Perombakan BUMN Era Prabowo Disorot Media Asing, Ada 1.074 Entitas Terpetakan
Kebijakan Presiden Prabowo Subianto merombak besar-besaran struktur badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia mendapat sorotan media internasional The Telegraph.--istimewa
BACA JUGA:Hutama Karya Perkuat Pendampingan Hukum untuk Kawal Penataan BUMN dan PSN
Sorotan lainnya menyangkut mandat Danantara yang lebih luas dibandingkan model sovereign wealth fund konvensional.
Selain mengejar imbal hasil investasi jangka panjang, Danantara juga diarahkan menggunakan dividen dan aset BUMN untuk mendukung agenda pembangunan nasional.
Salah satunya melalui peningkatan pengolahan bahan mentah di dalam negeri. Agenda tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
"Dan mungkin di sinilah letak inti Prabowonomics: Presiden meyakini bahwa kekayaan nasional Indonesia harus digunakan secara lebih terarah demi kemakmuran rakyatnya," papar Ibrahimov.
BACA JUGA:Prabowo Dorong Efisiensi BUMN, Sofyano: Jangan Sampai Aset Strategis Lepas dari Kendali Negara
Ibrahimov kemudian membandingkan pendekatan tersebut dengan pengalaman Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang pernah menggunakan peran negara serta pengorganisasian modal untuk mendorong industrialisasi pada fase pertumbuhan ekonomi mereka.
Ia secara khusus menyinggung Korea Selatan di era Presiden Park Chung-hee. Ketika itu, pemerintah menggunakan rencana pembangunan ekonomi dan dukungan negara untuk mendorong perusahaan yang kemudian berkembang menjadi konglomerasi besar atau chaebol.
Dengan pendekatan tersebut, Ibrahimov menilai mandat luas Danantara tidak otomatis dapat dianggap menyimpang dari fungsi sovereign wealth fund.
BACA JUGA:Prabowo Usulkan Peradilan Khusus BUMN, Ini Respons DPR
Lebih lanjut Ibrahimov menyampaikan bahwa model itu dapat dilihat dalam konteks strategi negara untuk mendorong transformasi ekonomi.
"Keberhasilan tidak mungkin diraih tanpa risiko ataupun pilihan-pilihan yang sulit," ucap Ibrahimov.
Ia menilai inti “Prabowonomics” adalah keyakinan bahwa kekayaan nasional harus digunakan secara lebih terarah agar masyarakat menjadi lebih produktif.
Danantara disebut menjadi instrumen untuk menggerakkan neraca keuangan negara bagi kepentingan masyarakat sebagai pemilik kekayaan negara.
Pada akhirnya, Ibrahimov menyebut restrukturisasi tersebut sebagai eksperimen ekonomi besar yang hasilnya masih harus dibuktikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: