Intip Rahasia Kualitas B50, Pertamina Gunakan Inline Blending Modern di 120 Terminal BBM
Fasilitas tangki timbun dan sistem perpipaan New Gantry System milik Pertamina Patra Niaga saat proses blending FAME dan Solar untuk distribusi B50.-Dok. Bakom RI-
“Untuk proses suplai dari satu terminal ke terminal yang lain, dari satu titik ke titik yang lain, ini membutuhkan tingkat perencanaan dan realisasi yang harus tepat dan akurat agar masyarakat bisa memperoleh tepat waktu untuk kebutuhan bahan bakarnya,” imbuh Hari.
Dari sisi kesiapan, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan 40 titik serah FAME dengan safe capacity storage terminal eksisting sebesar 271.691 KL. Pertamina pun terus melakukan peningkatan kapasitas storage, penerimaan FAME, serta kesiapan armada kapal dan mobil tangki untuk memastikan distribusi B50 berjalan optimal.
BACA JUGA:Mitsubishi Fuso dan ESDM Bedah Roadmap B50, Buktikan Ketahanan Mesin Euro 4 di Sektor Komersial
Dengan komposisi 50% FAME dan 50% Solar, secara ekuivalen terdapat sekitar 36,7 ribu kiloliter FAME dan 36,7 ribu kiloliter Solar yang dibutuhkan setiap harinya.
“Kami koordinasi intens, baik itu dengan pemerintah khususnya dirjen Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) dan BUBBN,” imbuhnya.
Sementara itu, pemerintah menempatkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Program ini diharapkan mampu memberi sejumlah manfaat, mulai dari penghentian impor produk solar, penghematan devisa, peningkatan serapan CPO, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi gas rumah kaca.
Hari mengatakan dirinya optimistis bahwa program B50 menjadi penting untuk ketahanan energi Indonesia, khususnya dalam memenuhi kebutuhan solar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“B50 jauh lebih bermanfaat untuk negara kita dalam memastikan kita bisa mencukupi produk gas oil kita, khususnya solar secara mandiri. Jadi dengan kita implementasi ini, sampai hari ini kita masih terus menjaga, kita tidak melakukan impor produk solar,” kata Hari.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Hamdan Hamedan, mengatakan implementasi B50 merupakan bagian dari perjalanan panjang pengembangan biodiesel di Indonesia selama 18 tahun.
BACA JUGA:Dukung Implementasi Biodiesel B50, Motul Perkenalkan Solusi Pelumas dan Chemical Additives Terbaru
Hamdan menjelaskan, ketahanan energi merupakan bagian integral dari semangat Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional. Pendekatan tersebut dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari meningkatkan produksi energi, memperkuat kapasitas kilang, memperluas penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, hingga mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Menurutnya, implementasi B50 saat ini juga menunjukkan keberanian Indonesia dalam mengambil keputusan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“B50 adalah sebuah perjalanan panjang selama 18 tahun sampai ke titik ini, dan bagaimana Pertamina mengakselerasi ini adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan yang menentukan bahwa Indonesia bisa mandiri energi,” kata Hamdan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: