BPKN Minta Isu Keamanan BPA Galon Guna Ulang Disikapi Berdasarkan Bukti Ilmiah
Galon air minum yang sudah berusia lebih dari dua tahun dan tampak kusam ternyata masih banyak beredar di pasaran.-Istimewa-
Mufti menyampaikan bahwa konsumen tetap dapat menggunakan produk yang telah memenuhi ketentuan serta standar keamanan yang berlaku.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta memperhatikan informasi mengenai produk yang dikonsumsi. Sikap yang diperlukan, menurut Mufti, bukan panik ataupun mengabaikan persoalan keamanan pangan.
“Kami meminta masyarakat tidak panik, tetapi juga tidak lengah. Konsumen harus mendapatkan informasi yang benar agar dapat menentukan pilihan secara sadar. Pemerintah dan pelaku usaha memiliki kewajiban memastikan keamanan produk yang beredar,” tuturnya.
Sejumlah Penelitian Uji BPA pada Galon Guna Ulang
Sebelumnya, sejumlah penelitian dari para ahli di berbagai Universitas di Indonesia menguji keberadaan atau migrasi Bisphenol-A (BPA) pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon guna ulang.
Salah satu penelitian dilakukan Program Studi Kimia Universitas Islam Makassar pada 2023. Penelitian tersebut menguji migrasi BPA terhadap sejumlah sampel galon guna ulang yang berasal dari lima titik kecamatan.
Pengujian kandungan BPA dilakukan menggunakan instrumen Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, kandungan BPA dinyatakan negatif.
Penelitian berikutnya dilakukan tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang membidangi polimer atau plastik pada 2024.
Dalam penelitian tersebut, sampel yang digunakan berasal dari 10 merek AMDK galon guna ulang terkenal yang beredar di Jawa Barat. Air dari setiap galon kemudian diambil untuk dianalisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) guna mendeteksi kandungan BPA.
Hasil penelitian menunjukkan migrasi BPA masih berada di bawah ambang batas aman.
Penelitian USU hingga Unair
Penelitian mengenai BPA pada galon guna ulang juga dilakukan Kelompok Studi Kimia Organik Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2025.
Penelitian tersebut dilakukan secara independen terhadap empat merek air kemasan galon guna ulang lokal maupun nasional yang populer di Kota Medan, Sumatera Utara.
Sampel kemudian diuji menggunakan High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Hasil pengujian menunjukkan tidak terdeteksi adanya luruhan atau migrasi BPA.
Sementara itu, penelitian terbaru dilakukan Universitas Airlangga (Unair) pada 2026.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan kadar BPA yang ditemukan dalam air minum dari galon guna ulang polikarbonat masih berada di bawah batas aman.
Berdasarkan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL), risiko non-karsinogenik maupun karsinogenik akibat paparan BPA pada sampel yang diteliti juga masih berada dalam kategori aman.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: