Polemik Memanas, Kemensos Ungkap Alasan Penggunaan Desil untuk Bansos
Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) biasanya memuat sekitar 43 persen populasi, sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan berpotensi belum tercatat.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Menyikapi polemik perubahan desil dan ketepatan sasaran bantuan sosial (bansos) yang semakin ramai dibicarakan, Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali turut menegaskan bahwa peran penting desil bagi penetapan prioritas bantuan sosial (bansos).
Dalam hal ini, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Kemensos Andy Kurniawan memaparkan bahwa kebijakan Desil digunakan pada program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako bersifat targeted.
BACA JUGA:Profil dan Perjalanan Karier Kanaya Whu, Vokalis Emka 9 yang Berpulang usai Lawan Kanker
"Ketika jumlah masyarakat yang membutuhkan lebih besar daripada kapasitas program, pemerintah perlu menentukan prioritas. Caranya bagaimana? Kita ranking mulai dari yang paling tidak mampu. Itulah sebenarnya fungsi desil," jelas Andy kepada media, pada Sabtu (12/09).
Dalam menghadapi polemik ketidaktepatan desil sendiri, Andy menambahkan bahwa ketidaktepatan tersebut disebabkan oleh basis data yang belum mencakup seluruh penduduk.
Dalam hal ini, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) biasanya memuat sekitar 43 persen populasi, sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan berpotensi belum tercatat.
BACA JUGA:Dorong Literasi Keuangan, Astra Financial dan OJK Latih Para Penggerak
"Kenapa si A dapat bansos, si B tidak dapat bansos, padahal sama-sama miskin, jawabannya bisa sederhana, karena belum masuk data. Dari situ saja sudah bisa dipastikan ada potensi exclusion error," ujarnya.
Di sisi lain, hal serupa pun turut diutarakan oleh Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS, Setia Pramana.
Dalam penjelasannya, dirinya memaparkan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif kondisi sosial ekonomi, bukan kategori yang melekat selamanya pada seseorang atau keluarga.
“Desil itu urutan, ranking. Jangan dipikirkan desil satu itu kelompok yang fixed. Dia relatif terhadap kelompok pembandingnya,” ujar Setia.
BACA JUGA:Link Live Streaming Moto3 San Marino 2026, Perjuangan Veda Ega Start Posisi Belakang
Nantinya, Setia menambahkan, pemeringkatan dilakukan dengan memperkirakan pengeluaran per kapita berdasarkan karakteristik rumah tangga, seperti kondisi rumah, komposisi keluarga, akses terhadap fasilitas dasar, dan kepemilikan aset.
BPS menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT) yang terus disempurnakan dengan berbagai metode statistik dan machine learning.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: