Seniman di SBY Art Community Bicara Soal AI: Tak Bisa Dilawan, tapi Manusia Tetap Punya Peran

Senin 24-08-2026,21:24 WIB
Seniman di SBY Art Community Bicara Soal AI: Tak Bisa Dilawan, tapi Manusia Tetap Punya Peran

Hal tersebut mengemuka dalam Artist Talk bertajuk “Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration” yang menjadi bagian dari pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” di Selasar Galeri Emiria So--Disway

“Ketika kita membuat sebuah karya, ada perasaan yang kita tuangkan ke dalamnya. Ada proses, ada gesekan, ada emosi yang muncul dalam proses berkarya,” tuturnya.

BACA JUGA:Bawa Pesan Keberagaman dan Inklusivitas, SAFF & Co. Luncurkan KIRITHRA bersama Seniman Disabilitas

Menurut dia, AI memang mampu menghasilkan gambar dengan nilai estetika tertentu, termasuk komposisi dan perpaduan warna.

Namun, pengalaman personal yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya dinilai tidak dapat begitu saja digantikan teknologi.

“AI bisa menghasilkan gambar yang bagus secara estetika. Bisa menghasilkan komposisi dan warna yang baik. Tetapi AI tidak bisa menciptakan emosi yang ada di dalam karya tersebut,” ujarnya.

Hal serupa juga berkaitan dengan pengalaman personal dan makna yang terkandung dalam sebuah karya. Menurutnya, unsur-unsur tersebut menjadi bagian penting dalam proses kreatif seorang seniman.

BACA JUGA:Pagelaran Sabang Merauke Kembali Hadir dengan Tema Hikayat Nusantara, Libatkan 1.000 Seniman

“AI juga tidak bisa menciptakan rasa atau pengalaman personal yang melatarbelakangi sebuah karya. Tidak bisa menciptakan makna dengan cara yang sama seperti manusia,” katanya.

Sementara itu, Artist Talk tersebut juga mempertemukan sejumlah seniman dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, di antaranya Koelo Maryam, La Ode, serta Guntur Jong Merdeka yang bertindak sebagai salah satu penggerak kolaborasi.

La Ode, yang berasal dari Buton, menceritakan perjalanannya merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan seni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Ia kemudian terlibat dalam sejumlah proyek seni bersama Guntur hingga akhirnya diajak bergabung dalam pameran tersebut.

Guntur sendiri dikenal sebagai salah satu penggerak komunitas seni Jong Merdeka. Komunitas tersebut lahir dari geliat komunitas street art pada era 2000-an dengan semangat menggali kembali identitas dan tradisi lokal Indonesia.

Menurut Guntur, nama Jong Merdeka terinspirasi dari berbagai organisasi pemuda pada masa lalu, seperti Jong Java, Jong Sunda dan Jong Sumatra.

“Jong berarti pemuda atau anak muda, sedangkan Merdeka ya merujuk pada kemerdekaan,” jelasnya.

BACA JUGA:Siangnya Anggota Polisi Sebut Seniman Itu Murahan, Malamnya Langsung Minta Maaf, Netizen: Semakin Tidak Waras

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait