El Niño Kembali, Kini Rupiah yang Diuji
Steffy Jeslyn, Research Analyst, PT Infovesta Utama-Istimewa-
Tahun 2026 kembali menunjukkan perubahan, namun ke arah yang tidak biasa.
Dari sisi pangan, Indonesia memasuki siklus kali ini dari posisi terkuatnya.
Cadangan Beras Pemerintah mencapai rekor sekitar 5,25 juta ton per Agustus 2026, sepenuhnya dari produksi domestik tanpa komitmen impor baru (Bulog).
Kondisi ini berpotensi mengurangi efek inflasi pangan dibandingkan tahun 2023.
Namun bukan berarti dampak El Niño hilang, dampaknya hanya berpindah jalur.
BACA JUGA: IHSG Terpuruk 0,60 Persen ke 6.462,73, 4 Saham Ini Jadi Rekomendasi Buy Analis
Tekanan pada rupiah tahun ini lebih dulu hadir dari faktor di luar El Niño, yaitu gejolak pasar global dan perubahan kepemimpinan BI pada pertengahan tahun.
El Niño turut menambah beban lewat ekspektasi inflasi pangan yang berpotensi meningkat seiring puncak kemarau.
BI yang memulai tahun 2026 dengan kecenderungan pelonggaran akhirnya berjanji arah, menaikkan suku bunga kumulatif 100 basis poin sejak Mei menjadi 5,75% demi mempertahankan rupiah.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun ikut naik dari kisaran 6,6% pada awal tahun ke sekitar 7,1% pada pertengahan Agustus.
Dengan demikian, uji ketahanan (stress test) pasar kali ini bekerja pada nilai tukar dan suku bunga, dengan harga pangan sebagai risiko sekunder. Komposisi ini berkebalikan dengan dua episode pembanding sebelumnya.
BACA JUGA: Festival AHU Akan Hadir di Bandung, Permudah Warga Urus Layanan Hukum lewat Festival di Bandung
Bagi investor, indikator yang relevan bukanlah peta curah hujan, melainkan keputusan dan arah kebijakan BI, pergerakan nilai tukar rupiah, rilis inflasi bulanan harga bergejolak dari BPS, serta posisi cadangan beras dari Badan Pangan Nasional.
Eksposur saham sebaiknya tetap dilihat per sektor, bukan pada level indeks, sementara imbal hasil obligasi dan nilai tukar rupiah menjadi titik transmisi paling langsung yang layak mendapat perhatian lebih.
Kembalinya El Niño pada tahun 2026 bukan sekadar meredanya guncangan inflasi pangan tahun 2023.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: