensi pencapaian kinerja Perseroan pada periode berikutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: