Seniman di SBY Art Community Bicara Soal AI: Tak Bisa Dilawan, tapi Manusia Tetap Punya Peran
Hal tersebut mengemuka dalam Artist Talk bertajuk “Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration” yang menjadi bagian dari pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” di Selasar Galeri Emiria So--Disway
JAKARTA, DISWAY.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut menjadi perhatian para seniman di tengah semakin pesatnya perkembangan teknologi digital.
Hal tersebut mengemuka dalam Artist Talk bertajuk “Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration” yang menjadi bagian dari pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” di Selasar Galeri Emiria Soenasssal, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dalam diskusi tersebut, seniman membahas bagaimana praktik plein air painting dapat menjadi ruang pertemuan berbagai budaya dan perspektif.
Namun, perkembangan teknologi, termasuk AI, juga dinilai tidak bisa dilepaskan dari kehidupan para pekerja seni saat ini.
BACA JUGA:UOB POY 2026 Dibuka, Seniman RI Berpeluang Tembus Pasar Global
Salah seorang seniman yang hadir dalam diskusi menilai keberadaan AI merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihindari.
Karena itu, seniman justru perlu belajar hidup berdampingan dengan teknologi tersebut.
Menurutnya, AI sebaiknya dipandang sebagai sebuah alat yang dapat mendukung profesi seniman visual, bukan sebagai kompetitor yang harus dilawan.
“Pada akhirnya, kita harus hidup berdampingan dengan teknologi tersebut. Semuanya kembali pada bagaimana kita melihatnya, apakah kita menganggapnya sebagai sebuah alat, sebagai kompetitor, atau bahkan sebagai ancaman,” ujarnya.
BACA JUGA:Selebriti Beraksi di Demo 'No Kings', Musisi dan Seniman Paling Dirugikan sejak Rezim Trump Jilid II
Ia memilih melihat AI sebagai alat yang dapat membantu proses berkarya. Sebab, perkembangan teknologi akan terus berjalan dan sulit untuk dihentikan.
“Bagi saya sebagai seorang seniman, pada akhirnya saya memilih untuk melihatnya sebagai alat. Sebagai alat yang bisa mendukung profesi saya sebagai seniman atau seniman visual,” katanya.
Meski demikian, ia menilai ada batas yang membuat karya manusia tetap memiliki karakter berbeda dari karya yang dihasilkan teknologi.
Dalam proses melukis, misalnya, seorang seniman tidak hanya menghasilkan gambar, tetapi juga menuangkan pengalaman, perasaan dan emosi ke dalam karya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: