Intip Rahasia Kualitas B50, Pertamina Gunakan Inline Blending Modern di 120 Terminal BBM

Jumat 28-08-2026,19:04 WIB
Intip Rahasia Kualitas B50, Pertamina Gunakan Inline Blending Modern di 120 Terminal BBM

Fasilitas tangki timbun dan sistem perpipaan New Gantry System milik Pertamina Patra Niaga saat proses blending FAME dan Solar untuk distribusi B50.-Dok. Bakom RI-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen memastikan kesiapan infrastruktur blending dan distribusi B50 untuk mendukung program pemerintah dalam menggantikan bahan bakar kendaraan berbasis fosil dengan bahan bakar baru terbarukan.

Biodiesel B50 adalah program yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto yang mengatur penggunaan bahan bakar solar ramah lingkungan dengan komposisi campuran 50% minyak kelapa sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50% solar fosil. Bahan bakar jenis B50 ini mulai diluncurkan dan didistribusikan secara bertahap oleh Pertamina sejak 1 Juli 2026.

Direktur Optimasi Hilir & Distribusi Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, mengatakan Pertamina terus memperkuat kesiapan fasilitas dan infrastruktur, pengendalian mutu produk hingga aspek keselamatan untuk menjaga keandalan pasokan energi untuk masyarakat.

BACA JUGA:Canter Teruji Gunakan Biodiesel B50, Mitsubishi Fuso dan Kementerian ESDM Perkuat Keyakinan Pelaku Usaha

Pertamina dalam implementasi B50 ini pun terlibat langsung dalam proses blending, penyimpanan hingga distribusi. 

Pada tahap pertama, Hari menjelaskan, bahan FAME diterima oleh Pertamina dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) melalui tiga metode transportasi yakni kapal laut, truk atau mobil tangki, dan pipa terminal Pertamina yang lokasinya berdekatan dengan BUBBN.

Setelah proses penerimaan FAME, Pertamina akan menyimpan FAME di dalam tangki-tangki penyimpanan untuk kemudian melalui tahap pencampuran (blending).

Proses blending FAME dengan solar kemudian dilakukan melalui dua metode, sequential blending dan inline blending. Pada sequential blending, volume FAME dan Solar diatur menggunakan meter arus/ATG masing-masing produk untuk mendapatkan komposisi B50.

Sementara dalam inline blending, pencampuran dilakukan saat FAME dan Solar mengalir melalui sistem perpipaan, sehingga kedua bahan dicampur dalam proses aliran tersebut.

BACA JUGA:Prabowo Klaim B50 Bikin RI Setop Impor Solar dan Hemat Rp170 Triliun

“Ada sequential blending, jadi antara tangki solar, tanki FAME, di blending di tangki untuk menghasilkan produk biosolar B50. Ada inline blending, jadi disalurkan dari tangki solar ke tanki FAME, kemudian bertemu pada satu pipa, di situ ada mixing yang akan memastikan dia teremulsi dengan baik, sehingga menghasilkan produk B50,” jelas Hari.

Setelah proses blending, infrastruktur New Gantry System yang mampu memproses pengisian atau pemuatan B50 ke kendaraan/tangki juga telah tersedia di 11 lokasi di seluruh Indonesia. Kesiapan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina untuk mendukung proses distribusi B50 dari terminal hingga ke masyarakat.

Sementara untuk distribusi, Hari mengatakan realisasi 1 Juli sampai 20 Agustus 2026, penyaluran B50 rata-rata mencapai sekitar 73 ribu kiloliter per hari. Implementasi B50 ini hingga 19 Agustus 2026 telah mencakup 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.

Pertamina pun terus memonitor pola suplai dan distribusi B50 ini. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait