El Niño Kembali, Kini Rupiah yang Diuji
Steffy Jeslyn, Research Analyst, PT Infovesta Utama-Istimewa-
Ketika panen dalam negeri tidak mencukupi, volume beras impor pun melonjak, sementara harga minyak sawit mentah (CPO) cenderung naik dalam jeda waktu seiring dengan mengetatnya pasokan regional.
BACA JUGA: Gerindra Balik Sentil Budi Arie soal 2029: Cuma Dia yang Tahu Maksudnya!
Menariknya, seluruh transmisi ini tidak berdampak langsung pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara agregat.
Tidak ada hubungan historis yang Andal antara tahun El Niño dan pelemahan indeks menyeluruh.
Dampaknya bergerak melalui jalur yang lebih sempit, yaitu tekanan inflasi pangan mempengaruhi kalkulasi BI, lalu respon suku bunga mempengaruhi nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Di pasar saham, efeknya bersifat sektoral.
Saham perkebunan dan komoditas berpotensi memperoleh sentimen positif, sementara saham konsumen primer dan utilitas lebih sering menyerap tekanan margin.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Anjlok Rp18 Ribu, Cek Daftar Terbarunya
Meski polanya berulang, kekuatannya berbeda antar periode, seperti terangkum pada tabel berikut.
|
Indikator |
El Niño 2015-16 |
El Niño 2023-24 |
El Niño 2026 |
|
Inflasi umum |
3,35% (2015), 3,02% (2016) |
2,61% (2023) |
Terjaga, risiko sekunder |
|
Inflasi inti |
3,95% (2015), 3,07% (2016), di atas inflasi umum |
1,80% (2023), permintaan lemah |
Bukan sumber tekanan utama |
|
Sinyal harga beras |
Penggilingan naik 5% hingga 9% yoy (akhir 2015) |
Eceran naik 19,12% yoy (Okt 2023), andil 0,53 pp |
Rekor CBP ±5,25 juta ton, tanpa impor baru |
|
Tumpuan tekanan pasar |
Harga pangan, subsidi diredam dan impor |
Harga pangan, diredam permintaan lemah |
Kurs dan suku bunga, BI naik 100 bps menjadi 5,75% |
Sumber: BPS, BI, BMKG, Bulog, diolah Infovesta
Episode 2009-10 lebih bersifat peristiwa harga dibandingkan peristiwa keluaran.
Inflasi tahun 2010 sempat menembus 6,96%, di atas target BI 4% hingga 6%, namun ekonomi tetap tumbuh 6,1% dan inflasi mencapai 3,79% pada tahun 2011.
Pada tahun 2015-16 inflasi umum terjaga karena kebijakan subsidi dan koordinasi waktu impor, bukan karena permintaan yang lemah, terlihat dari inflasi inti yang justru di atas inflasi umum.
Sebaliknya pada tahun 2023-24, inflasi umum rendah karena permintaan domestik memang lemah, tercermin dari inflasi inti yang hanya 1,80% pada akhir tahun 2023.
BACA JUGA: Pigai Tantang Budi Arie Tarung Fair di Pemilu 2029: 'Kami Juga Petarung'
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: